Selasa, 12 Mac 2024

 


Awaludini Ma'rifatullah"
Ayat-ayat kauniyyat bukti kehebatan Allah
Soalan
APAKAH yang dimaksudkan sebagai awal agama mengenal Allah? Bagaimana dapat saya mengenal Allah SWT dengan lebih dekat lagi?
Jawapan
Soalan yang jarang orang berterus terang mengenainya. Saya yakin krisis tidak mengenal Allah SWT adalah suatu yang telah melarat setengah kita. Ramai yang mendakwa hidup dia bertuhankan Allah SWT, tapi bila tanya kenalkah dia kepada Allah, pasti akan membisu bukti tiada apa untuk dijelaskan. Sekali gus memperlihatkan kebanyakan kita hanya pandai menyebut beriman kepada Allah, percaya dan yakin kepada Allah dan sebagainya tapi hasilnya tidak begitu.
Lalu, manusia masih tercari-cari kaedah untuk mengenal Allah SWT. Maka pelbagai buku berkaitan dengan akidah dibaca, kuliah-kuliah mengenai akidah juga dihadiri, namun iman dan kepercayaan serta keakraban dengan Allah masih di takuk lama. Puncanya, kita membaca buku tauhid atau akidah tapi kita tidak menggunakannya sebagai wasilah untuk mengenal Allah SWT. Contohnya, dalam buku-buku akidah disebut bahawa wujudnya alam ini adalah bukti wujudnya pencipta.
Apa yang pasti ialah selain Allah SWT adalah alam. Manusia adalah termasuk dalam alam, bukit gunung, hujan, sungai laut, bintang-bintang serta serangga serta yang selainnya yang bergelar makhluk adalah termasuk dalam alam. Alam ini sangat hampir dengan manusia, sering manusia menggunakannya bagi memenuhi keperluan hidup, tetapi malangnya jarang sekali manusia berfikir akan kurniaan tersebut.
Soalan, berapa ramai di antara kita yang apabila melihat titisan air hujan yang membasahi bumi dapat merasakan kehebatan Allah yang menurunkan hujan dari langit. Hasilnya, sebagai seorang yang waras bukan air hujan yang dilihat malahan kekuasaan dan kehebatan Allah SWT dirasainya. Firman Allah SWT yang bermaksud: (Setelah jelas kesesatan syirik itu) maka hadapkanlah dirimu (engkau dan pengikut-pengikutmu, wahai Muhammad) ke arah ugama yang jauh dari kesesatan; (turutlah terus) ugama Allah, iaitu ugama yang Allah menciptakan manusia (dengan keadaan bersedia dari semulajadinya) untuk menerimanya; tidaklah patut ada sebarang perubahan pada ciptaan Allah itu; itulah ugama yang betul lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (al-Rum: 30)
Dalam ayat ini Allah SWT mengulangi kalimah fitrah sebanyak dua kali dengan membawa maksud agama yang suci dan manusia dijadikan dengan satu naluri dan keinginan yang cenderung kepada agama yang benar. Ringkasnya, naluri manusia perlu dijodohkan dengan mengenal Allah SWT bagi memenuhi keinginan fitrah bagi mengelak berlakunya kesesatan.
Ketika belajar di Jordan saya pernah menghadapi persoalan mengenal Allah lalu saya ajukan kepada pensyarah yang mengajar subjek akidah, iaitu Profesor Dr. Abdul Rahman Qahtan al-Duriy, pengarang kitab Usuluddin Islamiy yang dijadikan silibus pada ketika itu. Saya tanya: "Sudah berapa kitab akidah saya baca dan pelajari tapi masih gagal mengenal Allah SWT, kenapa Dr.?"
Beliau menjawab: "Apa kamu belajar dan saya ajar adalah kaedah bagi membolehkan kamu sampai kepada pemahaman akidah yang betul. Jika kamu ingin mengenal Allah SWT bacalah al-Quran terutamanya ayat-ayat kauniyyat (kejadian alam) pasti kamu akan merasakan kehebatan Allah, sekali gus membawa kamu mengenal Allah SWT dengan lebih dekat lagi."
Mulai hari itu saya berusaha membaca dan memahami ayat-ayat kauniyyat, hasilnya rebah saya di hadapan kehebatan dan keakraban Allah dengan hamba-hamba-Nya. Di situ jugalah saya mula merasakan kemanisan iman. Pesan yang sama ingin saya sarankan kepada saudara, bacalah al-Quran perhatikan kehebatan Allah SWT, lihat bagaimana Allah SWT mengajak manusia berfikir, supaya akal yang waras digunakan bagi mengenal Allah SWT. Akhirnya barulah kita sedar bahawa Allah SWT tidak jauh daripada kita cuma kita yang menjauhkan diri daripada-Nya.
Contoh yang lain, firman Allah SWT yang bermaksud: Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi dan pada pertukaran malam dan siang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan, dan keluasan rahmat Allah) bagi golongan yang berakal. (Ali Imran: 190)
Dalam ayat ini Allah SWT mahukan setiap orang yang berakal berfikir dengan menggunakan pancaindera yang paling berharga iaitu otaknya bagi mencapai natijah yang waras, bukan lagi jawapan yang tidak berasas. Bumi menjadi tempat kita berpijak, manakala langit dijunjung, siang dan malam silih berganti bagi perhitungan masa, hari, bulan dan tahun, bukan sekadar itu wahai manusia hendaknya harus berfikir dengan teliti. Bila manusia mendongak ke langit dilihat bulan dan bintang, bila melihat bumi melihat, gunung ganang dan pokok kayu, sungai dan lautan serta bermacam-macam lagi semua ini membahasakan kepada manusia akan ciptaan Allah SWT yang tiada perkongsian dengan-Nya.
Kesimpulannya, fitrah manusia pasti menyedari adanya tuhan yang satu yang mengatur dan mentadbir akan alam semesta ini, ditambah pula dengan adanya al-Quran, hadis-hadis Rasulullah SAW dan penjelasan para ulama mengenai mengenal dan menghampirkan diri kepada Allah SWT.
BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
"Awaludini Ma'rifatullah"
Bermula awal agama mengenal Allah
Dengan apa Allah dikenal?
Dengan tiga perkara
mana yang tiga perkara itu?
Pertama tahu akan "TUBUH"
Kedua tahu akan "HATI"
Ketiga tahu akan "NYAWA"
Ada berapa pembagian tubuh?
Tubuh dibagi tiga
Yang mana yang tiga itu?
Pertama tubuh yang kasar
Kedua tubuh yang halus
Ketiga tubuh yang bathin
Maksud tubuh kepada hati
Maksud hati kepada nyawa
Maksud nyawa kepada Allah
Kalau iya memang benar kita orang yang menyembah Allah.
Berapa buah jalan manuju kahadirat Allah?
Adapun jalan menuju kehadirat Allah itu empat jalannya
Manakah yang empat itu?
Yaitu : yang partama jalan SYARIAT
yang kedua jalan TARIKAT
yang ketiga jalan HAKIKAT
yang keempat jalan MAKRIFAT
SYARIAT: pegang syariat tubuh yang kasar.
TARIKAT: pegang tarikat tubuh yang halus.
HAKIKAT: pegang hakikat tubuh yang batin.
MAKRIFAT: pegang makrifat Tuhan Allah yang punya pegang.
SYARIAT:jatuh kepada kita,jadi apa dia bagi kita?
"JADI TUBUH".
TARIKAT:jatuh kepada kita,jadi apa dia bagi kita?
"JADI HATI".
HAKIKAT:jatuh kepada kita,jadi apa dia bagi kita?
"JADI NYAWA".
MAKRIFAT: jatuh kepada kita,jadi apa dia bagi kita?
"JADI RAHASIA".
SYARIAT: pegang syariat tubuh yang kasar.
Apa bunyi zikirnya?
"LAA ILAHA ILLALLAH".
TARIKAT: pegang tarikat tubuh yang halus.
Apa bunyi zikirnya?
"ALLAH ALLAH".
HAKIKAT: pegang hakikat tubuh yang batin
Apa bunyi zikirnya?
"HU… ALLAH".
MAKRIFAT: pegang makrifat Tuhan Allah yang punya pegang.
Apa bunyi zikirnya?
( bunyinya ……….. tiada berhuruf,tiada bersuara,lenyap selenyap-
lenyapnya,karam sekaram-karamnya……….)
SYARIAT:adalah jalan tubuh,
Tahu ketiadaan tubuh kita lahir dan bathin
Zahirnya tubuh batinnya anggota.
TARIKAT:adalah jalan hati,
Tempat bergantung baik dan jahat,lahir dan batin
Zahirnya akal bathinnya pangana/pengenal(=ingat kepada Allah)
HAKIKAT: adalah jalan nyawa
Pencari jalan kepada Allah,lahir dan batin
Zahirnya angin bathinnya Muhammad
MAKRIFAT:adalah jalan rahasia Allah yang punya pegang(urusan Allah) zahir dan bathin
Zahirnya Muhammad batinnya Allah
SYARIAT : kalau mati dimana kuburnya?
"Dapat dibumi yang tak berpijak"
TARIKAT : kalau mati dimana kuburnya?
"Dapat dilangit tak berbintang"
HAKIKAT : kalau mati dimana kuburnya?
"Dapat diangin yang tak berhembus"
MAKRIFAT : kalau mati dimana kuburnya?
"Dapat dilaut yang tak berombak"
MATI SYARIAT : mati TABI’I namanya.
MATI TARIKAT : mati MAKNAWI namanya.
MATI HAKIKAT : mati SURI namanya.
MATI MAKRIFAT :mati HISI namanya.
Bila ikhlas mengamalkan salah satu zikir dalam mata pelajaran Tharikat Naqsyabandiyah
maka Allah akan memberi rasa mati yang empat perkara.
1.Dapat merasakan MATI TABI’I
Yaitu mati panca indra yang lima,seluruh anggota tubuhnya secara lahir dan batin telah membaca Allah Allah dan suara alam ini seolah berzikir dan terdengar membaca kalimat Allah Allah,berzikir dengan sendirinya,hingga yang tinggal hanyalah rasa rindu terhadap Allah.Orang yang telah merasakan mati Tabi’i itulah orang yang telah sampai dengan Rahmat Allah pada maqam tajalli Af’alullah(nyata perbuatan Allah SWT).
2.Dapat merasakan MATI MAKNAWI
Yaitu merasakan dirinya lahir dan batin telah hilang dan seluruh alam ini telah lenyap semuanya,yang ada hanyalah kalimat Allah Allah semata-mata dimanapun ia memandang,kalimat Allah yang ditulis dengan Nur Muhammad.
Orang yang telah merasakan mati maknawi itulah orang yang telah sampai dengan rahmat Allah pada maqam Asma Allah SWT,atau biasa disebut maqam Tajalli Asma(nyata nama Allah SWT),nama dengan yang punya nama tidak terpisahkan sedikitpun.”Dengan nama Allah SWT,yang tidak memberi mudarat/binasa dilangit dan dibumi dan Dia maha mendengar lagi maha mengetahui”.
3.Dapat merasakan MATI SURI
Yaitu didalam perasaan orang itu telah lenyap segala warna-warni,
yang ada hanya Nur semata-mata,yakni Nurullah,Nur Dzatullah,Nur Sifatullah,Nur Asma Allah,Nur Af’alullah,Nur Muhammad,Nur Baginda Rosulullah,Nur Samawi,Nur ‘Ala Nur.
Inilah orang yang telah diberi pelita oleh Allah untuk meluruskan jalannya.
Orang yang telah merasakan mati suri itulah orang yang telah sampai dengan rahmat Allah pada makam Tajalli Sifattullah(Nyata Sifat Allah).
4.Dapat merasakan MATI HISI
Yaitu dalam perasaannya telah lenyap kalimat Allah,dan telah lenyap pula seluruh alam ini secara lahir dan batin,dan telah lenyap pula nur yang tadinya terang benderang,yang ada dan dirasakannya adalah Dzat Allah SWT,bahkan dirinya sendiripun dirasakannya hilang musnah,ia telah dibunuh Allah SWT.dan dialah sebagai gantinya,sebagaimana firman Allah SWT didalam Hadist Qudsi:
“Bahwasanya hamba-Ku,apabila AKU telah kasihi,AKU bunuh ia,lalu apabila telah AKU bunuh,maka AKUlah sebagai gantinya”
Maka langkahnya seolah-olah langkah Allah
Pendengarannya,pendengaran Allah
Penglihatannya,penglihatan Allah
Geraknya,kehendak Allah
Perbuatannya,perbuatan Allah
Orang yang telah mendapat mati hisi,ia akan melihat Allah SWT dalam perasaannya
Surat Al-Baqarah ayat 115 :
“Timur dan barat kepunyaan Allah SWT,kemana kamu menghadap,maka disana ada wajah Allah”
Surat An-Nisa ayat 126 :
“Dialah Allah yang awal,dan Dialah yang zhahir dan Dialah Allah yang batin”
Orang yang telah merasakan mati hisi ,itulah orang yang telah sampai dengan Rahmat Allah SWT pada maqam Tajalli Dzat.
Walllahu a'lam bishawab
SalinPadamNaikTurun
Awaluddin ma`rifatrullah..
maksudnya:permulaan agama(Islam) itu adalah mengenal Allah.
Oleh itu,ilmu usuluddin itu tidak boleh dicuaikan daripada mempelajarinya kerana ia merupakan ilmu untuk kita memperteguhkan keyakinan dan kemantapan aqidah di hati tanpa dicelahi unsur syak,waham,zhan,dan jahil.
sebagai contoh:Rasulullah merupakan orang yang mempunyai kekuatan aqidah yang hebat,oleh itu kita dapat lihat disini,syariat dan akhlak yang dibawa oleh Rasulullah itu juga cantik dan sempurna.
Segala ibadah dan amalan kita merupakan hadiah atau persembahan yang akan kita berikan kepada Allah SWT..dalam konteks awaluddin ma`rifatullah,jika amal jika kita melakukan ibadah kita tanpa kita kenal Allah SWT,maka hadiah yang akan kita berikan itu tidak akan sampai kepadaNya.Ibarat kita ingin memberi surat kepada seorang raja,tetapi kita tidak yang mana satu raja itu,maka surat itu tidak akan sampai kepada raja tersebut.mungkin kita akan berikan kepada pembesar istana yang kita anggapkan sebagai raja
Begitulah juga ibadah kita seperti solat,puasa,zakat,jihad dan sebagainya akan sampai kepada Allah jika kita benar2 mengenali Allah dengan sungguh2.
Mengenali Allah ini amat penting kerana jika tidak mengenali Allah,bimbang dan takut segala amal kita tidak sampai kepada Allah...Malah segala ibadah kita hanya ditipu oleh Syaitan yang akan sentiasa menyesatkan kita.
Alhasilnya,apabila semua orang mengenali Allah dengan sebenarnya,Aqidah umat islam teguh,maka akan lahir sebuah negara yang aman makmur yang menjalankan hukum Allah di atas muka bumi ini,masyarakat islam yang berakhlak mulia, maka negara itu akan mendapat keamapunan Allah kerana membina sebuah daulah islam yang menjalankan segala aspek adalah berkaitan dengan islam samada dari segi perundangannya,politiknya,ekonomi dan budaya islam.Justeru lahirlah negara yang disebut sebagai,BALDATUN TOYYIBATUN WA RABBUN GHAFUR....

iNSYAALLAH.....

{ Sumber dari FB Awaludin Makrifatullah }


 


Bismillahirrahmanirrahim

Khamis, 11 Januari 2024

SEBENAR BENAR JODOH

 


SEBENAR BENAR JODOH
-------------------------------------------
Benarkah kita hidup ini pasti miliki atau mempunyai jodoh atau pasangan hidup ?
Dan didalam AL QURAN Allah menjelaskan tentang salah satu tanda kebesaran - Nya Artinya ....Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)
(QS. Az Zariyat: 49)
Lalu bagaimana ada orang yang tidak mendapatkan "jodoh" nya ?
Bahkan disebut nabi didalam haditsnya ....
Bahwa bukan termasuk umatku apabila tidak menjalankan sunnahku (menikah)
Ini realitas kehidupan Dan boleh terjadi baik pada seorang lelaki atau perempuan Bahkan sampai meninggal dunia mereka tidak kunjung menikah.Tidak miliki pasangankah ?
Dustakah ayat Tuhan itu ? Begitu malangkah yang tidak miliki pasangan?
Hingga disebut bukan umat ? Sesungguhnya tiap tiap insan yang lahir kedunia ini sudah berjodoh.
Tuhan ciptakan sempurna dan tidak kurang satu apapun jua
LIHATLAH JODOH SEJATI ITU ADA DIDIRI SENDIRI ...
Dia tidak pernah meninggalkan. Dia setia dari adamu sampai akhirmu. Kitalah yang buta ....Kitalah yang lalai sehingga nestapa ...
Kitalah yang tak kunjung mengenal - Nya ...Itulah mengapa disebutkan didalam firman - Nya
BAHWA HIDUP ITU BERPASANGAN KARENA PASANGAN JODOH SEJATI INILAH MAKA BOLEH HIDUP
Bukan yang disebut isteri yang pasti mati. Bukan yang disebut suami yang pasti meninggalkan saat masanya
Dan apabila seseorang telah mengenali JODOH SEJATI
Itulah yang dimaksud Nabi sebagai umat yang menjalankan sunnahnya . MENIKAH DZAHIR BATHINNYA .....
JODOH SEJATI YANG SEMPURNA.
Tidak boleh dipisah hingga akhirnya. Dan didalam Injil Tuhan sampaikan berita ini lewat ayat Matius yang berbunyi ...
"Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu
Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
.......................
Maka berbahagialah mereka yang menemukan kekasih sejatinya
Mereka tidak gundah gulana dengan percobaan dunia
Meski didalam kehidupan tidak menemukan pasangan seiring sejalan

Rabu, 10 Januari 2024

Jiwa Raga dan Hiburan

 

Santai seni bersama Adinda Amiro - Pemaidani

Jiwa Raga dan Hiburan

Jiwa/Diri adalah kehidupan yang ada pada setiap diri, dalam Bahasa Arab disebutkan dengan kata : “NAFS” yang artinya ; Jiwa/Diri.
Sebagaimana Allah berfirman :
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan Ridho serta di Ridhoi. Masuklah ke dalam golongan hamba–hamba Ku. Dan masuklah ke dalam Syurga Ku”.
(QS, Al-Fajr : 27-30)

Jiwa/Diri adalah suatu kesatuan antara Ruh dan Jasad, di mana tatkala Ruh dihembuskan kepada sekalian batang tubuh/Jasad maka bernamalah ia dengan Jiwa/Diri.

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari seorang Ulama dan Awliya Allah yang berguru kepada Syekh Mursyid Muhammad Saman Al-madani Al-hasani di Kota Madinah salah seorang zuriat daripada Baginda Rosulullah Saw yang juga sebagai penjaga Maqom Nabi, mengatakan :
Bahwa sebenar-benarnya Diri itu adalah Ruh
Sebenar-benarnya Ruh itu adalah Nafs/Jiwa
Sebenar-benarnya Nafs/Jiwa itu adalah Naik Turun Nafas
Naik Turun Nafas itu adalah Sir/Rahasia
Dan adapun yang dikatakan Sir/Rahasia itu adalah Nur Muhammad Saw.

Islam adalah agama fitrah. Artinya, perkara apa saja yang ada di dalam Islam sesuai dengan fitrah manusia. Misalnya, manusia cenderung menghambakan diri kepada apa yang dicintainya. Oleh karena itu Islam memberi petunjuk, kepada siapakah seharusnya kita menghambakan diri. Sebagai contoh, walaupun manusia menyukai harta dan kekuasaan. Anehnya, kita tidak suka jika disebut hamba harta atau hamba kekuasaan, meskipun sikap kita memang seperti itu. Tapi kita redha dan suka jika disebut-sebut sebagai hamba ALLAH. 

Artinya, fitrah manusia memang ingin menjadi hamba kepada ALLAH, Tuhan Semesta Alam.

Manusia suka kepada ilmu dan kepandaian agar kehidupannya maju dan tidak beku (jumud). Memang ALLAH menjadikan jiwa manusia begitu keadaannya. Setiap orang juga suka kepada makanan yang lazat, suka kepada lawan jenis, suka kepada badan dan akal yang sehat. Oleh karena itu Tuhan datangkan agama Islam yang mengajar manusia untuk memenuhi tuntutan fitrah tersebut. 

Sabda Rasulullah, “Menuntut ilmu wajib bagi lelaki dan perempuan” (HR. Ibnu Abdi Al Barri). Kemudian jika mengikuti Rasulullah SAW, maka sunnat hukumnya makan daging seminggu sekali. Islam juga mendorong pernikahan dan melarang zina sebab zina hanya akan menganiaya kaum perempuan. Sudah tentu tidak ada orang yang mahu teraniaya.

Nafsulah yang akan memimpin manusia

Begitulah Islam agama fitrah. Apabila sesuatu disukai oleh fitrah, maka Islam akan membenarkan dan mendorongnya. ALLAH yang menciptakan fitrah manusia, maka ALLAH pula yang menunjukkan cara bagaimana keinginan fitrah itu dipenuhi karena begitulah keinginan fitrah manusia. Jika keinginan fitrah ini tidak tercapai maka manusia akan merasa susah, dukacita dan gelisah. Namun tanpa petunjuk dari ALLAH, nafsulah yang akan memimpin manusia untuk melaksanakan kehendak fitrah itu secara liar tak terkendali. Maka, hasilnya akan buruk sekali.

Sebagai contoh adalah keinginan fitrah manusia untuk berhibur. Batin manusia perlu untuk berhibur sebagaimana jasad lahir manusia perlu beristirahat. Jika tidak dipenuhi maka akan letihlah batin manusia dalam menjalani kehidupan ini. Untuk memenuhi keinginan itulah dapat kita lihat betapa majunya teknologi hiburan saat ini. Jika dulu manusia berhibur dengan karya-karya sastera, pertunjukan cerita dan alat-alat musik, maka manusia zaman sekarang berhibur dengan film, musik, teknologi animasi, efek-efek visual yang memanjakan imajinasi, musik dengan istrumen yang semakin kompleks, game interaktif, synthesizer, virtual reality dsb. Semuanya bertujuan untuk memuaskan keinginan batin manusia. Namun, sebenarnya batin manusia yang manakah yang hendak dihibur?

Di samping memiliki jasad lahir, manusia juga memiliki unsur batin yaitu akal, nafsu dan hati. Dengan melihat kesan hiburan-hiburan tersebut pada diri manusia maka dapat kita pilih menjadi hiburan akal, nafsu atau hati. Sebagai contoh, berhibur akal misalnya mempelajari hal-hal baru, meneliti, berdiskusi dsb. Islam mendorong keinginan fitrah untuk berhibur tersebut selama mengikuti petunjuk ALLAH yang menciptakan manusia. 

Ilmu menjadikan manusia sombong

Misalnya, jika yang dipelajari adalah ilmu sihir maka Islam melarangnya karena hanya akan membawa kerusakan. Jangankan ilmu sihir, ilmu agama pun akan membawa keburukan jika tidak dikaitkan dengan tauhid dan akhlak. Ilmu tersebut hanya akan menjadikan manusia sombong, merasa mulia, bermegah-megah, hasad dengki, ego dsb. Apalagi ilmu-ilmu yang lain jika tidak dikaitkan juga dengan Tuhan. 

Begitu juga berhibur nafsu. Misalnya, keinginan manusia kepada lawan jenis, ALLAH telah tunjukkan caranya melalui pernikahan. Jika tanpa cara yang telah ALLAH tunjukkan yaitu pernikahan, hasilnya hanya akan rusak dan merusakkan. Sudahlah tidak mendidik dan mendisiplinkan nafsu agar tunduk kepada fitrah kita yang ingin menghamba kepada ALLAH, malah menjadikannya semakin liar tidak terkendali. 

Sedangkan Al Quran telah mengajarkan kepada kita, 
“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan” ( Yusuf:53 )

Sebenarnya, hakikat berhibur adalah terhiburnya hati dengan mengingati ALLAH. 
FirmanNya dalam Al Quran, 
“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Ar Raad: 28) 

Dengan demikian hiburan akal dan nafsu hanya akan menghibur hati jika selalu dihubungkaitkan dengan ALLAH. Sehingga melalui hiburan-hiburan tersebut kita akan terasa KebesaranNya, Maha KuasaNya, Maha PemurahNya, Maha PengasihNya, Maha AdilNya. Semakin kita berhibur semakin kita merendah diri, tawadhuk, hilang kesombongan dan kemegahan diri, semakin bersyukur dan merasa hina di hadapanNya, semakin takut kepada dosa-dosa dan terkikis rasa cinta dunia yang melemahkan jiwa. Itulah berhibur yang sesungguhnya. Semakin dekat diri kita kepada Tuhan, terpimpin akal, nafsu dan hati kita untuk cinta dan taqwa kepadaNya. Itulah kebahagiaan sebenarnya yang dicari-cari manusia dari hiburan. 

Jika kita berhibur namun tidak tampak dan tidak terasa sifat Kemuliaan Tuhan, justru nafsulah yang akan semakin liar tak terkendali. Maka, sebenarnya hiburan seperti itu bukan hiburan melainkan jebakan nafsu dan syaitan.

Penghibur gagal menghibur dirinya

Inilah yang sering luput dari para penghibur dan para pencari hiburan. Berapa banyak penghibur yang sibuk memikirkan bagaimana menghibur manusia dengan berbagai macam media, bentuk dan gayanya. Namun rupa-rupanya diri mereka sendiripun tidak terhibur. Resah, gelisah, jiwa mereka menderita, hilang kebahagiaan, dadah,arak dan sebagainya menjadi pelarian, semakin jauh dari Tuhan, bahkan bunuh diri karena tidak tahan dengan cobaan. Jika para penghibur gagal menghibur dirinya lalu bagaimanakah nasib kita yang ingin mencari hiburan? Jangan-jangan tanpa sadar sebenarnya kita telah masuk ke dalam tipuan yang menyesatkan. Naudzubillahi min dzalik.

Berhiburlah Jiwa dengan Taubat kembali Taqwa kepada Allah Tuan Jiwa Raga kerana Tuan Jiwa Raga tidak pernah melupakan Jiwa dan RagaNya.
( Sumber dari FB )

Selasa, 9 Januari 2024

MANUSIA BIJAK.

 

MANUSIA BIJAK.

Menjadi manusia baik itu sulit tetapi lebih sulit lagi menjadi manusia bijak.
Bijak itu ertinya tindakan yang selalu mengedepankan pemakaian akal Budi dalam setiap hal.
Menjadi manusia bijak itu tidak boleh diukur dari umur, tua atau muda. Tidak boleh dinilai dari penampilannya. Semuanya dinilai dari ucapan, sikap tindakan, tingkah lakunya dan kemampuan memahami makna kehidupan.
Menjadi manusia bijak itu boleh didapatkan dengan melepaskan ego dan keangkuhan, menjadi pribadi yang rendah hati, sabar dan cerdas dalam mengendalikan emosi.
Manusia bijak itu menjaga lidahnya, hati2 berbicara, selalu menjaga hatinya sendiri dan menjaga hati orang lain, jangan sampai lidahnya melukai hati orang lain.
Manusia bijak itu berbudi pekerti luhur, beradab, sopan santun dan tidak memotong pembicaraan sampai orang lain selesai bicara.
Lebih baik diam dari pada bicara yang tidak bermanfaat.
Manusia bijak itu memiliki kedamaian batin, ketenangan dan kejernihan pikiran, selalu bersikap jujur, tidak dendam, mudah memaafkan dan tidak pernah lari dari tanggung jawab.
Manusia bijak itu tidak melihat keluar tetapi melihat kedalam dirinya, selalu koreksi, introspeksi diri dan tidak anti kritik.
Manusia bijak itu mampu mengendalikan diri, menghindari Amarah dan iri dengki, tidak baperan dan memiliki kehati2an.
Manusia bijak itu selalu merendah, tidak pernah tinggi hati meskipun memiliki ilmu yang tinggi, terus belajar dan tidak pernah merasa paling pintar dan tidak pernah merasa paling benar.
Manusia bijak itu berwawasan luas, cerdas, memiliki tujuan, berpikir kedepan dan menjadikan masa lalu pelajaran, memiliki ketajaman pikiran, selalu berpikiran positif dan Arif dalam mengambil keputusan.
Manusia bijak itu menciptakan dampak positif didalam kehidupan untuk dirinya sendiri dan masyarakat luas.
Manusia bijak itu hidupnya bahagia, didalam cinta kasih dan berjalan dijalan kemanusiaan.
Manusia bijak itu memiliki kemampuan untuk menjawab pertanyaan, memiliki kemampuan menghadapi kesulitan, memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dibawah situasi yang sulit penuh tekanan.
Manusia bijak itu memiliki akal sehat dan mata hati yang tajam sehingga boleh melihat kebenaran, sehingga tidak boleh dibodohi oleh fitnah dan menyesatkan, tidak boleh dibodohkan untuk turut serta menyebarkan fitnah.
Manusia bijak itu tidak akan pernah mau mendengki, membenci, menghasut, menuduh dan menghakimi orang lain.
Manusia bijak itu tidak akan pernah mau menghina, menghujah, mencaci maki dan merendah orang lain.
Manusia bijak itu menghindari berdebat, tidak akan pernah mau berdebat apalagi berdebat untuk mencari kemenangan dengan merendahkan, menghina dan memfitnah untuk menjatuhkan demi ambisi untuk berkuasa.
Manusia bijak itu tidak mau menyerang dengan tujuan merusak karakter orang lain, tidak mau bicara etika/moral orang lain, selalu menghargai dan menghormati.
Sifat bijak, bijaksana, merupakan salah satu kualitas manusia yang paling dihargai yang tidak dimiliki semua orang.

Belajarlah menjadi manusia baik dan bijak.

Isnin, 8 Januari 2024

𝗞𝗘𝗚𝗘𝗠𝗜𝗟𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗠𝗨𝗭𝗜𝗞 𝗗𝗜 𝗭𝗔𝗠𝗔𝗡 𝗔𝗕𝗕𝗔𝗦𝗜𝗬𝗔𝗛

 


𝗞𝗘𝗚𝗘𝗠𝗜𝗟𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗠𝗨𝗭𝗜𝗞 𝗗𝗜 𝗭𝗔𝗠𝗔𝗡 𝗔𝗕𝗕𝗔𝗦𝗜𝗬𝗔𝗛
Pengaruh muzik pada zaman Kerajaan Abbasiyyah telah mencapai kemajuan yang hebat. Ini kerana seni muzik telah mendapat tempat yang baik dari kalangan pemerintah dan juga orang ramai. Kehebatan dan kemajuan seni muzik ini dapat dilihat melalui lukisan-lukisan yang terdapat dalam kitab Alfun Al-Lail atau Hikayat Seribu Satu Malam, yang dihiasi dengan gambar-gambar sekumpulan ahli muzik yang sedang membuat persembahan mereka di hadapan khalifah. Ia menggambarkan betapa besarnya penghargaan umat Islam terhadap seni muzik pada masa itu di Kota Damsyik iaitu pada zaman Kerajaan Abbasiyyah.
Selain dari itu, perkembangan seni muzik mendapat kecemerlangannya pada ketika itu kerana Kerajaan Abbasiyyah menjadikan kemahiran dalam bidang muzik dan nyanyian sebagai syarat untuk mendapatkan pekerjaan. Hanya mereka yang cekap bermain alat-alat muzik dapat diterima menjadi pelayan, dayang-dayang dan inang pengasuh di istana atau di rumah pembesar serta hartawan. Oleh sebab itulah kebanyakan pemuda dan gadis menjadi kewajipan untuk mereka belajar dan mendalami bidang muzik.
Pada masa pemerintahan Khalifah al-Mahdi, para penyanyi telah diundang ke istana untuk menghiburkan khalifah. Salah seorangnya adalah Siyath yang datang dari Kota Mekah. Beliau telah diberikan perlindungan agar dapat bergerak bebas dalam istana dan juga diberikan saguhati atas persembahan beliau. Anak muridnya yang bernama Ibrahim al-Mausili juga telah mendapat tempat utama di istana Khalifah Harun al-Rashid. Ibrahim al-Mausili berasal dari keturunan bangsawan Parsi amat pandai bermain alat muzik gambus dan mempunyai anak murid yang ramai. Antaranya yang terkenal ialah Ishaq iaitu penyanyi istana kepada empat orang khalifah iaitu Khalifah Ma’mun, Khalifah Mu’tasim, Khalifah Wathiq dan Khalifah al-Mutawakkil
Di antara khalifah Bani Abbas, Khalifah Harun al-Rashid adalah khalifah yang paling meminati lagu-lagu dan muzik. Beliau memberi kurniaan saguhati yang banyak kepada penyanyi dan ahli muzik pada waktu pemerintahannya. Ramai penyanyi terkenal pada zaman Khalifah Harun al-Rashid seperti Mansur Zalzal, Ismail Abu Qasim, Miskin al-Madani dan lain-lain lagi. Oleh kerana penekanan yang diberikan pemerintah pada waktu itu dalam bidang muzik, telah melahirkan ramai pemuzik terkenal seperti Ibnu Muhriz, Ibnu Misjah, Ibnu Suraji dan Basbas. Selain itu juga, mereka telah menghasilkan beberapa buah buku dalam bidang muzik untuk menjadi sukatan pelajaran. Buku-buku muzik Abu Abdul Rabbih telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris sebagai Unique Necklace, karya muzik al-Isfahan diterjemahkan kepada The Great Book of Song dan al-Nawairy diterjemahkan kepada The Extreme Needs. Karya lagu mereka sangat mengagumkan dunia Eropah dan menjadi sanjungan di sana. Pada waktu ini juga telah melahirkan seniman al-Syatibi yang merupakan seorang pemain biola yang terkemuka.

( Sumber dari FB )

ADAB SEORANG SALIK KEPADA ALLAH DAN RASULNYA

  ADAB SEORANG SALIK KEPADA ALLAH DAN RASULNYA Kunci Terbukanya (Futuh dan Ma'rifatullah) Pendahuluan : Perjalanan menuju Allah bukan se...