Rabu, 25 Februari 2026

TANDA FANA YANG BENAR DENGAN FANA YANG KELIRU

 


TANDA FANA YANG BENAR DENGAN FANA YANG KELIRU
Dalam pembahasan ilmu tasawuf, fana (فناء) adalah salah satu Maqom keadaan seseorang salik takkala mengalami kondisi spritual.
Namun dana terkadang sering disalahpahami dan disalah artikan.
Ulama Ahlus Sunnah juga menjelaskan bahwa fana yang benar adalah tentang keadaan hati, sedangkan fana yang keliru apabila salah meng artikan maka akan menjadi kesalahan pemahaman yang berakibat bisa merusak nilai nilai aqidah.
Untuk menghindari kesalah fahaman dalam menyikapi arti fana maka saya akan coba uraikan dengan jelas menurut pemahaman ahli sufi menurut dalil Al Qur'an dan hadits Rasulullah.
🌹APA YANG DIMAKSUD FANA....?
Secara umum, fana (فناء) berarti:
Lebur atau lenyapnya kesadaran terhadap diri dan makhluk karena kuatnya kesadaran kepada Allah, bukan lenyapnya wujud diri manusia.
Jadi yang “lebur" adalah:
- Rasa keakuan dalam diri
- Rasa kesombongan
- Dan ketergantungan kepada selain Allah.
Bukan: hilangnya tubuh Zahir, hilang akal, apalagi hilang kewajiban syariat.
📌 1 FANA YANG BENAR
Ulama seperti Imam Al-Junaid dan Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa fana yang benar memiliki ciri-ciri berikut :
a. Fana dari maksiat
Yaitu : Hati tidak lagi condong kepada perbuatan dosa, karena telah tumbuh rasa takut dan rasa cinta kepada Allah yang lebih kuat.
b. Fana dari riya dan ujub
Yaitu: Seseorang tidak lagi melihat amalnya sebagai sesuatu yang besar, tetapi melihat semua sebagai karunia daripada Allah.
c. Fana dari ketergantungan kepada makhluk.
Hati hanya bersandar kepada Allah, tetapi tetap berusaha dalam ikhtiar kehidupan.
d. Fana yang tidak menghilangkan syariat.
(Ini tanda paling penting)
Orang yang benar fananya:
- setelah kembali dalam keadaan sadar maka , ia Tetap melaksanakan syariat , tetap sholat, tetap beradab, Tetap sadar bahwa ia memiliki kewajiban sebagai seorang hamba.
Kesimpulannya Tanda Fana yang Benar menurut Ulama.
Ulama memberi ukuran yang sederhana tetapi dalam:
- lebih lembut hatinya
- lebih sabar
- lebih sedikit bicara tentang dirinya
- lebih banyak berbuat baik
- lebih merasa dirinya hamba
Karena semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia merasa kecil.
Imam Al-Junaid berkata:
“Fana adalah lenyapnya sifat yang tercela, bukan lenyapnya kewajiban.”
📌2. FANA YANG KELIRU
Para ulama memperingatkan beberapa bentuk pemahaman fana yang keliru:
❌a. Ia mengira fana berarti ia telah lebur dan menyatu dengan Allah, ini keliru karena:
- Allah tetaplah Allah
- Hamba tetap hamba
- Hamba tidak mungkin menjadi Allah,dan Allah tidak mungkin berubah menjadi mahluk.
- Perbedaan antara Khaliq dan makhluk ( pencipta dan yang di cipta )tidak pernah hilang.
❌b. Menganggap fana menghapus syariat.
Ini tanda kesalahan yang sangat jelas.
Jika seseorang berkata:
- Tidak perlu lagi sholat
- Merasa sudah sampai
- Hukum syariat tidak berlaku lagi,
Maka itu bukan fana, tetapi kesesatan yang nyata.
Para ulama menegaskan:
Hakikat yang benar tidak pernah membatalkan hukum syariat.
❌c. Fana yang hanya perasaan sesaat.
Kadang seseorang merasakan:
Perasaan haru,
Mendapatkan ketenangan
Mendapatkan semangat
Lalu mengira sudah mencapai derajat tinggi.
❌d. Fana yang melahirkan kesombongan.
Ini tanda paling berbahaya.
Jika seseorang merasa:
- Merasa maqomnya lebih tinggi daripada orang lain
- Merasa sudah sampai ke ke ujung Ma'rifat
- Senang dipuji sebagai orang khusus atau wali
Maka itu bukan fana, tetapi rasa ujub yang halus.
👉 Perbedaan Ringkas
Fana yang benar ➡️Menjadikan hati tawadhu
Fana yang keliru ➡️Menjadikan diri merasa tinggi
Fana yang benar ➡️ Menguatkan syariat
Fana yang keliru ➡️Meremehkan syariat
Fana yang benar ➡️ Menghilangkan ego
Fana yang keliru ➡️ memperbesar ego
Fana yang benar ➡️ Membawa ketenangan
Fana yang keliru ➡️ Membawa kegelisahan
Fana yang benar ➡️ Menambah takut pada Allah
Fana yang keliru ➡️ Merasa aman dari azab Allah.
Para ulama sering memberi nasihat:
Awal perjalan adalah ilmu,
pertengahannya adalah amal,
dan akhirnya adalah adab.
Karena Hakikat tanpa adab akan rusak,
dan fana tanpa syariat akan menyesatkan.
📌3 APA PERBEDAAN FANA DAN BAQO
Dalam kajian tasawuf, FANA dan BAQO selalu disebut berpasangan atau berdampingan.
Ulama menjelaskan bahwa BAQO adalah buah dari FANA. Seseorang tidak sampai kepada BAQO sebelum ia melalui FANA yang benar.
Mari kita jelaskan secara bertahap.
📌4. MAKNA FANA DAN BAQO
👉FANA (فناء)
Fana adalah:
lenyapnya keakuan dan ketergantungan kepada selain Allah, sehingga hati hanya bergantung kepada-Nya.
Yang hilang: ego, riya, ujub, rasa memiliki kekuatan sendiri
Bukan:
kesadaran akal
kewajiban syariat
identitas sebagai hamba
👉BAQO (بقاء)
Baqo adalah:
tetapnya hati bersama Allah setelah fana, sehingga seseorang hidup, beramal, dan berinteraksi dengan makhluk dalam keadaan hatinya selalu ingat kepada Allah.
Jadi:
fana → membersihkan
baqa → menetapkan keadaan yang benar
📌 5. HUBUNGAN FANA DAN BAQO
Ulama tasawuf menjelaskan hubungan ini dengan kalimat:
“Fana dari selain Allah, lalu baqa dengan Allah.”
Artinya:
Hati dibersihkan dari ketergantungan kepada makhluk (fana)
Hati menetap dalam ketergantungan kepada Allah (baqa)
ilustrasi nya seperti sebuah gelas:
fana → mengosongkan dari kotoran
baqa → diisi dengan air yang jernih
📌6. BAGAIMANA KEADAAN ORANG YANG SAMPAI PADA MAQOM BAQO...?
Ulama memberi tanda-tanda:
- Hatinya tenang dalam segala keadaan
- Tidak mudah goyah oleh pujian atau celaan.
- Amal menjadi konsisten
- Tidak hanya semangat sesaat.
- Tawadhu semakin dalam
Karena merasa semua dari Allah.
Hidupnya kembali normal secara lahir.
Ini penting.
Para ulama mengatakan:
Orang yang sempurna bukan yang tenggelam dalam fana, tetapi yang kembali kepada makhluk dengan membawa akhlak yang baik.
📌 7. PERBEDAAN FANA DAN BAQO
FANA = Mengosongkan hati
BAQO = Menetapkan hati
FANA : Menghilangkan ego
BAQO : Menguatkan keikhlasan
FANA : Keadaan hanya sementara
BAQO : Keadaan yang stabil
FANA : Permulaan penyucian
BAQO : Kesempurnaan akhlak
📌8. PEMAHAMAN YANG DILURUSKAN OLEH AHLU SUNNAH.
Ulama menegaskan:
Baqa bukan berarti kekal seperti Allah.
Maksudnya adalah kekalnya hati dalam ketaatan dan ingat kepada Allah.
Jadi baqa:
- Bukan menyatu dengan Allah
- Bukan hilang kemanusiaan
tetapi sempurnanya kehambaan
Gambaran Sederhana
Ulama memberi perumpamaan:
Fana seperti:
api yang membakar kotoran dalam hati
Baqa seperti:
taman yang tumbuh setelah tanah dibersihkan
Tujuan perjalanan ruhani bukan fana itu sendiri, tetapi baqa dalam ketaatan dan akhlak.
Renungan
Para arif billah sering berkata:
Tanda seseorang sampai kepada baqa bukan banyaknya rasa, tetapi baiknya akhlak dan istiqamahnya amal.
Karena puncak perjalanan bukan pengalaman, tetapi menjadi hamba yang benar.
🌹KESIMPULAN
Fana yang benar adalah ketika seseorang menghilangkan segala rasa keakuan dan kehendaknya demi mencapai kesadaran penuh akan kebesaran dan kehadiran Allah.
Fana ini membawa seseorang pada ketundukan yang dalam, melepaskan diri dari ego, dan mengarahkan seluruh hidupnya kepada-Nya. Dalam keadaan fana yang benar, seseorang merasa bahwa dirinya hanya merupakan perantara dari Allah, dan setiap amal yang dilakukan adalah demi meraih ridha-Nya.
Fana yang benar mengarah pada kemurnian jiwa dan kesatuan dengan Tuhan, tanpa ada lagi sekat antara hamba dan Khaliknya.
Sebaliknya, fana yang keliru adalah saat seseorang terjebak dalam perasaan kosong dan kehilangan arah, menganggap bahwa kehilangan diri adalah tujuan utama tanpa pemahaman yang benar. Fana yang keliru bisa berujung pada kekosongan jiwa, bukan pada pencerahan, karena ia malah menjauhkan diri dari tanggung jawab untuk menjalankan syariat dan kehidupan dunia. Dalam kondisi ini, seseorang bisa saja mengabaikan perintah Allah, merasa tak terikat lagi dengan kewajiban moral atau spiritual, yang pada akhirnya malah merugikan diri sendiri dan orang lain.
Jadi, fana yang benar adalah fana yang membawa seseorang pada kedekatan dengan Allah, dengan memperkuat hubungan spiritual dan menjalankan syariat-Nya, sementara fana yang keliru justru menyimpang dari jalan yang benar, melupakan tanggung jawab dalam hidup ini.
Akhirnya marilah kita berdo'a Semoga kita selalu diberi petunjuk agar mencapai fana yang benar, yang memberi kedamaian dan kebahagiaan sejati.

Sumber dari Haris Haris

Jumaat, 20 Februari 2026

Detik-Detik Terakhir Ali bin Abi Thalib di Bulan Ramadhan

 


Detik-Detik Terakhir Ali bin Abi Thalib di Bulan Ramadhan
Malam itu terasa berbeda di kota Kufa. Udara Ramadhan tenang, namun ada firasat yang tak biasa. Di rumah sederhana itu, Amirul Mukminin, Ali ibn Abi Talib, bersiap menyambut fajar seperti malam-malam sebelumnya.
Ramadhan selalu menjadi bulan yang beliau cintai. Bulan Al-Qur’an. Bulan doa. Bulan air mata dalam sujud.
Namun Ramadhan tahun itu… adalah yang terakhir baginya.
_______________________________________
•> Firasa t dan Ketenangan
Beberapa hari sebelumnya, Ali sering berkata bahwa ajalnya sudah dekat. Wajahnya tetap tenang. Tidak ada ketakutan. Hanya kerinduan.
Beliau memperbanyak ibadah di malam-malam Ramadhan. Sujudnya panjang. Doanya dalam. Ia tahu hidupnya dihabiskan untuk perjuangan—dan ia ingin menutupnya dalam ketaatan.
Di malam ke-19 Ramadhan tahun 40 Hijriah, beliau keluar menuju Masjid Kufah untuk menunaikan shalat Subuh.
Langkahnya pelan namun pasti.
________________________________________
•> Serangan di Waktu Fajar
Masjid masih gelap. Beberapa orang telah hadir. Ali membangunkan mereka untuk shalat.
Ketika beliau berdiri memulai shalat, seorang lelaki bernama Abd al-Rahman ibn Muljam bersembunyi dalam kegelapan. Pedang beracun telah disiapkan.
Saat Ali sujud, pedang itu diayunkan keras ke arah kepalanya.
Darah mengalir.
Masjid yang tenang mendadak gempar.
Namun kalimat pertama yang keluar dari lisan Ali bukanlah keluhan.
Beliau berkata:
> “Fuztu wa Rabbil Ka’bah.”
“Demi Tuhan Ka’bah, aku telah beruntung.”
Kalimat itu mengguncang hati.
Dalam luka, beliau melihat kemenangan.
Dalam detik terakhir hidupnya, beliau melihat pertemuan dengan Allah.
________________________________________
•> Hari-Hari Terakhir
Ali dibawa pulang dalam keadaan terluka parah. Racun pedang mulai menyebar. Para sahabat dan keluarga menangis di sekelilingnya.
Namun beliau tetap tenang.
Beliau berpesan agar tidak berlebihan dalam membalas dendam. Beliau berwasiat agar bertakwa kepada Allah, menjaga shalat, dan memperhatikan anak yatim.
Ramadhan belum selesai. Tetapi beliau tahu waktunya hampir tiba.
Pada malam ke-21 Ramadhan, ruhnya kembali kepada Allah.
________________________________________
•> Syahid di Bulan Suci
Ali wafat dalam keadaan:
• Berpuasa
• Selesai menunaikan shalat
• Di dalam masjid
• Di bulan Ramadhan
Hidupnya penuh perjuangan sejak muda—dari hijrah, peperangan, hingga kepemimpinan umat. Dan akhirnya ia kembali kepada Allah dalam keadaan syahid.
________________________________________
•> Pelajaran dari Detik Terakhirnya
1. Kematian bagi orang beriman bukanlah akhir, tetapi kemenangan.
2. Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan pertemuan dengan Allah.
3. Orang besar dikenang bukan karena kekuasaan, tetapi karena ketakwaannya.
4. Ucapan terakhir mencerminkan isi hati.
Ali tidak berkata tentang dunia.
Ia tidak berkata tentang jabatan.
Ia berkata tentang kemenangan di sisi Allah.
________________________________________
Detik-detik terakhir Ali bin Abi Thalib di bulan Ramadhan adalah gambaran keteguhan iman yang luar biasa. Luka tidak membuatnya putus asa. Kematian tidak membuatnya gentar.
Ia menutup hidupnya dalam sujud.
Semoga kita diberi akhir yang baik seperti beliau—hidup dalam iman, wafat dalam ketaatan, dan kembali kepada Allah dalam keadaan diridhai. Aamiin

Sumber dari FB Kisah Islami

Khamis, 19 Februari 2026

MARTABAT AHDAH

 


MARTABAT AHDAH
Dalam Amalan menyucikan diri dan mengembalikan Rahsia kepada tuan Empunya Rahsia, maka seorang manusia itu haruslah meningkatkan kesuciannya sampai ke peringkat Asal kejadian Rahsia Allah swt.
Manusia harus melewati beberapa tahapan mulai Alam Insan ke Martabat Zat Allah Swt. yaitu Martabat AHDAH. Sebab itulah tugas kita Manusia mengenal Hakikat ini dan berusaha sedaya-upaya untuk mengembalikan Amanah Allah Swt tersebut sebagaimana Amalan penerimaan amanah-Nya pada peringkat awalnya.
Sesudah lahir ke dunia Manusia dihijab dengan nafsu-nafsu dan haruslah Manusia itu menyucikan kembali agar dapat menembus satu Martabat Nafsu ke satu Martabat Nafsu yang lain sampailah benar-benar tahu dengan Allah Swt.
Sesungguhnya Allah Swt dalam usaha untuk memperkenalkan diri-Nya melalui lidah dan hati, maka Allah telah mentajalikan dirinya menjadi Rahsia kepada diri Manusia.
Pada Alam Gaibul Ghaib yaitu pada Martabat Ahdah, Tahap ini dikatakan belum ada Awal dan belum ada Akhir, belum ada SIFAT, belum ada ASMA dan belum ada apa-apa satu pun jua yaitu pada Martabat ZATUL HAQ, disini telah di putuskan untuk memperkenalkan diri-Nya dan untuk diberikan tanggung jawab berat ini kepada manusia, maka ditajalikan-lah diri-Nya itu dari satu peringkat ke peringkat berikutnya hingga sampai zahirnya manusia yang berbadan Rohani dan Jasmani.
Ada pun Martabat Ahdah ini terkandung didalam ayat Qulhuallahu Ahad yaitu pada zat semata-mata dan inilah dinamakan Martabat ZAT.
Pada Martabat ini kedudukan diri Empunya Diri (Zat Al-Haq) adalah dengan DIA semata-mata yaitu dinamakan Diri Sendiri.
Pada masa ini, tiada SIFAT, tiada ASMA dan tiada AFA’AL dan tiada apa-apa, kecuali Zat Mutlak semata-mata, maka berdirilah Zat itu dengan DIA SEMATA-MATA, dan Diri Zat tersebut dinamakan Esa atau AHAD atau dinamakan KUN ZAT.
Pada peringkat yang kedua dalam proses mentajalilkan diri-Nya, Diri Empunya Diri telah mentajalilkan Diri ke suatu Martabat Sifat yaitu SABIT NYATA PERTAMA.
Pada Martabat

Sumber dari FB Makrifatullah

“Makrifatmu adalah Makrifatmu, Makrifatku adalah Makrifatku”

 


RISALAH: “Makrifatmu adalah Makrifatmu, Makrifatku adalah Makrifatku”

1. Hakikat Makrifat: inti dari kesaksian, bukan sekadar Kata
Makrifat bukan sekadar ilmu yang dipelajari, bukan pula sekadar hafalan dari kitab-kitab.
Makrifat adalah rasa hadir, kesadaran langsung, dan penyaksian batin terhadap Yang Maha Ada.
Ia seperti rasa manis.
Orang boleh menjelaskan gula seribu halaman,
namun yang belum mengecap, belumlah mengenal.
Maka makrifat bukan tentang siapa yang paling benar dalam kata,
tetapi siapa yang benar-benar mengalami dalam kesadaran yg menyentuh inti rasa.
2. Jalan yang Berbeda, Tujuan yang Sama
Setiap insan berjalan dengan jalannya sendiri:
Ada yang mengenal melalui dzikir
Ada yang melalui diam (kholwat)
Ada yang melalui cinta dan pengabdian
Ada yang melalui derita dan kehilangan
Jalan boleh berbeda, tetapi yang dituju tetap satu:
Yang Maha Esa, Yang Tidak Terbagi
Maka ketika seseorang berkata:
"Ini jalanku",
tidak berarti jalan lain salah.
Karena laut itu satu,
meski sungainya beribu-ribu.
3. Makrifat adalah bukan hny ilmu tapi juga Pengalaman Pribadi, perjalanan rohani ....
Makrifatmu adalah apa yang engkau alami dalam batinmu.....
Makrifatku adalah apa yang aku saksikan dalam kesadaranku......
Ia tidak bisa dipindahkan, tidak bisa diwariskan utuh.
Hanya bisa ditunjukkan arah, bukan dipaksakan isi....
Seperti seseorang melihat matahari terbit:
ia bisa menceritakan keindahannya,
tetapi orang lain tetap harus melihat sendiri.
Maka tidak ada gunanya memperdebatkan pengalaman batin atau perjalanan rohani..
karena hal itu tidak bisa diukur dengan logika dan rasa , orang lain.
4. Bahaya Membandingkan Makrifat
Ketika makrifat dijadikan perbandingan,
maka yang muncul bukan cahaya, melainkan ego yang halus.
“Aku lebih dalam…”
“Aku lebih sampai…”
“Aku lebih tahu…”
Padahal di hadapan Yang Maha Luas,
semua manusia tetap hamba yang tidak tahu apa-apa.
Semakin dalam makrifat seseorang,
semakin ia merasa tidak memiliki apa-apa.
Maka jika masih merasa paling paling,
berarti belum benar-benar tenggelam. Karena bergulat di pengenalan semu ...
5. Adab dalam Makrifat
Jika engkau berjalan di jalan makrifat, peganglah adab:
*Jangan merendahkan jalan orang lain
*Jangan memaksakan pengalamanmu
*Jangan mengklaim kebenaran mutlak pada dirimu
*Jangan menolak cahaya hanya karena bentuknya berbeda
Karena setiap hati memiliki cara Allah menyapa yang berbeda.
* Ada Yang satu disentuh dengan tangis,
* Ada yang lain dengan diam,
* Ada yang lain lagi dengan kehilangan.
6. Kesatuan dalam Keberagaman
Pada tingkat awal, makrifat terlihat berbeda-beda.
Namun semakin dalam, semakin menyatu.
*Di awal: “Aku menemukan jalanku.”
*Di tengah: “Semua jalan menuju Dia.”
*Di akhir: “Tidak ada jalan, tidak ada aku, hanya Dia.”
Maka perbedaan hanya ada pada permukaan,
sedangkan hakikatnya tetap satu.
*** Penutup: Kembali kepada Kesadaran Murni
* Makrifatmu adalah amanah batinmu.
* Makrifatku adalah perjalanan batinku.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan,
tidak perlu dipaksakan untuk sama.
Yang terpenting bukanlah siapa yang paling benar,
melainkan siapa yang semakin hilang ke-akuannya.
Karena pada akhirnya, makrifat bukan tentang:
“Aku mengenal Tuhan”
melainkan tentang:
“Tiada aku… hanya Dia yang nyata.”.......

Sumber dari FB  PUNCAK MA'RIFAT 

TANDA FANA YANG BENAR DENGAN FANA YANG KELIRU

  TANDA FANA YANG BENAR DENGAN FANA YANG KELIRU Dalam pembahasan ilmu tasawuf, fana (فناء) adalah salah satu Maqom keadaan seseorang salik t...