Iblis yang Menggugat Tuhan
*"Mengapa aku dihukum atas sesuatu yang telah Engkau ketahui sebelumnya?"*
Dalam sebuah perenungan sufistik, digambarkan sebuah dialog simbolik antara Iblis dan Tuhan. Ini bukan kisah yang terdapat secara literal dalam Al-Qur'an atau hadis, melainkan bahasa spiritual untuk mengajak manusia merenungkan hubungan antara kehendak Tuhan, kebebasan makhluk, dan rahasia cinta Ilahi.
Iblis berkata:
> "Wahai Tuhan, Engkau menyebutku sesat, Engkau melaknatku, lalu mengapa aku harus dihukum? Mengapa aku menjadi kambing hitam dalam drama kosmik ini? Bukankah Engkau mengetahui semuanya sejak awal? Bukankah Engkau pemilik seluruh skenario?"
Pertanyaan itu telah lama menghantui pikiran manusia. Jika Tuhan Mahatahu, mengapa ada kesalahan? Jika segala sesuatu berada dalam kekuasaan-Nya, mengapa ada hukuman dan ganjaran?
Lalu dalam kisah simbolik itu, Tuhan menjawab:
> "Wahai Iblis, andai engkau mengetahui hakikat dirimu dan hakikat-Ku. Engkau melihat dirimu terpisah dari-Ku, padahal seluruh keberadaanmu berdiri dengan keberadaan-Ku. Engkau adalah ciptaan-Ku, dan tidak ada satu gerak pun yang luput dari pengetahuan-Ku."
> "Tidaklah Aku ciptakan Adam semata-mata untuk mengujinya, tetapi juga untuk menguji kesetiaanmu. Aku mengetahui bahwa di seluruh alam semesta tidak ada tempat yang luput dari sujudmu kepada-Ku."
Di sini tasawuf melihat kisah Iblis dari sudut yang berbeda. Bukan untuk membenarkan pembangkangannya, melainkan untuk menunjukkan bahwa rahasia Tuhan jauh melampaui penilaian lahiriah manusia.
Secara lahir, Iblis menolak perintah sujud kepada Adam. Namun sebagian sufi memahami bahwa tragedi itu mengandung pelajaran mendalam: kesombongan dapat menyelimuti bahkan makhluk yang telah lama beribadah. Ribuan tahun pengabdian tidak menjamin keselamatan ketika "aku" masih berdiri di hadapan Tuhan.
Iblis bukan sekadar simbol kejahatan. Ia juga cermin bagi manusia. Ketika seseorang merasa paling benar, paling suci, paling dekat kepada Tuhan, saat itulah jejak Iblis mulai tumbuh dalam dirinya.
Maka pertanyaan terbesar bukanlah:
*"Mengapa Iblis dihukum?"*
Melainkan:
*"Apakah aku sedang mengulangi kesalahan yang sama?"*
Kisah Adam dan Iblis bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah drama yang terus berlangsung di dalam hati setiap manusia. Adam melambangkan kerendahan hati yang mengakui kesalahan. Iblis melambangkan ego yang selalu mencari pembenaran.
Dan mungkin karena itulah rahmat Tuhan lebih dekat kepada orang yang jatuh lalu bertobat, daripada kepada orang yang merasa tidak pernah salah.
Pada akhirnya, rahasia takdir adalah lautan yang tak bertepi. Akal dapat berlayar di atas permukaannya, tetapi kedalamannya hanya dapat disentuh oleh hati yang tunduk.
Sebab di hadapan Tuhan, yang menyelamatkan bukanlah banyaknya ibadah, bukan pula panjangnya argumentasi, melainkan kerendahan untuk berkata:
> "Ya Allah, aku tidak mengetahui kecuali apa yang Engkau ajarkan kepadaku."
Sumber dari DolvikarAndespi
