Ketika Ilmu Menjadi Cermin yang Pudar”
karena bagian ini bukan hanya menggambarkan orang lain,
tapi bisa saja sedang menggambarkan diriku sendiri.
Ini hanya catatan awam pejalan sendal jepit, bukan tafsir, bukan syarah. Hanya gumaman hati yang takut tertipu oleh amalnya sendiri.
Para ulama terdahulu menyingkapkan satu jenis tipuan yang paling halus:
ketika seseorang merasa aman bukan karena taat, tapi karena merasa tahu.
Ada orang yang mempelajari agama,
memperdalam logika,
mengisi hari-harinya dengan buku, kajian, dan diskusi.
Ia bicara tentang halal-haram, tentang adab, tentang ibadah…
tapi anggota tubuhnya sendiri masih bebas melakukan apa yang ia larang.
Ia semakin mengerti, tapi tidak semakin takut.
Semakin tahu, tapi tidak semakin tunduk.
Semakin fasih berbicara, tapi tidak semakin menjaga diri.
Aku rasa mungkin inilah jebakan halus itu,
ketika seseorang merasa ilmunya sudah cukup untuk menjadi tameng,
seakan-akan pengetahuannya bisa menutup celah maksiatnya,
seakan-akan Allah tidak akan menyiksa orang-orang “berilmu” seperti mereka.
Lebih berbahaya lagi,
ketika seseorang merasa ilmu sudah membawa dia ke “kedudukan khusus"
yang membuatnya aman dari tuntutan.
Ia merasa doanya pasti dikabulkan,
dosa-dosanya pasti dimaafkan,
dan seakan-akan kelalaiannya sudah mendapat syafaat sebelum ia memintanya.
Padahal, para ulama mengingatkan:
ilmu itu ada dua.
Ilmu yang menggerakkan tubuh menuju ketaatan,
dan ilmu yang membuka mata hati
Jika ilmu hanya berhenti di kepala,
tapi tidak meresap ke tulang,
maka itu bukan cahaya,
itu hanya beban yang digendong.
Kadang kita sibuk memahami kata,
tapi lupa memeriksa langkah.
Kita mondar-mandir dalam wacana,
tapi lupa melihat sisa-sisa maksiat di tubuh sendiri.
Kita mendengar seribu dalil,
tapi satu dosa saja terasa enteng.
Dan lebih menakutkan…
ketika kita merasa sudah aman.
Renungan ini bukan untuk menuduh siapa pun.
Justru karena aku takut,
takut menjadi orang yang semakin banyak bicara tentang Allah,
tapi semakin jauh dari Allah.
Takut menjadi hamba yang sibuk mengingatkan orang lain,
tapi lupa memperingatkan dirinya sendiri.
Takut menjadi orang yang ilmunya terlihat bercahaya,
padahal hatinya perlahan redup dan asing dari Tuhannya.
Semoga renungan ini menjadi pintu kecil untuk kembali menunduk,
agar ilmu bukan lagi hiasan di lisan,
tapi kompas yang menuntun tubuh dan hati
kembali kepada-Nya.
Gumaman Penutup
Ya Allah…
Engkau yang Maha Mengetahui isi hati kami,
Engkau yang tahu berapa banyak ilmu yang kami dengar
tapi tidak kami amalkan.
Jangan biarkan kami tertipu oleh kata-kata kami sendiri,
oleh hafalan kami,
oleh pemahaman kami.
Jangan biarkan ilmu kami menjadi hijab yang menutup pintu taubat.
Lembutkan hati kami
agar setiap ilmu melahirkan takut,
setiap pemahaman melahirkan tunduk,
dan setiap kebenaran melahirkan perubahan.
Ya Rabb,
sembuhkan kami dari rasa aman yang palsu,
dan dekatkan kami kepada-Mu
dengan cahaya ilmu yang Engkau berkahi,
ilmu yang menggerakkan langkah,
bukan sekadar mengisi kepala.
Amin…
Semoga Engkau menjadikan renungan ini saksi
bahwa kami ingin kembali,
meski sering tersandung,
meski sering lupa,
meski sering tertipu oleh diri sendiri.
“Tulisan ini bukan untuk menilai orang lain, hanya gumaman hati awam yang takut tertipu oleh dirinya sendiri.”
Sumber dari FB

Tiada ulasan:
Catat Ulasan