MAQOMAT ( TINGKATAN TINGKATAN YANG HARUS DILALUI BAGI SEORANG SALIK.
Berikut saya susunkan penjelasan tentang Maqāmāt (المقامات) — tahapan ruhani yang harus dilalui oleh seorang sālik dalam perjalanan menuju Allah , disertai dalil Al-Qur’an dan Hadis yang menjadi landasan syar‘i-nya.
Penjelasan ini saya susun bertahap, sistematis, dan aman dalam syariat, agar bisa diamalkan dengan bimbingan yang benar.
Maqāmāt adalah kedudukan ruhani yang dicapai seorang sālik dengan usaha (mujāhadah) dan latihan (riyāḍah), bukan pemberian spontan.
Berbeda dengan Aḥwāl (الأحوال) yang bersifat anugerah.
maqāmat harus ditempuh dengan riyadoh dan Mujahadah dan istiqamah.
(Urutan ini adalah yang paling masyhur dalam literatur tasawuf ( Ahlus Sunnah) adalah :
At-Taubah (التوبة) adalah Maqām Awal bagi seorang salik , Taubat dari segala dosa besar dan kecil yaitu kembali sepenuh hati kepada Allah, lahir dan batin.
Dalil Al-Qur’an :
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:
“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”
(QS. An-Nūr ayat 31)
Dalil Hadis
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
Artinya:
“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali sehari.” (HR. Muslim)
Tanpa dimulai dengan taubat, maka tidak akan tercapai perjalan nya.
Caranya:
- Merenung perbuatan daftar dosa pribadi (rahasia).
- Perbanyak membaca istighfar dengan benar benar mohon ampunan pada Allah, bukan hanya sekedar dlisan.saja.
Latihan harian :
- Setelah berwudhuk maka lanjutkan dengan sholat whuduk dan sholat taubat
- Membaca Istighfar sedikit nya 100 kali
- Ada rasa malu dan berdosa serta menyesal atas segala kesalahan pada masa lalu
- Malu untuk berbuat dosa lagi.
- Selalu Menjaga hati dari berbuat dosa sekecil apapun.
Al-Wara‘ (الورع) adalah Menjaga Diri dari segala sesuatu yang Syubhat, Maknanya Menjauhi dan tinggalkan sesuatu yang haram dan segala yang meragukan.
Dalil Hadis :
فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ
Artinya:
“Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Wara‘ adalah membersihkan jalan hati.
WARA’
Caranya latihan:
- Hindari berbuat ghibah.
- Hindari berdebat.
- Melihat tontonan yang kotor
- Hindari makan yang subahat
- Melakukan Puasa sunnah Senin Kamis.
- Merenung dan muhasabah 30 menit setiap hari.
- Akan Mudah merasa bersalah
- Cepat minta ma'af apabila bersalah.
- Benci dengan pembuatan yang tidak berguna.
Az-Zuhd (الزهد) adalah Melepaskan diri dari Ketergantungan Dunia ini.
Maknanya : Bukan meninggalkan dunia, tetapi mengeluarkan dunia dari hati.
Dalil Al-Qur’an :
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya:
“Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Āli ‘Imrān : ayat 185)
Dan Dalil Hadis :
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ
Artinya:
“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu.”
(HR. Ibnu Mājah)
Latihan nya :
- Berusaha jangan terlalu sibuk mencari dan mengumpulkan harta.
- Melatih aagar hati tidak terpengaruh dan merasa ikhlas takkala kehilangan.
- Melazimi Sedekah rutin setiap hari meskipun kecil jumlahnya.
- Mengubah cara Hidup agar lebih sederhana.
- Tidak merasa iri dengan kekayaan orang.
- Tidak merasa minder walau hidup kekurangan harta.
- Merasa cukup dengan apa yang diberi Allah
Al-Faqr (الفقر) adalah Merasa Butuh Total kepada Allah.
Maknanya : Tanamkan Kesadaran dalam diri bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.
Dalil Al-Qur’an :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ
Artinya:
“Wahai manusia, kalian semua fakir (butuh) kepada Allah.” (QS. Fāṭir ayat : 15)
Faqr adalah kaya dengan Allah, bukan miskin dunia.
,
Target: untuk meruntuhkan ego spiritual dalam diri.
Latihan nya :
- Menanamkan rasa di dalam hati jangan merasa “lebih suci daripada orang lain.
- Berusaha Melayani dan membantu orang lain takkala melihat orang lain dalam kesusahan tanpa di minta
- Meringankan tangan gotong royong untuk Membersihkan masjid dan rumah ibadah.
- Suka merendahkan diri ( Tawadhuk )
- Muncul niat ikhlas dalam segala perbuatan.
- Tidak mengharap pujian dari manusia
Ash-Shabr (الصبر) adalah tetap Konsistensi dalam Ketaatan kepada Allah.
Maknanya : Bertahan dalam taat, menjauhi maksiat, dan menerima segala takdir.
Dalil Al-Qur’an :
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah ayat : 153)
Latihan nya :
- belajar ikhlas menerima takdir
- Memperbanyak zikir
- Menahan emosi dalam situasi apapun.
- Tidak menyalahkan siapapun
- Tidak menyalahkan takdir
- Ikhlas menerima segala cobaan.
6. At-Tawakkal (التوكل)
At-Tawakkal (التوكل) adalah Menyerahkan Urusan hanya kepada Allah.
Maknanya : Usahakan segala upaya dengan maksimal, namun hati pasrah total kepada Allah.
Dalil Al-Qur’an :
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya:
“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
(QS. Ath-Thalāq ayat : 3)
Kiat bimbingan:
Ajari usaha + pasrah
Jangan biarkan murid menggantung hasil
Latihan:
Shalat Dhuha
Dzikir:
حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ
Tenang dalam krisis
Tidak panik memikirkan masa depan.
Ar-Riḍā (الرضا) adalah Menerima segala Ketentuan takdir dari Allah dengan Lapang dada.
Dalil Al-Qur’an :
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
Artinya:
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”( QS. Al-Bayyinah ayat : 
Mahabbah (المحبّة) adalah cinta yang mendalam kepada Allah, cinta yang memenuhi hati hingga Allah lebih dicintai daripada diri sendiri, dunia, dan seluruh makhluk.
Dalam tasawuf, mahabbah adalah maqām (tingkatan spiritual) yang sudah tinggi, setelah taubat, zuhud, sabar, dan tawakkal.
Mahabbah bukan sekadar perasaan, tetapi keadaan batin (ḥāl) yang melahirkan:
- ketaatan tanpa paksaan,
- ibadah tanpa beban,
- rindu tanpa pamrih.
Dalil Al-Qur’an :
يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
“Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.”
(QS. Al-Mā’idah ayat : 54)
Dalil Hadis Qudsi
وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
Artinya:
“Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)
Latihan:
- Menjaga sholat dengan khusyuk
-;Meniru adab Rasul dalam ibadah dan akhlak
- Memperbanyak shalawat sebagai pengikat mahabbah
Shalat terasa sebagai pertemuan, bukan kewajiban
Dzikir terasa sebagai kebutuhan, bukan rutinitas
Takut dosa bukan karena neraka semata
Tetapi karena takut jauh dari Allah
Memiliki dunia, tapi tidak dimiliki dunia
Kehilangan tidak membuat putus asa
Mendapat tidak membuat lalai
Lebih memilih ridha Allah daripada keinginan nafsu
Rela dikoreksi demi kebenaran
Mudah memaafkan karena hati lapang
Hati sering teringat Allah tanpa disengaja
Air mata mudah jatuh saat munajat
Kesendirian terasa lebih bermakna bersama Allah.
Ma‘rifat (المعرفة) adalah pengenalan hati yang mendalam kepada Allah, bukan sekadar tahu dengan akal, tetapi menyaksikan dengan qalbu.
Jika:
Ilmu → mengetahui tentang Allah
Iman → membenarkan Allah.
maka Ma‘rifat adalah:
menyadari kehadiran Allah dalam setiap keadaan, tanpa hijab ego dan nafsu.
Para arif berkata:
“Ma‘rifat bukan melihat Allah dengan mata, tetapi hilangnya selain Allah dari pandangan hati.”
Latihan nya :
- (Penyucian Hati) sebab Ma‘rifat hanya turun ke hati yang bersih.
- Membersihkan riya’, ujub, dengki, dan cinta pujian
- Muhasabah harian (mengoreksi diri, bukan orang lain)
- Istiqamah dalam Syari‘at, sebab Ma‘rifat tidak pernah bertentangan dengan syari‘at.
Menjaga shalat tepat waktu dan khusyuk
Menjaga halal-haram dengan hati-hati
Adab lebih didahulukan daripada karamah
- Mengenalkan zikir kepada Allah
Tahapan dzikir:
Dzikir lisan → dzikir hati → dzikir sirr
Allah disebut, lalu yang menyebut menghilang
Tinggal kesadaran bahwa Allah Maha Hadir
Fanā’ an-Nafs (Luruhnya Ego)
Ma‘rifat datang ketika:
“aku” melemah
kehendak pribadi tunduk
dan penilaian diri sirna
Ini bukan hilang wujud, tetapi:
tidak lagi menjadikan diri sebagai pusat
Saat cermin ego retak, cahaya hakikat tampak.
Tajalli (Anugerah, Bukan Usaha)
Ma‘rifat tidak bisa dipaksa.
Setelah: Riyadhah,mujahadah, dan menjaga adab adabnya :
maka Allah sendiri yang membuka.
“Ma‘rifat adalah rahmat, bukan prestasi.”
1. Hilang Klaim Diri
- Tidak merasa paling benar
- Tidak mengaku sudah sampai
- Lebih banyak diam daripada bicara tentang dirinya
- menyembunyikan maqamnya
- Tenang dalam Segala Keadaan
- Ujian tidak mengguncang batin
Nikmat tidak membuat lalai
- Hatinya stabil karena bersandar pada Allah
- Melihat Allah dalam Semua Peristiwa
Senang atau susah sama-sama dari Allah.
- Tidak banyak protes, tidak banyak mengeluh
Semua kejadian menjadi pelajaran tauhid
- Akhlaknya Semakin Lembut, Rendah hati,
Pemaaf, Mudah berkasih sayang ma
- Ibadahnya Penuh Kehadiran
Shalatnya sedikit gerak, banyak rasa
Ma‘rifat bukan untuk dibanggakan, tetapi:
untuk menambah tawadhu’
untuk menambah takut dan cinta
untuk menambah pengabdian
“Semakin mengenal Allah, semakin merasa tidak mengenal apa-apa.”
Penutup (Nasihat untuk Seorang Sālik)
Semoga bermanfaat...!
Sumber dari Syekh H.Haris Mulyono Al jawi

Tiada ulasan:
Catat Ulasan