**Menemukan Hakikat Ashabul Kahfi: Perjalanan Meniti Diri Menuju Makrifatullah**
**Pendahuluan**
Kisah Ashabul Kahfi atau "Para Penghuni Gua" telah lama dikenal sebagai narasi sejarah tentang sekelompok pemuda yang tertidur selama ratusan tahun demi mempertahankan keimanan mereka. Namun, dalam sebuah ceramah mendalam di kanal YouTube **"Ngaji Rasa"**, narasumber **Syaiful Karim** membedah kisah ini melampaui batas sejarah dan geografi. Beliau mengajak audiens untuk melihat kisah tersebut sebagai sebuah metafora spiritual yang relevan bagi setiap manusia di zaman apa pun yang ingin mencapai *makrifatullah* atau pengenalan sejati kepada Allah. Pembahasan ini tidak hanya menantang pemahaman konvensional kita mengenai situs fisik, tetapi juga menawarkan peta jalan bagi siapa saja yang ingin menemukan jati diri melalui pintu batiniah.
**Pembahasan Utama**
**Ashabul Kahfi sebagai Simbol Perjalanan ke Dalam Diri**
Syaiful Karim menegaskan bahwa klaim mengenai lokasi fisik gua Ashabul Kahfi di Yordan tidak memiliki kaitan langsung dengan hakikat yang dimaksud dalam Al-Qur'an. Secara provokatif namun filosofis, beliau menjelaskan bahwa "Gua" yang dimaksud sebenarnya adalah diri manusia itu sendiri. Dalam dialek Jakarta, kata "gua" bermakna "saya", dan inilah kunci untuk memahami bahwa Ashabul Kahfi adalah siapa saja yang berani meniti jalan ke dalam batinnya. Menjadi Ashabul Kahfi berarti menjadi pemuda yang ingin beriman dengan cara "masuk" ke dalam guanya sendiri untuk menemui Sang Pencipta.
**Makrifatullah: Puncak Tauhid dan Salat yang Hakiki**
Awal dari agama adalah mengenal Allah (*makrifatullah*). Menurut Syaiful Karim, perintah salat dalam Al-Qur'an baru bisa benar-benar dilakukan jika seseorang telah mencapai tingkat tauhid tertinggi, yaitu *la ilaha illa ana* (tidak ada Tuhan selain Aku), di mana terjadi manunggal atau penyatuan batiniah. Beliau menjelaskan bahwa pengalaman spiritual Nabi Musa dan Nabi Yunus adalah contoh nyata dari pelepasan dualitas—benar-benar melepaskan "terompah" atau konsep baik-buruk dan cinta-benci—untuk memasuki "Rumah Suci" yang sesungguhnya dalam diri. Ibadah seperti haji dan umrah pun kehilangan maknanya jika seseorang hanya mampu berfoto tanpa menemukan hakikat *Arafah*, yaitu kemampuan untuk benar-benar mengingat dan mengenal Allah.
**Surga dan Neraka: Realitas Psikologis, Bukan Geografis**
Dalam perspektif ini, surga dan neraka dipahami bukan sebagai tempat geografis di masa depan, melainkan kondisi psikologis yang ditentukan oleh tingkat kesadaran seseorang saat ini. Syaiful Karim memaparkan bahwa surga dan neraka adalah tempat di mana manusia masih bernapas dan melihat bumi serta langit berdiri. Ketenangan batin atau kegelisahan bergantung pada bagaimana seseorang mengelola kesadarannya. Beliau bahkan menyebutkan bahwa "keabadian" dapat dirasakan melalui jeda di antara tarikan dan embusan napas, sebuah ruang murni yang bebas dari jebakan kelahiran dan kematian.
**Keluar dari "Kampung" Kebodohan Menuju "Kota" Kesadaran**
Kebodohan dalam Al-Qur'an sering kali disimbolkan dengan "kampung", sementara kesadaran tinggi disimbolkan dengan "kota". Syaiful Karim menjelaskan bahwa untuk keluar dari kebodohan, seseorang harus berani "membunuh diri" (menanggalkan ego) dan keluar dari "kampung" atau keterbelakangan cara berpikir. Di dalam "Gua" diri yang luas tanpa batas, manusia akan menemukan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang membentang di ufuk dan di dalam jiwa mereka sendiri. Perjalanan ini membutuhkan bantuan seorang *walian mursyidan*, yaitu teman yang cerdas secara spiritual, yang mampu membimbing seseorang memasuki pintu gua batiniah dan mencapai kesadaran tertinggi.
**Rangkuman Detail / Intisari**
* **Hakikat Gua:** Gua Al-Kahfi bukanlah sekadar situs fisik di Yordan, melainkan simbol bagi diri manusia (*gua/saya*) sebagai tempat berlindung dan menemukan jati diri.
* **Makna Ashabul Kahfi:** Siapa pun di setiap zaman yang meniti jalan ke dalam batin untuk mencari Allah adalah Ashabul Kahfi.
* **Tauhid Sejati:** Mencapai tingkat kesadaran *la ilaha illa ana*, di mana identitas diri fana dan yang tersisa hanyalah Allah.
* **Simbolisme Waktu:** Tidur selama 300 tahun dan 9 tahun melambangkan proses transformasi spiritual dan penyatuan nurullah, nur Muhammad, serta nur insan.
* **Perjalanan Spiritual:** Berpindah dari "kampung" kebodohan menuju "kota" kesadaran dengan cara menanggalkan dualitas dan persepsi pikiran.
**Penutup**
Kisah Ashabul Kahfi mengajarkan kita bahwa perjalanan spiritual yang paling nyata bukanlah perjalanan melintasi benua, melainkan perjalanan menembus lapisan-lapisan diri sendiri. Pesan utama dari pembahasan ini adalah ajakan untuk berhenti menyembah Tuhan berdasarkan persepsi atau kata orang, dan mulailah menemukan Tuhan yang nyata dalam diri melalui *isbatul yakin*. Jangan pernah membatasi kemungkinan spiritual dengan "ukuran kebodohan" kita sendiri.
Sebagai refleksi, penting bagi kita untuk tidak lagi berkata "tidak mungkin" dalam hal spiritual, melainkan bertanyalah "bagaimana caranya" kepada semesta. Dengan memasuki "gua" diri secara jujur dan mendalam, kita berpeluang menemukan kedamaian yang luas tanpa batas, sebagaimana para pemuda Kahfi yang menemukan rahmat Tuhan di tengah kesunyian gua mereka.
Sumber dari FB

Tiada ulasan:
Catat Ulasan