Jumaat, 20 Februari 2026

Detik-Detik Terakhir Ali bin Abi Thalib di Bulan Ramadhan

 


Detik-Detik Terakhir Ali bin Abi Thalib di Bulan Ramadhan
Malam itu terasa berbeda di kota Kufa. Udara Ramadhan tenang, namun ada firasat yang tak biasa. Di rumah sederhana itu, Amirul Mukminin, Ali ibn Abi Talib, bersiap menyambut fajar seperti malam-malam sebelumnya.
Ramadhan selalu menjadi bulan yang beliau cintai. Bulan Al-Qur’an. Bulan doa. Bulan air mata dalam sujud.
Namun Ramadhan tahun itu… adalah yang terakhir baginya.
_______________________________________
•> Firasa t dan Ketenangan
Beberapa hari sebelumnya, Ali sering berkata bahwa ajalnya sudah dekat. Wajahnya tetap tenang. Tidak ada ketakutan. Hanya kerinduan.
Beliau memperbanyak ibadah di malam-malam Ramadhan. Sujudnya panjang. Doanya dalam. Ia tahu hidupnya dihabiskan untuk perjuangan—dan ia ingin menutupnya dalam ketaatan.
Di malam ke-19 Ramadhan tahun 40 Hijriah, beliau keluar menuju Masjid Kufah untuk menunaikan shalat Subuh.
Langkahnya pelan namun pasti.
________________________________________
•> Serangan di Waktu Fajar
Masjid masih gelap. Beberapa orang telah hadir. Ali membangunkan mereka untuk shalat.
Ketika beliau berdiri memulai shalat, seorang lelaki bernama Abd al-Rahman ibn Muljam bersembunyi dalam kegelapan. Pedang beracun telah disiapkan.
Saat Ali sujud, pedang itu diayunkan keras ke arah kepalanya.
Darah mengalir.
Masjid yang tenang mendadak gempar.
Namun kalimat pertama yang keluar dari lisan Ali bukanlah keluhan.
Beliau berkata:
> “Fuztu wa Rabbil Ka’bah.”
“Demi Tuhan Ka’bah, aku telah beruntung.”
Kalimat itu mengguncang hati.
Dalam luka, beliau melihat kemenangan.
Dalam detik terakhir hidupnya, beliau melihat pertemuan dengan Allah.
________________________________________
•> Hari-Hari Terakhir
Ali dibawa pulang dalam keadaan terluka parah. Racun pedang mulai menyebar. Para sahabat dan keluarga menangis di sekelilingnya.
Namun beliau tetap tenang.
Beliau berpesan agar tidak berlebihan dalam membalas dendam. Beliau berwasiat agar bertakwa kepada Allah, menjaga shalat, dan memperhatikan anak yatim.
Ramadhan belum selesai. Tetapi beliau tahu waktunya hampir tiba.
Pada malam ke-21 Ramadhan, ruhnya kembali kepada Allah.
________________________________________
•> Syahid di Bulan Suci
Ali wafat dalam keadaan:
• Berpuasa
• Selesai menunaikan shalat
• Di dalam masjid
• Di bulan Ramadhan
Hidupnya penuh perjuangan sejak muda—dari hijrah, peperangan, hingga kepemimpinan umat. Dan akhirnya ia kembali kepada Allah dalam keadaan syahid.
________________________________________
•> Pelajaran dari Detik Terakhirnya
1. Kematian bagi orang beriman bukanlah akhir, tetapi kemenangan.
2. Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan pertemuan dengan Allah.
3. Orang besar dikenang bukan karena kekuasaan, tetapi karena ketakwaannya.
4. Ucapan terakhir mencerminkan isi hati.
Ali tidak berkata tentang dunia.
Ia tidak berkata tentang jabatan.
Ia berkata tentang kemenangan di sisi Allah.
________________________________________
Detik-detik terakhir Ali bin Abi Thalib di bulan Ramadhan adalah gambaran keteguhan iman yang luar biasa. Luka tidak membuatnya putus asa. Kematian tidak membuatnya gentar.
Ia menutup hidupnya dalam sujud.
Semoga kita diberi akhir yang baik seperti beliau—hidup dalam iman, wafat dalam ketaatan, dan kembali kepada Allah dalam keadaan diridhai. Aamiin

Sumber dari FB Kisah Islami

Khamis, 19 Februari 2026

MARTABAT AHDAH

 


MARTABAT AHDAH
Dalam Amalan menyucikan diri dan mengembalikan Rahsia kepada tuan Empunya Rahsia, maka seorang manusia itu haruslah meningkatkan kesuciannya sampai ke peringkat Asal kejadian Rahsia Allah swt.
Manusia harus melewati beberapa tahapan mulai Alam Insan ke Martabat Zat Allah Swt. yaitu Martabat AHDAH. Sebab itulah tugas kita Manusia mengenal Hakikat ini dan berusaha sedaya-upaya untuk mengembalikan Amanah Allah Swt tersebut sebagaimana Amalan penerimaan amanah-Nya pada peringkat awalnya.
Sesudah lahir ke dunia Manusia dihijab dengan nafsu-nafsu dan haruslah Manusia itu menyucikan kembali agar dapat menembus satu Martabat Nafsu ke satu Martabat Nafsu yang lain sampailah benar-benar tahu dengan Allah Swt.
Sesungguhnya Allah Swt dalam usaha untuk memperkenalkan diri-Nya melalui lidah dan hati, maka Allah telah mentajalikan dirinya menjadi Rahsia kepada diri Manusia.
Pada Alam Gaibul Ghaib yaitu pada Martabat Ahdah, Tahap ini dikatakan belum ada Awal dan belum ada Akhir, belum ada SIFAT, belum ada ASMA dan belum ada apa-apa satu pun jua yaitu pada Martabat ZATUL HAQ, disini telah di putuskan untuk memperkenalkan diri-Nya dan untuk diberikan tanggung jawab berat ini kepada manusia, maka ditajalikan-lah diri-Nya itu dari satu peringkat ke peringkat berikutnya hingga sampai zahirnya manusia yang berbadan Rohani dan Jasmani.
Ada pun Martabat Ahdah ini terkandung didalam ayat Qulhuallahu Ahad yaitu pada zat semata-mata dan inilah dinamakan Martabat ZAT.
Pada Martabat ini kedudukan diri Empunya Diri (Zat Al-Haq) adalah dengan DIA semata-mata yaitu dinamakan Diri Sendiri.
Pada masa ini, tiada SIFAT, tiada ASMA dan tiada AFA’AL dan tiada apa-apa, kecuali Zat Mutlak semata-mata, maka berdirilah Zat itu dengan DIA SEMATA-MATA, dan Diri Zat tersebut dinamakan Esa atau AHAD atau dinamakan KUN ZAT.
Pada peringkat yang kedua dalam proses mentajalilkan diri-Nya, Diri Empunya Diri telah mentajalilkan Diri ke suatu Martabat Sifat yaitu SABIT NYATA PERTAMA.
Pada Martabat

Sumber dari FB Makrifatullah

“Makrifatmu adalah Makrifatmu, Makrifatku adalah Makrifatku”

 


RISALAH: “Makrifatmu adalah Makrifatmu, Makrifatku adalah Makrifatku”

1. Hakikat Makrifat: inti dari kesaksian, bukan sekadar Kata
Makrifat bukan sekadar ilmu yang dipelajari, bukan pula sekadar hafalan dari kitab-kitab.
Makrifat adalah rasa hadir, kesadaran langsung, dan penyaksian batin terhadap Yang Maha Ada.
Ia seperti rasa manis.
Orang boleh menjelaskan gula seribu halaman,
namun yang belum mengecap, belumlah mengenal.
Maka makrifat bukan tentang siapa yang paling benar dalam kata,
tetapi siapa yang benar-benar mengalami dalam kesadaran yg menyentuh inti rasa.
2. Jalan yang Berbeda, Tujuan yang Sama
Setiap insan berjalan dengan jalannya sendiri:
Ada yang mengenal melalui dzikir
Ada yang melalui diam (kholwat)
Ada yang melalui cinta dan pengabdian
Ada yang melalui derita dan kehilangan
Jalan boleh berbeda, tetapi yang dituju tetap satu:
Yang Maha Esa, Yang Tidak Terbagi
Maka ketika seseorang berkata:
"Ini jalanku",
tidak berarti jalan lain salah.
Karena laut itu satu,
meski sungainya beribu-ribu.
3. Makrifat adalah bukan hny ilmu tapi juga Pengalaman Pribadi, perjalanan rohani ....
Makrifatmu adalah apa yang engkau alami dalam batinmu.....
Makrifatku adalah apa yang aku saksikan dalam kesadaranku......
Ia tidak bisa dipindahkan, tidak bisa diwariskan utuh.
Hanya bisa ditunjukkan arah, bukan dipaksakan isi....
Seperti seseorang melihat matahari terbit:
ia bisa menceritakan keindahannya,
tetapi orang lain tetap harus melihat sendiri.
Maka tidak ada gunanya memperdebatkan pengalaman batin atau perjalanan rohani..
karena hal itu tidak bisa diukur dengan logika dan rasa , orang lain.
4. Bahaya Membandingkan Makrifat
Ketika makrifat dijadikan perbandingan,
maka yang muncul bukan cahaya, melainkan ego yang halus.
“Aku lebih dalam…”
“Aku lebih sampai…”
“Aku lebih tahu…”
Padahal di hadapan Yang Maha Luas,
semua manusia tetap hamba yang tidak tahu apa-apa.
Semakin dalam makrifat seseorang,
semakin ia merasa tidak memiliki apa-apa.
Maka jika masih merasa paling paling,
berarti belum benar-benar tenggelam. Karena bergulat di pengenalan semu ...
5. Adab dalam Makrifat
Jika engkau berjalan di jalan makrifat, peganglah adab:
*Jangan merendahkan jalan orang lain
*Jangan memaksakan pengalamanmu
*Jangan mengklaim kebenaran mutlak pada dirimu
*Jangan menolak cahaya hanya karena bentuknya berbeda
Karena setiap hati memiliki cara Allah menyapa yang berbeda.
* Ada Yang satu disentuh dengan tangis,
* Ada yang lain dengan diam,
* Ada yang lain lagi dengan kehilangan.
6. Kesatuan dalam Keberagaman
Pada tingkat awal, makrifat terlihat berbeda-beda.
Namun semakin dalam, semakin menyatu.
*Di awal: “Aku menemukan jalanku.”
*Di tengah: “Semua jalan menuju Dia.”
*Di akhir: “Tidak ada jalan, tidak ada aku, hanya Dia.”
Maka perbedaan hanya ada pada permukaan,
sedangkan hakikatnya tetap satu.
*** Penutup: Kembali kepada Kesadaran Murni
* Makrifatmu adalah amanah batinmu.
* Makrifatku adalah perjalanan batinku.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan,
tidak perlu dipaksakan untuk sama.
Yang terpenting bukanlah siapa yang paling benar,
melainkan siapa yang semakin hilang ke-akuannya.
Karena pada akhirnya, makrifat bukan tentang:
“Aku mengenal Tuhan”
melainkan tentang:
“Tiada aku… hanya Dia yang nyata.”.......

Sumber dari FB  PUNCAK MA'RIFAT 

Detik-Detik Terakhir Ali bin Abi Thalib di Bulan Ramadhan

  Detik-Detik Terakhir Ali bin Abi Thalib di Bulan Ramadhan Malam itu terasa berbeda di kota Kufa. Udara Ramadhan tenang, namun ada firasat ...