HAKIKAT MEMBACA “KITAB” DI DALAM DIRI: PERSPEKTIF AL-QUR'AN, AL-HADITS, DAN PANDANGAN ULAMA' TERKEMUKA ( AL-GHAZALI, IBNU ARABI, RUMI, HAMKA)
ABSTRAK
Tulisan ini membahas konsep “membaca kitab di dalam diri” sebagai sebuah pendekatan introspeksi spiritual dalam Islam.
Kajian ini mengeksplorasi bagaimana Al-Qur’an dan Al-Hadits, serta penafsiran ulama terkemuka, memandang manusia sebagai “kitab” yang terbuka yang mengandung tanda-tanda kebesaran dan kehendak Allah.
Melalui metode kajian pustaka (library research) dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu’i), tulisan ini menyimpulkan bahwa proses membaca diri merupakan jihad akbar yang bertujuan untuk mengenal Allah (ma’rifatullah), mengoreksi kekurangan, dan menyelaraskan kehendak diri dengan kehendak Ilahi.
Konsep ini meneguhkan kesatuan antara ilmu syariat (hukum) dan ilmu hakikat (esensi) dalam perjalanan spiritual seorang Muslim.
KATA KUNCI:
Kitab Diri, Introspeksi, Ma’rifatullah, Tanda-tanda Allah, Tasawuf.
BAB I - PENDAHULUAN
Dalam tradisi keilmuan Islam, terminologi “kitab” tidak hanya merujuk pada teks suci yang tertulis (Al-Qur’an), tetapi juga pada alam semesta (ayat kauniyah) dan diri manusia itu sendiri.
Diri manusia sering digambarkan sebagai “kitab” mikro kosmos yang memuat petunjuk dan rahasia Ilahi.
“Membaca” kitab ini berarti melakukan proses kontemplasi, introspeksi (muhasabah), dan penggalian makna eksistensial untuk mencapai tujuan penciptaan.
Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan landasan konsep tersebut dalam sumber primer Islam, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits, serta menyajikan elaborasi dari para ulama terkemuka.
BAB II - LANDASAN TEORI: DIRI SEBAGAI KITAB DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Manusia dalam Islam dipandang sebagai makhluk istimewa yang dianugerahi potensi ruhaniyah dan jasmaniyah.
Proses “membaca” diri merupakan upaya untuk mengaktualisasikan potensi tersebut sesuai dengan fitrah penciptaannya.
Pendekatan ini bersifat multi-disiplin, melibatkan ilmu tauhid, tasawuf, dan psikologi Islam.
BAB III - MEMBACA KITAB DIRI DALAM AL-QUR'AN
Al-Qur’an memberikan isyarat kuat tentang pentingnya merenungi diri sebagai sumber ilmu dan pengenalan akan Allah.
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fussilat [41]: 53).
Ayat ini secara eksplisit menyandingkan “tanda-tanda di ufuk” (alam makro) dengan “tanda-tanda dalam diri mereka” (alam mikro). Diri manusia adalah locus dimana kebenaran Ilahi dapat disaksikan dan “dibaca”.
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ . وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 20-21).
Pertanyaan retoris “Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” adalah seruan langsung untuk melakukan observasi dan kontemplasi terhadap diri sendiri.
BAB IV - MEMBACA KITAB DIRI DALAM AL-HADITS
Hadits Nabi Muhammad SAW memperkuat dan mengoperasionalkan konsep Qur’ani ini.
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” (Hadits ini sering dinisbatkan sebagai hadits qudsi atau atsar ulama, dan banyak dikutip dalam literatur tasawuf. Statusnya sebagai hadits marfu’ diperdebatkan, namun maknanya diakui kebenarannya secara esensial oleh para ulama).
Makna hadis ini menjadi landasan filosofis seluruh proyek penyelidikan diri dalam Islam. Pengenalan diri yang sejati (bukan nafs semata, tetapi hakikat penciptaannya) membimbing pada pengenalan akan Allah.
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah (introspeksilah) diri kalian sebelum kalian dihisab.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, hasan).
Hadits ini memberikan dimensi praktis: “membaca diri” adalah proses muhasabah harian untuk mengevaluasi amal, niat, dan kondisi hati.
BAB V - PANDANGAN ULAMA TERKEMUKA*
5.1. IMAM AL-GHAZALI
Imam Al-Ghazali (w. 1111 M): Dalam Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali menekankan pentingnya muhasabah an-nafs (introspeksi diri) dan muraqabah (merasa selalu diawasi Allah). Baginya, hati (qalb) adalah “kitab” tempat Allah menuliskan cahaya-Nya. Tugas manusia adalah membersihkan “kotoran” yang mengotorinya agar dapat “membaca” kebenaran dengan jelas.
5.2. IBNU ARABI
Ibnu Arabi (w. 1240 M): Dalam konsep ‘Alam ash-Shaghir (mikro kosmos), manusia adalah cermin yang memantulkan semua nama dan sifat Allah (al-Asma’ al-Husna). “Membaca diri” berarti menyelami hakikat wujud diri untuk menemukan jejak-jejak Ilahi dalam setiap aspek eksistensi.
5.3. JALALUDDIN RUMI
Jalaluddin Rumi (w. 1273 M): Melalui syair-syairnya, Rumi menggambarkan tubuh dan jiwa sebagai kitab yang harus ditafsirkan. Penderitaan, cinta, dan kegembiraan adalah “ayat-ayat” yang mengajarkan tentang Kekasih Sejati (Allah).
5.4. BUYA HAMKA
Buya Hamka (w. 1981 M): Dalam Tasawuf Modern, Hamka mendemokratisasikan konsep ini. “Membaca kitab diri” bukan hanya untuk para sufi, tetapi bagi setiap Muslim yang ingin mencapai ketenangan batin (nafs al-muthma’innah). Ia menekankan pendekatan praktis melalui tafakur dan dzikir.
BAB VI - ANALISIS DAN DISKUSI
Konsep“membaca kitab diri” menjembatani dimensi eksoterik (syariat) dan esoterik (hakikat).
Dari perspektif syariat, muhasabah diri adalah kewajiban untuk memastikan ketaatan.
Dari perspektif hakikat, ia adalah jalan menuju ma’rifatullah. Proses ini melibatkan tiga tahap utama: (1) At-Tafakkur (merenci), merenungi ciptaan Allah dalam diri; (2) Al-Muhasabah (mengevaluasi), mengaudit amal perbuatan dan niat; (3) Al-Mujahadah (bersungguh-sungguh), membersihkan hati dari sifat-sifat tercela (tazkiyatun nafs).
BAB VII - PENUTUP DAN KESIMPULAN
“Membaca kitab di dalam diri”merupakan sebuah imperatif spiritual dalam Islam yang berlandaskan kuat pada Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Konsep ini mengajak manusia untuk beralih dari melihat diri sebagai entitas biologis semata, menjadi sebagai teks suci yang hidup yang penuh dengan makna dan petunjuk Ilahi. Melalui pandangan para ulama dari berbagai mazhab pemikiran, konsep ini dikembangkan menjadi metodologi yang komprehensif untuk pengembangan diri dan pendekatan kepada Allah. Dengan demikian, pengenalan diri yang mendalam menjadi kunci bagi pengenalan hakiki kepada Pencipta, yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan ketakwaan dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
1. Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahan. (Departemen Agama Republik Indonesia).
2. Ahmad ibn Hanbal. (t.th.). Musnad Al-Imam Ahmad ibn Hanbal. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi.
3. Al-Ghazali, Abu Hamid. (t.th.). Ihya’ Ulumuddin. Jilid 3 & 4. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
4. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Ayat: Arsyurrahman, Jakarta: Pustaka Asyraf Internasional. 2016.
5. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Surah: Midadurrahman, Jakarta: Pustaka Asyraf Internasional. 2016.
6. At-Tirmidzi, Abu Isa. (t.th.). Sunan At-Tirmidzi. Riyadh: Darussalam.
7. Hamka. (2015). Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit.
8. Ibn ‘Arabi, Muhyiddin. (t.th.). Al-Futuhat al-Makkiyyah. Kairo: Al-Hai’ah al-Mishriyyah al-‘Ammah li al-Kitab.
9. Nasr, Seyyed Hossein. (2007). The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition. New York: HarperOne.
10. Rumi, Jalaluddin. (2004). Matsnawi. (Terjemahan oleh Reynold A. Nicholson). London: The Gibb Memorial Trust.
11. Asy-Sya’rani, Abdul Wahhab. (t.th.). Al-Yawaqit wa al-Jawahir. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Sumber dari FB

Tiada ulasan:
Catat Ulasan