Khamis, 19 Februari 2026

MARTABAT AHDAH

 


MARTABAT AHDAH
Dalam Amalan menyucikan diri dan mengembalikan Rahsia kepada tuan Empunya Rahsia, maka seorang manusia itu haruslah meningkatkan kesuciannya sampai ke peringkat Asal kejadian Rahsia Allah swt.
Manusia harus melewati beberapa tahapan mulai Alam Insan ke Martabat Zat Allah Swt. yaitu Martabat AHDAH. Sebab itulah tugas kita Manusia mengenal Hakikat ini dan berusaha sedaya-upaya untuk mengembalikan Amanah Allah Swt tersebut sebagaimana Amalan penerimaan amanah-Nya pada peringkat awalnya.
Sesudah lahir ke dunia Manusia dihijab dengan nafsu-nafsu dan haruslah Manusia itu menyucikan kembali agar dapat menembus satu Martabat Nafsu ke satu Martabat Nafsu yang lain sampailah benar-benar tahu dengan Allah Swt.
Sesungguhnya Allah Swt dalam usaha untuk memperkenalkan diri-Nya melalui lidah dan hati, maka Allah telah mentajalikan dirinya menjadi Rahsia kepada diri Manusia.
Pada Alam Gaibul Ghaib yaitu pada Martabat Ahdah, Tahap ini dikatakan belum ada Awal dan belum ada Akhir, belum ada SIFAT, belum ada ASMA dan belum ada apa-apa satu pun jua yaitu pada Martabat ZATUL HAQ, disini telah di putuskan untuk memperkenalkan diri-Nya dan untuk diberikan tanggung jawab berat ini kepada manusia, maka ditajalikan-lah diri-Nya itu dari satu peringkat ke peringkat berikutnya hingga sampai zahirnya manusia yang berbadan Rohani dan Jasmani.
Ada pun Martabat Ahdah ini terkandung didalam ayat Qulhuallahu Ahad yaitu pada zat semata-mata dan inilah dinamakan Martabat ZAT.
Pada Martabat ini kedudukan diri Empunya Diri (Zat Al-Haq) adalah dengan DIA semata-mata yaitu dinamakan Diri Sendiri.
Pada masa ini, tiada SIFAT, tiada ASMA dan tiada AFA’AL dan tiada apa-apa, kecuali Zat Mutlak semata-mata, maka berdirilah Zat itu dengan DIA SEMATA-MATA, dan Diri Zat tersebut dinamakan Esa atau AHAD atau dinamakan KUN ZAT.
Pada peringkat yang kedua dalam proses mentajalilkan diri-Nya, Diri Empunya Diri telah mentajalilkan Diri ke suatu Martabat Sifat yaitu SABIT NYATA PERTAMA.
Pada Martabat

Sumber dari FB Makrifatullah

“Makrifatmu adalah Makrifatmu, Makrifatku adalah Makrifatku”

 


RISALAH: “Makrifatmu adalah Makrifatmu, Makrifatku adalah Makrifatku”

1. Hakikat Makrifat: inti dari kesaksian, bukan sekadar Kata
Makrifat bukan sekadar ilmu yang dipelajari, bukan pula sekadar hafalan dari kitab-kitab.
Makrifat adalah rasa hadir, kesadaran langsung, dan penyaksian batin terhadap Yang Maha Ada.
Ia seperti rasa manis.
Orang boleh menjelaskan gula seribu halaman,
namun yang belum mengecap, belumlah mengenal.
Maka makrifat bukan tentang siapa yang paling benar dalam kata,
tetapi siapa yang benar-benar mengalami dalam kesadaran yg menyentuh inti rasa.
2. Jalan yang Berbeda, Tujuan yang Sama
Setiap insan berjalan dengan jalannya sendiri:
Ada yang mengenal melalui dzikir
Ada yang melalui diam (kholwat)
Ada yang melalui cinta dan pengabdian
Ada yang melalui derita dan kehilangan
Jalan boleh berbeda, tetapi yang dituju tetap satu:
Yang Maha Esa, Yang Tidak Terbagi
Maka ketika seseorang berkata:
"Ini jalanku",
tidak berarti jalan lain salah.
Karena laut itu satu,
meski sungainya beribu-ribu.
3. Makrifat adalah bukan hny ilmu tapi juga Pengalaman Pribadi, perjalanan rohani ....
Makrifatmu adalah apa yang engkau alami dalam batinmu.....
Makrifatku adalah apa yang aku saksikan dalam kesadaranku......
Ia tidak bisa dipindahkan, tidak bisa diwariskan utuh.
Hanya bisa ditunjukkan arah, bukan dipaksakan isi....
Seperti seseorang melihat matahari terbit:
ia bisa menceritakan keindahannya,
tetapi orang lain tetap harus melihat sendiri.
Maka tidak ada gunanya memperdebatkan pengalaman batin atau perjalanan rohani..
karena hal itu tidak bisa diukur dengan logika dan rasa , orang lain.
4. Bahaya Membandingkan Makrifat
Ketika makrifat dijadikan perbandingan,
maka yang muncul bukan cahaya, melainkan ego yang halus.
“Aku lebih dalam…”
“Aku lebih sampai…”
“Aku lebih tahu…”
Padahal di hadapan Yang Maha Luas,
semua manusia tetap hamba yang tidak tahu apa-apa.
Semakin dalam makrifat seseorang,
semakin ia merasa tidak memiliki apa-apa.
Maka jika masih merasa paling paling,
berarti belum benar-benar tenggelam. Karena bergulat di pengenalan semu ...
5. Adab dalam Makrifat
Jika engkau berjalan di jalan makrifat, peganglah adab:
*Jangan merendahkan jalan orang lain
*Jangan memaksakan pengalamanmu
*Jangan mengklaim kebenaran mutlak pada dirimu
*Jangan menolak cahaya hanya karena bentuknya berbeda
Karena setiap hati memiliki cara Allah menyapa yang berbeda.
* Ada Yang satu disentuh dengan tangis,
* Ada yang lain dengan diam,
* Ada yang lain lagi dengan kehilangan.
6. Kesatuan dalam Keberagaman
Pada tingkat awal, makrifat terlihat berbeda-beda.
Namun semakin dalam, semakin menyatu.
*Di awal: “Aku menemukan jalanku.”
*Di tengah: “Semua jalan menuju Dia.”
*Di akhir: “Tidak ada jalan, tidak ada aku, hanya Dia.”
Maka perbedaan hanya ada pada permukaan,
sedangkan hakikatnya tetap satu.
*** Penutup: Kembali kepada Kesadaran Murni
* Makrifatmu adalah amanah batinmu.
* Makrifatku adalah perjalanan batinku.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan,
tidak perlu dipaksakan untuk sama.
Yang terpenting bukanlah siapa yang paling benar,
melainkan siapa yang semakin hilang ke-akuannya.
Karena pada akhirnya, makrifat bukan tentang:
“Aku mengenal Tuhan”
melainkan tentang:
“Tiada aku… hanya Dia yang nyata.”.......

Sumber dari FB  PUNCAK MA'RIFAT 

Rabu, 18 Februari 2026

MENGENAL DIRI

 


MENGENAL DIRI
Bagaimana cara mengenali diri sendiri.??
Itu adalah pintu yang hanya bisa dibuka dari dalam.
Tak bisa dijawab dengan logika, sebab yang ditanya bukan tentang yang tampak, tapi tentang yang hidup dibalik pandangan, dibalik pikiran, dibalik rasa itu sendiri.
Mengenali diri bukan berarti menghafal sifat atau memahami kepribadian, tapi menyadari siapa yang sedang hidup didalam "AKU".
Sebab dibalik nama dan rupa ini, ada sesuatu yang tak terlihat tapi terus menyaksikan. . Ruh.
Dan Ruh itulah tiupan suci dari Allah... Asal usul keberadaanmu.
Kebanyakkan manusia mengenal dunia, tapi lupa mengenal dirinya. la hafal peta bumi, tapi tersesat dalam jiwanya sendiri. la sibuk membangun citra lahir, tapi tak tahu siapa yang berdiam dibalik mata yang memandang.
“Dan pada dirimu, apakah kamu tidak memperhatikan?".
(Adz-dzariyat : 21)
Itu bukan sekedar ajakan untuk memahami tubuh, tapi untuk menyelam kedalam kesadaran, tempat dimana rahasia ilahi disimpan.
Mengenal diri sejati berarti memisahkan antara
yang sementara dan yang abadi dalam dirimu.
Tubuh berubah, usia menua, pikiran berlari-lari, perasaan berganti-ganti. Tapi ada satu yang tidak pernah berubah. ., yang menyadari semua perubahan itu. Itulah ruh.. Sisi ilahiyah dalam dirimu yang tidak mati. Tidak tua, dan tidak hilang, karena ia datang dariNya.
Ketika engkau mengamati dirimu dengan jernih, engkau akan temukan dua suara..
Satu yang berisik, penuh keinginan, membenarkan diri, .itulah Nafs.
Satu lagi yang diam, lembut, tenang dan hanya ingin kembali kepada cahaya.. Itulah Ruh.
Dan perjalanan mengenal diri adalah perjalanan menyucikan cermin jiwa, agar cahaya ruh bisa memantul sempurna tanpa tertutup debu Ego. sampai akhirnya engkau sadar " aku bukan jasadku, bukan pikiranku, bukan emosiku. Aku hanyalah amanah cahaya yang sedang menempuh perjalanan kembali kepada sumbernya ".
Pada saat itu engkau tak lagi mencari Allah diluar
dirimu, engkau menemukannya dalam setiap hembusan nafas, dalam setiap denyut kesadaran.
Karena mengenal diri adalah mengenal dia yang menitipkan kehidupan kedalam diri. Dan bila engkau sampai pada tahap itu, engkau akan mengerti bahwa seluruh pencarian ini bukan untuk menemukan siapa dirimu, tapi untuk menyadari bahwa tidak ada "aku" Selain Dia yang selalu ada.
Mengenali diri bukan sekedar tahu nama, sifat, atau kebiasaan. Itu baru lapisan luar. Mengenali diri sejati berarti menyelami apa yang hidup didalam dirimu.. yang berpikir, yang merasa, yang takut, yang rindu, yang mencari makna dibalik setiap peristiwa.
Dirimu ada tiga lapisan.
- JASAD (tubuh).. yang lahir, bergerak, dan akan kembali ke tanah.
- NAFS (jiwa).. yang bergejolak antara kebaikan dan keinginan.
- RUH (cahaya Allah) yang suci, tenang, dan menjadi jembatanmu kepadaNya.
Ketika engkau mulai sadar bahwa bukan jasad yang berpikir, tapi ada sesuatu didalam yang menyaksikan pikiranmu.. disitulah awal pengenalan diri. Saat engkau bisa melihat amarahmu tanpa larut didalamnya, atau mengamati egomu tanpa harus membenarkannya, disitulah ruhmu mulai mengambil alih dari nafs.
Mengenali diri berarti menyaksikan segala sesuatu dalam dirimu dengan jujur tanpa menolak.. melihat kelemahan tanpa benci, mengakui dosa tanpa berputus asa, dan memahami bahwa semua Itu hanyalah jalan untuk kembali kepadaNya..
Dan saat engkau semakin mengenal siapa dirimu... makhluk yang lemah, fana, dan tak memiliki apa-apa.., maka engkau akan semakin mengenal siapa Allah.. yang Maha Kuat, Maha Kekal, dan Maha Memiliki segalanya.

Jadi, mengenal diri bukan tujuan akhir, tapi jembatan menuju pengenalan kepada Allah. Sebab ketika engkau benar-benar mengenal siapa yang bersemayam dihatimu, engkau akan tahu... bahwa diri ini hanyalah cermin tempat Allah menampakkan cahayaNya.

Sumber dari Val Arrow

Taatilah Allah, niscaya engkau akan melihat keajaiban dalam hidupmu



 Taatilah Allah, niscaya engkau akan melihat keajaiban dalam hidupmu

Bismillahirrahmanirrahiim
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad
Wa ala alli sayyidina Muhamad
Assalamu'alaika ya sayyidi ya Rosulullah
Assalamu'alaika ya sayyidinal mahdi ya Khalifatullah
Assalamu'alaika ya sayyidinal nabi khidir Balya bin malkan
Ya Robbi sholli ala sayyidina Muhammad
Waftah minal khoiri kulla mughlaq
YAA HAYYU YAA QOYYUM
YAA MALIQUL HAQQUL MUBIIN
YAA INNAKA WALYATALATHOF
KUN FAYAKUN

Sallamun qaulam min robbir rohiim
Sallamun qaulam min robbir rohiim
Sallamun qaulam min robbir rohiim
Aamiin ya rabbal allamin

Semoga dengan kekuatan,kekuasaan dan kebesaran dan keridhoan Allah SWT
Apa yang tidak mungkin bagiku menjadi mungkin
Apa yang selama ini tidak saya tau Menjadi tau
Apa yang selama ini susah untuk saya lihat menjadi mudah terlihat
Apa yang selama ini susah dan samar saya dengar menjadi muda dan jelas terdengar
Apa yang selama ini sulit saya rasakan menjadi lebih nyata saya rasakan

Semoga yang gelap di terangkan
Yang sulit di mudahkan
Yang jauh di dekatkan
Yang sepi di ramehkan
Yang sakit di sembuhkan
Bathin dan intuisi di pekakan
Aamiin ya robbal allamin

Semoga bermanfaat
Semoga tercurah rahmat
Semoga mendapat syafaat
Semoga terkhobul hajat

MARTABAT AHDAH

  MARTABAT AHDAH Dalam Amalan menyucikan diri dan mengembalikan Rahsia kepada tuan Empunya Rahsia, maka seorang manusia itu haruslah meningk...