Jumaat, 26 Disember 2025

*Dzikir: Hidupnya Ruh dalam Jalan Thariqah*

 

*Dzikir: Hidupnya Ruh dalam Jalan Thariqah*
Dalam khazanah tasawuf, dzikir bukan sekadar amalan lisan, melainkan nafas kehidupan ruhani. Rasulullah ﷺ menegaskan:
> “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi fondasi utama para masyayikh thariqah bahwa dzikir adalah tanda hidupnya hati, bukan sekadar rutinitas ibadah.
*1. Dzikir sebagai Tanda Kehidupan Ruhani*
Dalam perspektif tasawuf, makna “hidup” dan “mati” di sini bukan biologis, melainkan spiritual.
Orang yang tidak berdzikir, meski jasadnya bergerak, hakikatnya hatinya mati:
- tidak peka terhadap cahaya Ilahi,
- tidak menangkap ilham,
- dan terhijab dari makna-makna ketuhanan.
Sebaliknya, orang yang istiqamah berdzikir:
- hatinya hidup,
- ruhnya aktif,
- dan batinnya tersambung dengan limpahan nur Allah.
Inilah kehidupan sejati menurut tasawuf.
*2. Orang Berdzikir Seperti "Orang Hidup" yang Mampu Melakukan Apa yang Tidak Bisa Dilakukan “Orang Mati”*
Makna lanjutan dari hadis tersebut adalah bahwa orang yang berdzikir mampu melakukan hal-hal ruhani yang mustahil dicapai oleh hati yang mati.
Dalam bahasa tasawuf:
- hati yang hidup menerima futūḥāt (pembukaan),
- memahami hikmah tanpa harus banyak penjelasan tekstual,
- dan diberi kekuatan menghadapi ujian hidup dengan ketenangan yang tidak rasional secara duniawi.
Ini bukan sihir, bukan pula keajaiban yang dikejar, melainkan efek alamiah dari hidupnya ruh.
*3. Keistimewaan Dzikir Istiqamah dengan Ijazah Mursyid*
Syekh Muhammad Nazim berulang kali menegaskan bahwa dzikir yang dibimbing mursyid berbeda secara hakikat dengan dzikir tanpa sanad ruhani.
Dzikir yang mendapat ijazah (otorisasi) dari mursyid:
- tersambung sanadnya hingga Rasulullah ﷺ,
- terjaga adabnya,
- dan aman dari penyimpangan ego (nafs).
Keberkahannya tidak terbatas, karena ia bukan hasil usaha pribadi semata, melainkan limpahan dari mata rantai ruhani para awliya.
Namun, para mursyid Naqsybandi Haqqani tidak menjanjikan keajaiban, melainkan keselamatan hati dan istiqamah sampai akhir hayat.
*4. Hikmah Ditutupnya Keajaiban Dzikir: Agar Murid Tidak Terhenti di Tengah Jalan*
Dalam banyak sohbahnya, Syekh Muhammad Nazim menjelaskan prinsip penting dalam pendidikan ruhani:
> “Para mursyid Naqsybandi Haqqani menutup karunia-karunia luar biasa yang diberikan kepada murid, agar murid tidak jatuh pada kesombongan dan kelalaian.”
Keajaiban dan keistimewaan memang ada, tetapi:
- disembunyikan,
- ditahan,
- dan tidak diperlihatkan.
Tambahan penting yang beliau tekankan adalah:
banyak murid berhenti di tengah jalan, bukan karena dzikirnya salah, tetapi karena terpukau oleh anugerah keajaiban yang muncul akibat dzikir, lalu lupa tujuan hakiki berthariqah.
Dalam tasawuf:
- keajaiban adalah hasil samping,
- bukan tujuan perjalanan.
Kekaguman berlebihan terhadap karamah dapat melahirkan:
- ‘ujub (kagum pada diri),
- lalu kelalaian,
hingga murid berhenti pada pengalaman ruhani, bukan sampai kepada Allah.
Karena itu, para mursyid melindungi muridnya dengan menutup keajaiban, agar perjalanan tidak berhenti sebelum mencapai tujuan sejati, yaitu wushūl ilā Allāh (sampai kepada Allah) dalam ma‘rifat.
Syekh Nazim juga menjelaskan bahwa penyingkapan besar (kasyf dan futūḥāt) akan dibuka kembali pada masa Imam Mahdi, ketika umat membutuhkan kekuatan ruhani sejati, bukan kekaguman personal.
*Dzikir Bukan untuk Hebat, tapi untuk Sampai kepada Allah*
Jalan thariqah mengajarkan bahwa:
- dzikir bukan untuk merasa istimewa,
- bukan untuk memamerkan keajaiban,
tetapi untuk menghidupkan hati dan mematikan ego.
Murid yang benar tidak berhenti pada anugerah, melainkan terus berjalan hingga:
- egonya luluh,
- adabnya sempurna,
- dan Allah menjadi tujuan, bukan pengalaman ruhani.
Dalam tasawuf, keselamatan di akhir hayat dan ma‘rifat kepada Allah jauh lebih berharga daripada seluruh keajaiban di dunia.

Sumber dari FB

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

PENYAKIT PENYAKIT BATIN YANG MERUSAK AMAL

  PENYAKIT PENYAKIT BATIN YANG MERUSAK AMAL Penyakit batin merupakan faktor paling berbahaya dalam kehidupan spiritual seorang hamba karena ...