Selasa, 21 April 2026

MURAQOBAH MUTLAQ

 

MURAQOBAH MUTLAQ
Makalah :
MURAQABAH MUṬLAQ( المراقبة المطلة)
Muraqobah mutlaq ( المراقبة المطلة )adalah salah satu tingkatan zikir dalam ajaran Thoriqat Naqsyabandiyah.
Maqom muraqobah mutlaq ini adalah puncak dari bahagian bahagian Maqom muraqobah.
Baiklah saya akan jelaskan dengan terbib agar salik dapat memahami dengan sebenarnya apa yang dimaksud dengan muraqobah mutlaq ini.
Juga disertai dengan dalil yang mendukung berikut juga latihan cara latihan nya dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. PENGERTIAN MURAQOBAH
Secara bahasa: مراقبة berasal dari kata ( راقبة ) Raqaba yang berarti:
➡ mengawasi
➡ memperhatikan dengan penuh kesadaran.
Secara istilah tasawuf: Muraqabah adalah kesadaran hati bahwa Allah senantiasa melihat, mengetahui, dan mengawasi dirinya setiap saat.
2. PENGERTIAN MURAQOBAH MUTLAK
Pengertian Muraqabah Mutlaq
Secara bahasa:
Muraqabah (مراقبة) berasal dari kata raqaba → mengawasi, memperhatikan
Mutlaq (مطلق) → tanpa batas, tanpa terikat keadaan.
👉 Maka: Muraqabah Muṭlaq ( المراقبة المطلة) adalah:
Kesadaran total dan terus-menerus bahwa Allah selalu mengawasi hamba-Nya dalam segala keadaan Baik lahir maupun batin, tanpa terputus sedikit pun.
Disebut muṭlaqah (mutlak) karena:
- Tidak terbatas oleh waktu
- Tidak terbatas oleh tempat
- Tidak bergantung dengan keadaan
Jadi hendaklah di rasakan dalam setiap keadaan, baik dalam duduk, sedang berdiri, sedang diam, dan bergerak hati tetap sadar dan merasa bahwa Allah tetap mengawasi keadaan kita.
a. Dalil tentang muraqobah mutlaq:
1. Allah Maha Mengawasi
Allah berfirman dalam Al Qur'an
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah selalu mengawasi. kalian.” (QS. An-Nisa ayat : 1)
(Ini adalah dalil utama muraqabah mutlaq)
Dalil ini adalah salah satu dalil paling kuat tentang muraqobah mutlaq, yaitu kesadaran bahwa Allah tetap mengawasi secara total, tanpa terputus, tanpa batas waktu dan tempat.
Maknanya firman Allah Ta‘ala:
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian.”
(QS. An-Nisā’ ayat : 1)
Makna Kata “رَقِيبًا (Raqīban)”
Ar-Raqīb adalah salah satu nama Allah (Asmaul Husnah)
Artinya:
dzat Yang selalu mengawasi tanpa lengah
Yang mengetahui setiap gerak, niat, bahkan lintasan hati Yang hadir tanpa terhalang oleh ruang dan waktu.
Jadi definisi Hakikat (Muraqobah Mutlaq) adalah:
Kesadaran yang terus menerus bahwa Allah tetap mengawasi kita dalam segala keadaan hal baik zahir maupun batin, yang nyata, maupun yang tersembunyi.
Dan Ini bukan hanya sekadar pemahaman ilmu, akan tetapi juga tentang keadaan hati (ḥāl).
2. Tingkatan Pemahaman dari Ayat Ini :
A. Tingkatan bagi orang Awam
Ia Merasa :
“Allah melihat perbuatanku”
Dampak nya maka :
- ia akan Takut untuk berbuat dosa meskipun dalam keadaan sendiri.
- akan selalu Istiqomah Menjaga amal amal ibadah.
B. Tingkatan orang Khawas
Ia merasa:
“Allah mengetahui isi hatiku”
Dampak nya :
- Selalu Menjaga niat hati dengan benar
- Membersihkan hati dari segala sifat riya, ujub, sombong , Takabbur dll.
C. Tingkatan Khawasul Khawas
Ia Merasa:
“Aku selalu di hadapan Allah”
Bahkan lebih dalam:
“Tidak ada selain pengawasan Allah”
Dampak nya :
- Hati selalu hadir (hudhur)
- Hilang sifat lalai (ghoflah)
- Segala gerak menjadi nilai ibadah.
📌 HUBUNGAN MURAQOBAH MUTLAQ DENGAN MAQOM IHSAN
Muraqobah mutlaq sangat dekat hubungannya dengan Maqom Ihsan. Hal ini berkaitan dengan sabda Rasullullah Saw :
Rasulullah ﷺ bersabda:
الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
Artinya:
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika tidak mampu maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.”
(HR. Muslim)
Ini adalah penjelasan langsung dari muraqobah.
“Dia melihatmu” = muraqobah awal
“Seakan-akan engkau melihat-Nya” = muraqobah tingkat tinggi.
Dalil Pendukung Lain (Memperkuat Muraqobah Mutlaq)
A. Allah dekat dan selalu bersama
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Artinya:
“Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.”
(QS. Al-Hadid ayat : 4)
B. Allah mengetahui isi hati
وَيَعْلَمُ مَا فِي الصُّدُورِ
Artinya: Dia mengetahui apa yang ada di dalam dada.”
C. Allah lebih dekat dari urat leher
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya:
Dan dia lebih dekat dari urat leher mu.
(QS. Qaf ayat : 16)
📌 RAHASIA MURAQOBAH MUTLAQ DALAM PANDANGAN TASAWUF
Para ulama sufi mengatakan:
المراقبة دوام علم العبد بعلم الله فيه
“Muraqobah adalah terus-menerusnya kesadaran seorang hamba bahwa Allah mengetahui dirinya.”
Rahasia terdalam:
Bukan hanya: Allah melihatku”
Tetapi: Aku tidak pernah keluar dari penglihatan Allah”
Bahkan pada tingkat tinggi:
Hamba lupa pada dirinya
Yang tersisa hanya: Kesadaran akan Allah
✦ Menurut Imam Al-Ghazali
Dalam Ihya Ulumuddin:
Muraqabah adalah kesadaran hati bahwa Allah mengetahui segala gerak-geriknya, lahir maupun batin.
👉 Tingkatan tertinggi:
Tidak ada satu detik pun hati lalai dari Allah
Hati selalu hadir (hudhur) bersama-Nya.
✦ Menurut Al-Junaid al-Baghdadi
“Muraqabah adalah menjaga hati agar tidak berpaling dari Allah walau sekejap.”
👉 Ini sudah masuk:
Muraqabah Mutlaq (total, tanpa jeda)
✦ Menurut Bahauddin Naqshband
Dalam Thariqat Naqsyabandiyah:
👉 Muraqabah terkait dengan:
Wuquf Qalbi (hati selalu hadir kepada Allah)
“Seorang salik harus menjaga hatinya agar selalu bersama Allah dalam setiap nafasnya.”
- CARA MELATIH MURAQABAH MUṬLAQ
Baik, kita masuk ke pembahasan yang lebih dalam dan praktis, khususnya dalam jalur Thariqat Naqsyabandiyah:
1. Latihan Praktis Muraqobah Mutlaq
A. Dasar Latihan:
- Hadirkan Kesadaran
Diambil dari dalil:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Artinya: Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.” (QS. Al-Hadid : ayat : 4)
Latihan:
- Duduk tenang ( duduk tawaruk kiri )
- Pejamkan mata
- Tarik nafas perlahan dan lepaskan perlahan
- Fokus ke dalam hati (qolbu)
- Lalu hadirkan dalam hati:
“Allah bersamaku… Allah melihatku… Allah mengetahui segala isi hatiku…”
⚠️ Ingat....!
Bukan membayangkan bentuk dan wujud Allah.
tetapi menyadari kehadiran-Nya tanpa rupa.
B. Teknik “Wuquf Qalbi” (Berhenti di Hati)
👉 Ini inti Naqsyabandiyah
Caranya :
Letakkan perhatian di dada kiri (Latifah qalbi)
Rasakan: “Allah melihat hatiku sekarang”
Jika pikiran lari: Kembalikan lagi ke hati
Inilah: Menjaga hati tetap hadir di hadapan Allah.
C. Latihan Nafas + Dzikir Sirr (Diam)
Dzikir tanpa suara:
Mula mula lazimkan berzikir
“الله ...الله...…” (dalam qolbu)
- Zikir nafas
Latihan untuk zikir nafas ini untuk merasakan kehadiran Allah dalam setiap keadaan.
Caranya:
Tarik nafas →kalimahnya الله ....
Hembuskan →kalimahnya هو....
Tujuan:
- Untuk Menghidupkan hati
- Merasakan kehadiran Allah secara terus menerus dalam setiap keadaan agar tidak lalai walaupun sehembus nafas.
( Namun hendaklah tetap dalam pengawasan dari syekh )
D. Melatih Muraqobah mutlaq dalam Aktivitas Sehari-hari.
Maka takkala melakukan aktivitas sehari hari baik waktu berjalan, berbicara, makan, bekerja maka : Rasakan dalam hati:
“Allah melihat segala perbuatanku sekarang…”
Dan di lazimkan setuap hari sampai akhirnya:
Tidak perlu diingatkan lagi ,MakaHati otomatis sadar akan kehadiran Allah.
- BUAH DARI MURAQOBAH MUTLAQ
Jika seorang salik tetap menjaga Muraqobah mutlaq maka akan menimbulkan hasil yaitu:
- ikhlasnya menjadi sempurna
- Hatinya menjadi hidup (qalbun hayy)
- Dzikir terus berjalan dalam batin.
- Terbuka hijab (kasyaf)
- Masuk ke maqam Ihsan → menuju Ma‘rifat
- Ia akan Malu untuk berbuat dosa dan maksiat walau sedang sendirian dan tidak ada yang melihat.
- Hatinya akan selalu hidup berzikir mengingat Allah dimana saja berada.
- Segala Gerak dan diamnya penuh dengan adab,
Sedikit bicara, banyak muhasabah diri , serta takut kehilangan perhatian dari Allah.
- Hubungan Muraqobah mutlaq dengan Wuquf Qolbi.
Pengertian nya sebagai berikut:
Wuquf Qolbi = adalah sebagai Alat
Muraqobah mutlaq = adalah Keadaan ( hal )
Wuquf Qolbi → latihan menjaga hati
Muraqobah mutlaq → hasil dari latihan itu
Ibarat:
Wuquf Qalbi = menyalakan lampu
Muraqobah = cahaya yang terus menyala
- Hubungan dengan (Laa Maujud Illallah)
Ini masuk wilayah ma‘rifat Tingkat tinggi.
Makna Awal: (Tiada yang wujud hakiki selain Allah)
Tahapan Pemahaman:
A. Tahap Ilmu
Mengetahui secara akal = Semua makhluk bergantung kepada Allah.
B. Tahap Dzauq (Rasa)
Dalam muraqobah: = Dunia terasa kecil dan Allah terasa dekat.
C. Tahap Syuhud
Dalam hati = Yang tampak hanya perbuatan Allah
Dalilnya :
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَى
Artinya:
“Bukan engkau yang melempar, tetapi Allah yang melempar.” (QS. Al-Anfal ayat : 17)
- Tahap Haqiqat (Laa Maujud Illallah)
👉 Bukan berarti makhluk tidak ada
👉 Tapi menyadari bahwa :
Wujud makhluk = adalah hanya wujud bayangan
Wujud Allah = adalah wujud yang hakiki
Dalam haqiqat : Yang benar-benar ada hanyalah Allah”
Rahasia Dalam Praktik Saat muraqobah mendalam:
- Hati menjadi diam
- Pikiran mulai hilang
- Ego menjadi melemah
Muncul rasa: “Aku diawasi… bahkan aku tidak ada” Ini awal: ( Fana’ )
- Tanda tanda salik yang Berhasil Latihan :
- Hati cepat kembali ingat Allah
- Tidak nyaman saat lalai
- Dzikir akan berjalan sendiri
- Muncul rasa diawasi Allah terus menerus
- Dunia menjadi terasa ringan dan akhirat lebih utama.
Penutup Hikmah
Awalnya engkau berdzikir kepada Allah…
Lama-lama engkau merasa dilihat oleh Allah…
Lalu engkau merasa bersama Allah…
Hingga akhirnya…
engkau tidak melihat apa pun selain Allah dalam hatimu.
...KESALAHAN KESALAHAN YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM MELAKUKAN MURAQOBAH MUTLAQ...
Berikut ini adalah kesalahan-kesalahan yang harus diperhatikan dalam mengamalkan Muraqabah Mutlaq, agar seorang salik tidak terjatuh dalam penyimpangan, ilusi, atau bahkan bahaya aqidah.
⚠️ 1. Mengira “Melihat Allah” Secara Fisik
Kesalahan:
Menganggap muraqabah berarti melihat Allah dengan mata kepala, Membayangkan bentuk, rupa, atau arah tertentu
👉 Ini keliru dan berbahaya (tasybih) yaitu menyerukan Allah dengan mahluk.
Dalil:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”
(QS. Asy-Syura ayat : 11)
✔ Yang benar:
“Melihat” di sini adalah melihat dengan hati (basirah), bukan mata Zahir.
⚠️ 2. Terjebak Khayalan dan Ilusi (Talbis Iblis)
Kesalahan:
Merasa mendapat “penglihatan ghaib”
Mendengar suara yang dikira dari Allah
Menganggap semua lintasan hati sebagai ilham
👉 Ini bisa menjadi tipuan syaitan
Penjelasan ulama seperti Imam Al-Ghazali:
Tidak semua “rasa” itu benar
Harus ditimbang dengan syariat
✔ Ukuran kebenaran:
- Tidak bertentangan dengan Al-Qur’an & Sunnah
- Tidak menimbulkan kesombongan.
⚠️ 3. Meninggalkan Syariat karena Merasa “Sudah Dekat”
Kesalahan paling berbahaya:
Merasa sudah sampai (washil)
Lalu meninggalkan sholat, dzikir, atau ibadah
👉 Ini penyimpangan besar
Menurut Al-Junaid al-Baghdadi:
“Jalan kami terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”
✔ Kaidah:
Semakin tinggi maqam → semakin kuat syariat.
⚠️ 4. Mengira Muraqabah = Menyatu dengan Allah (Hulul / Ittihad)
Kesalahan:
Menganggap Allah masuk ke dalam diri
Atau diri menyatu dengan Allah secara dzat
👉 Ini kesesatan aqidah
✔ Yang benar:
Kedekatan dalam muraqabah adalah:
kedekatan ilmu dan kesadaran, bukan dzat.
⚠️ 5. Memaksakan Rasa Hadir
Kesalahan:
Memaksa hati agar “harus khusyuk”
Frustrasi jika tidak merasakan apa-apa.
👉 Ini justru menutup hati
✔ Yang benar:
Muraqabah dilatih dengan:
- sabar
- bertahap
- istiqomah
⚠️ 6. Riya’ dan Merasa Lebih Tinggi
Kesalahan:
Merasa lebih dekat kepada Allah dari orang lain
Bangga dengan maqam sendiri.
👉 Ini adalah racun yang halus
✔ Tanda bahaya:
- Berani Merendahkan orang lain.
- ingin dipuji sebagai ahli tasawuf.
⚠️ 7. Mengabaikan Bimbingan Guru (Mursyid)
Kesalahan:
Belajar sendiri tanpa pembimbing
Menafsirkan pengalaman batin sendiri.
👉 Ini sangat rawan tersesat
Dalam tradisi Bahauddin Naqshband:
Mursyid diperlukan untuk:
membedakan ilham vs was-was
menjaga keseimbangan.
⚠️ 8. Mengira Lalai = Gagal Total
Kesalahan:
Saat hati lalai, merasa sudah gagal
Putus asa
✔ Yang benar:
Lalai adalah bagian dari proses
Yang penting:
kembali lagi kepada Allah.
⚠️ 9. Fokus pada Rasa, Lupa Tujuan.
Kesalahan:
Mengejar “rasa nikmat spiritual”
Bukan mencari ridha Allah
👉 Ini menjadikan muraqabah sebagai “kenikmatan ego”
✔ Yang benar:
Tujuan:
ridha Allah, bukan rasa.
Renungan (Gaya Tasawuf)
Muraqabah Mutlaq adalah jalan halus,
bukan sekadar rasa, tetapi amanah.
Banyak yang terhenti karena khayalan,
banyak yang tersesat karena merasa sampai.
Maka jagalah dirimu:
dengan syariat, dengan tawadhu, dengan guru.
Karena hakikat muraqabah bukan melihat Allah,
tetapi tidak pernah lepas dari-Nya tanpa menyekutukan-Nya.
....KESIMPULAN...
Muraqabah mutlaq adalah puncak kesadaran ruhani seorang hamba bahwa ia senantiasa berada dalam pengawasan Allah, tanpa terikat ruang, waktu, atau keadaan. Ia bukan sekadar ilmu di lisan, tetapi cahaya hidup dalam hati—yang menjadikan setiap gerak, diam, niat, dan lintasan batin selalu terhubung dengan Allah.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa ayat : 1)
Dari kesadaran inilah lahir hati yang hidup, penuh adab, dan senantiasa merasa dilihat oleh Allah dalam setiap keadaan. Muraqabah mutlaq melahirkan rasa malu kepada Allah (ḥayā’), keikhlasan yang murni, serta ketenangan batin yang dalam.
Seorang salik yang mencapai maqam ini tidak lagi beramal karena ingin dilihat manusia, tetapi karena ia selalu “melihat” Allah dengan mata hatinya. Ia menjaga lahir dan batin, karena baginya tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pandangan-Nya.
Pada akhirnya, muraqabah mutlaq menjadi jembatan menuju maqam yang lebih tinggi—di mana seorang hamba tidak hanya merasa diawasi, tetapi tenggelam dalam kehadiran Ilahi, hingga seluruh hidupnya menjadi ibadah, dan seluruh nafasnya menjadi dzikir.
Penutup hakikatnya:
“Selama engkau merasa sendiri, engkau masih jauh.....
Namun ketika engkau merasa selalu bersama-Nya,itulah awal kedekatan.....
Dan ketika engkau tidak lagi melihat dirimu,
melainkan hanya Dia itulah kesempurnaan muraqabah.
Muraqabah Muṭlaq adalah: pintu untuk menuju untuk ma’rifatullah
Awalnya: ➡ “merasa Aku diawasi Allah”
Lalu: ➡ “merasa Aku bersama Allah”
Akhirnya: ➡ “merasa Aku tenggelam dalam kehadiran Allah”

Sumber dari Haris Haris

Sabtu, 14 Mac 2026

penyakit yang tidak tampak oleh mata

 


Ada penyakit yang tidak tampak oleh mata, tidak terdeteksi oleh alat medis, tetapi perlahan menggerogoti kedalaman jiwa manusia. Penyakit itu bukan berasal dari tubuh, melainkan dari sesuatu yang lebih halus dan lebih berbahaya, yaitu ketika hawa nafsu mulai terasa manis di dalam hati. Pada awalnya ia datang seperti bisikan kecil yang tampak sepele, menawarkan kenyamanan, kesenangan, dan pembenaran bagi setiap keinginan yang muncul. Namun tanpa disadari, bisikan itu perlahan berubah menjadi penguasa yang mengendalikan keputusan, arah hidup, bahkan cara seseorang memandang kebenaran.
Ketika hawa nafsu telah menetap di dalam qalbu, ia tidak lagi terlihat sebagai sesuatu yang harus dilawan. Ia justru terasa seperti sahabat yang selalu membenarkan langkah-langkah kita. Di titik inilah manusia sering kali kehilangan kemampuan untuk melihat dirinya sendiri dengan jujur. Secara sosial ia masih tampak baik, secara psikologis ia merasa tenang, tetapi di kedalaman batin terjadi sesuatu yang sunyi namun mengkhawatirkan. Hati yang seharusnya menjadi tempat cahaya justru berubah menjadi ruang yang perlahan dipenuhi kabut keinginan.
1. Ketika kesenangan mulai terasa seperti kebenaran
Ada saat ketika seseorang tidak lagi membedakan antara apa yang menyenangkan dan apa yang benar. Hawa nafsu memiliki cara yang sangat halus untuk mengaburkan batas ini. Ia membungkus keinginan dengan logika, menutupi dorongan dengan alasan yang terdengar masuk akal. Dalam kondisi seperti ini manusia tidak merasa sedang tersesat, justru ia merasa sedang berjalan dengan sangat wajar. Inilah manisnya hawa nafsu yang paling berbahaya, karena ia tidak memaksa, tetapi membuat seseorang rela mengikuti.
2. Hati yang perlahan kehilangan kepekaan
Qalbu pada dasarnya diciptakan dengan kemampuan merasakan kebenaran. Ia dapat gelisah ketika melakukan kesalahan dan tenang ketika berada di jalan yang lurus. Namun ketika hawa nafsu terus dimanjakan, kepekaan itu perlahan memudar. Kesalahan yang dulu terasa berat kini terasa biasa saja. Pelanggaran yang dulu menimbulkan rasa bersalah kini dianggap sebagai bagian dari kehidupan. Tanpa disadari hati menjadi tumpul, seperti alat yang terlalu lama dipakai tanpa pernah diasah kembali.
3. Nafsu yang selalu meminta lebih
Hawa nafsu memiliki sifat yang tidak pernah puas. Ia seperti api yang semakin besar ketika terus diberi bahan bakar. Ketika seseorang menuruti satu keinginan, muncul keinginan berikutnya yang lebih kuat. Ketika satu ambisi tercapai, muncul ambisi lain yang lebih besar. Dalam perjalanan ini manusia sering merasa sedang mengejar kebahagiaan, padahal sebenarnya ia sedang dikejar oleh keinginannya sendiri.
4. Ilusi kebebasan yang sebenarnya adalah perbudakan
Banyak orang merasa bebas ketika dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan. Namun kebebasan seperti ini sering kali hanyalah ilusi. Ketika hidup sepenuhnya dikendalikan oleh hawa nafsu, manusia sebenarnya sedang berada dalam bentuk perbudakan yang paling halus. Ia tidak lagi dipimpin oleh kesadaran, melainkan oleh dorongan yang terus menuntut pemuasan. Ia merasa merdeka, padahal setiap langkahnya ditentukan oleh sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia kendalikan.
5. Rasionalisasi yang menenangkan hati
Salah satu kekuatan hawa nafsu adalah kemampuannya membuat manusia membenarkan dirinya sendiri. Ketika seseorang mulai merasa tidak nyaman dengan tindakannya, nafsu segera menghadirkan alasan yang tampak logis. Ia berkata bahwa semua orang juga melakukan hal yang sama, bahwa keadaan memaksa, bahwa hidup memang seperti ini. Rasionalisasi ini membuat hati terasa tenang sementara, tetapi di kedalaman batin sebenarnya sedang terjadi pengikisan kejujuran terhadap diri sendiri.
6. Ketika lingkungan ikut menguatkan nafsu
Manusia tidak hidup sendirian. Lingkungan sosial memiliki peran besar dalam membentuk cara berpikir dan cara merasakan. Ketika hawa nafsu telah menjadi sesuatu yang dianggap normal oleh masyarakat, seseorang semakin sulit menyadari bahwa dirinya sedang terseret. Hal-hal yang dulu dianggap berlebihan kini dianggap biasa. Nilai-nilai yang dulu dijaga kini dianggap ketinggalan zaman. Dalam keadaan seperti ini, hawa nafsu tidak lagi terasa sebagai penyakit, melainkan sebagai gaya hidup.
7. Hati yang penuh tetapi terasa kosong
Ironisnya, ketika hawa nafsu terus dipenuhi, hati justru sering merasakan kekosongan yang sulit dijelaskan. Seseorang bisa memiliki banyak hal yang dulu ia inginkan, tetapi tetap merasa ada sesuatu yang hilang. Kekosongan ini bukan karena kurangnya kesenangan, melainkan karena hati telah terlalu lama jauh dari kedalaman makna. Nafsu dapat memberikan rasa manis sesaat, tetapi tidak pernah mampu memberikan ketenangan yang benar-benar menetap.
8. Kesadaran yang datang dari kelelahan batin
Sering kali kesadaran baru muncul ketika seseorang mulai merasa lelah dengan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari bahwa hidup yang selama ini dijalani terasa berputar di tempat yang sama. Ada rasa jenuh yang tidak bisa dihilangkan hanya dengan menambah kesenangan baru. Di titik inilah sebagian orang mulai menoleh ke dalam, mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam qalbunya.
9. Perjuangan yang paling sunyi
Melawan hawa nafsu bukanlah perjuangan yang terlihat oleh orang lain. Ia terjadi di ruang batin yang sangat sunyi. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pengakuan sosial. Seseorang harus berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan keinginan-keinginan yang selama ini ia pelihara. Perjuangan ini terasa berat karena yang dilawan bukan musuh di luar, melainkan bagian dari diri yang telah lama terasa akrab.
10. Kembalinya hati kepada kejernihan
Walaupun penyakit ini sulit disembuhkan, bukan berarti ia tidak bisa dipulihkan. Hati memiliki kemampuan untuk kembali jernih ketika seseorang mulai berani jujur kepada dirinya sendiri. Proses ini tidak terjadi dalam satu malam. Ia tumbuh perlahan melalui kesadaran, melalui kerendahan hati, melalui keberanian untuk mengakui bahwa selama ini mungkin kita terlalu lama mengikuti sesuatu yang tampak manis tetapi sebenarnya menyesatkan. Ketika kesadaran itu muncul, hati mulai menemukan kembali arah pulangnya.
Jika suatu hari nanti kita menyadari bahwa banyak keputusan dalam hidup kita sebenarnya lebih dipimpin oleh hawa nafsu daripada oleh kesadaran, apakah kita benar-benar siap menghadapi kenyataan tentang siapa diri kita sebenarnya?
Sumber dari Suluksalik

MURAQOBAH MUTLAQ

  MURAQOBAH MUTLAQ Makalah : MURAQABAH MUṬLAQ( المراقبة المطلة) Muraqobah mutlaq ( المراقبة المطلة )adalah salah satu tingkatan zikir dalam ...