RISALAH: “Makrifatmu adalah Makrifatmu, Makrifatku adalah Makrifatku”
1. Hakikat Makrifat: inti dari kesaksian, bukan sekadar Kata
Makrifat bukan sekadar ilmu yang dipelajari, bukan pula sekadar hafalan dari kitab-kitab.
Makrifat adalah rasa hadir, kesadaran langsung, dan penyaksian batin terhadap Yang Maha Ada.
Ia seperti rasa manis.
Orang boleh menjelaskan gula seribu halaman,
namun yang belum mengecap, belumlah mengenal.
Maka makrifat bukan tentang siapa yang paling benar dalam kata,
tetapi siapa yang benar-benar mengalami dalam kesadaran yg menyentuh inti rasa.
2. Jalan yang Berbeda, Tujuan yang Sama
Setiap insan berjalan dengan jalannya sendiri:
Ada yang mengenal melalui dzikir
Ada yang melalui diam (kholwat)
Ada yang melalui cinta dan pengabdian
Ada yang melalui derita dan kehilangan
Jalan boleh berbeda, tetapi yang dituju tetap satu:
Yang Maha Esa, Yang Tidak Terbagi
Maka ketika seseorang berkata:
"Ini jalanku",
tidak berarti jalan lain salah.
Karena laut itu satu,
meski sungainya beribu-ribu.
3. Makrifat adalah bukan hny ilmu tapi juga Pengalaman Pribadi, perjalanan rohani ....
Makrifatmu adalah apa yang engkau alami dalam batinmu.....
Makrifatku adalah apa yang aku saksikan dalam kesadaranku......
Ia tidak bisa dipindahkan, tidak bisa diwariskan utuh.
Hanya bisa ditunjukkan arah, bukan dipaksakan isi....
Seperti seseorang melihat matahari terbit:
ia bisa menceritakan keindahannya,
tetapi orang lain tetap harus melihat sendiri.
Maka tidak ada gunanya memperdebatkan pengalaman batin atau perjalanan rohani..
karena hal itu tidak bisa diukur dengan logika dan rasa , orang lain.
4. Bahaya Membandingkan Makrifat
Ketika makrifat dijadikan perbandingan,
maka yang muncul bukan cahaya, melainkan ego yang halus.
“Aku lebih dalam…”
“Aku lebih sampai…”
“Aku lebih tahu…”
Padahal di hadapan Yang Maha Luas,
semua manusia tetap hamba yang tidak tahu apa-apa.
Semakin dalam makrifat seseorang,
semakin ia merasa tidak memiliki apa-apa.
Maka jika masih merasa paling paling,
berarti belum benar-benar tenggelam. Karena bergulat di pengenalan semu ...
5. Adab dalam Makrifat
Jika engkau berjalan di jalan makrifat, peganglah adab:
*Jangan merendahkan jalan orang lain
*Jangan memaksakan pengalamanmu
*Jangan mengklaim kebenaran mutlak pada dirimu
*Jangan menolak cahaya hanya karena bentuknya berbeda
Karena setiap hati memiliki cara Allah menyapa yang berbeda.
* Ada Yang satu disentuh dengan tangis,
* Ada yang lain dengan diam,
* Ada yang lain lagi dengan kehilangan.
6. Kesatuan dalam Keberagaman
Pada tingkat awal, makrifat terlihat berbeda-beda.
Namun semakin dalam, semakin menyatu.
*Di awal: “Aku menemukan jalanku.”
*Di tengah: “Semua jalan menuju Dia.”
*Di akhir: “Tidak ada jalan, tidak ada aku, hanya Dia.”
Maka perbedaan hanya ada pada permukaan,
sedangkan hakikatnya tetap satu.
*** Penutup: Kembali kepada Kesadaran Murni
* Makrifatmu adalah amanah batinmu.
* Makrifatku adalah perjalanan batinku.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan,
tidak perlu dipaksakan untuk sama.
Yang terpenting bukanlah siapa yang paling benar,
melainkan siapa yang semakin hilang ke-akuannya.
Karena pada akhirnya, makrifat bukan tentang:
“Aku mengenal Tuhan”
melainkan tentang:
“Tiada aku… hanya Dia yang nyata.”.......
Sumber dari FB PUNCAK MA'RIFAT

Tiada ulasan:
Catat Ulasan