KISAH SALMAN AL-FARISI — PENCARI KEBENARAN YANG TAK PERNAH MENYERAH
Sejak kecil, Salman sudah merasa ada yang aneh dengan keyakinan kaumnya. Ia melihat api disembah, dirawat, dijaga, seolah-olah api itu memiliki kekuatan. Dalam hatinya muncul pertanyaan: “Bagaimana mungkin api yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri dianggap sebagai tuhan?”
Pertanyaan itu membuat hatinya gelisah… gelisah yang akhirnya mendorongnya pergi mencari kebenaran.
Salman pernah ditipu, dijual menjadi budak, berpindah-pindah tuan, dan hidup dalam kesengsaraan. Tapi setiap kali ia bertanya pada dirinya sendiri, ia selalu menemukan satu jawaban:
“Kebenaran layak diperjuangkan.”
Ia sempat belajar dari pendeta-pendeta Nasrani yang jujur dan zuhud. Tetapi mereka pun mengatakan kepadanya:
“Akan datang seorang Nabi akhir zaman di negeri Arab. Pergilah kepada beliau.”
Kalimat itu menjadi pelita bagi hidup Salman.
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, Salman akhirnya tiba di Madinah. Saat melihat Rasulullah ﷺ, hatinya bergetar. Semua tanda kenabian yang ia dengar dari guru-gurunya dulu tampak jelas pada diri Nabi Muhammad ﷺ.
Ia pun menangis dan berkata:
“Engkau-lah yang aku cari selama ini…”
Sejak hari itu, Salman menjadi salah satu sahabat terdekat Rasulullah.
Ketika Perang Khandaq, Salman mengusulkan strategi yang belum pernah dikenal bangsa Arab: membuat parit besar sebagai benteng pertahanan.
Rasulullah ﷺ langsung menerima usulan itu. Strategi ini terbukti menyelamatkan kaum Muslim dari serangan pasukan besar Quraisy.
Dengan itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Salman adalah bagian dari kami, Ahlul Bait.”
Sebuah penghormatan luar biasa bagi seseorang yang dulunya budak dari negeri jauh.
Sumbrt dari FB

Tiada ulasan:
Catat Ulasan