Rabu, 12 Mac 2025

SIFAT JAMAL DAN JALAL MANIFESTASI ALLAH DALAM MA’RIFAT

 


 

SIFAT JAMAL DAN JALAL MANIFESTASI ALLAH DALAM MA’RIFAT
Dalam tasawuf, Allah menampakkan diri kepada hamba-Nya melalui dua manifestasi utama: Madzhahirul Jamal (manifestasi keindahan) dan Madzhahirul Jalal (manifestasi keagungan). Kedua sifat ini bukan sekadar konsep, tetapi realitas spiritual yang dirasakan oleh para pencari Tuhan dalam perjalanan menuju ma’rifatullah.
 Madzhahirul Jamal adalah pancaran kasih sayang, kelembutan, dan rahmat Allah. Ketika sifat ini dominan, dunia terasa penuh dengan ketenangan dan keberkahan. Bulan Sya'ban, misalnya, disebut sebagai waktu di mana Allah menampakkan Jamal-Nya, sehingga umat Islam merasakan cinta-Nya melalui turunnya keberkahan dan diperbanyaknya shalawat kepada Rasulullah ﷺ.
 Madzhahirul Jalal, sebaliknya, adalah manifestasi keperkasaan dan kebesaran Allah. Saat sifat ini tampak, ujian dan cobaan datang silih berganti, menguji keimanan hamba-hamba-Nya. Dalam kondisi ini, para sufi diajarkan untuk tetap husnuzan kepada Allah, menerima qadha dan qadar-Nya, serta menjadikan segala peristiwa sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya.
 Madzhahirul Jamal: Manifestasi Keindahan Allah
Madzhahirul Jamal merujuk pada kelembutan dan kasih sayang Allah yang tampak dalam kehidupan. Salah satu contohnya adalah bulan Sya’ban, di mana Allah menampakkan keberkahan dan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)
Menurut Imam Qurthubi, ayat ini diturunkan pada bulan Sya’ban, menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah dalam manifestasi Jamal-Nya.
⚡ Madzhahirul Jalal: Manifestasi Keagungan Allah
Sebaliknya, Madzhahirul Jalal berkaitan dengan keperkasaan dan kebesaran Allah, yang sering kali tampak dalam bentuk ujian dan cobaan. Hal ini disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..." (QS. Al-Baqarah: 286)
Ketika seseorang diuji dengan cobaan berat, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan manifestasi Jalal Allah. Para sufi meyakini bahwa di balik Jalal selalu ada Jamal—di balik ujian selalu ada rahmat yang tersembunyi.
🕊 Maqam Ma’rifatullah: Mengalami Jamal dan Jalal
Syekh Abdul Qadir al-Jilani menjelaskan bahwa seorang murid yang mencapai maqam ma’rifatullah akan mengalami kedua manifestasi ini dengan dampak yang sangat mendalam:
• Ketika Madzhahirul Jamal tampak:
-Batin dipenuhi kebahagiaan dan kelapangan.
-Merasakan kedekatan luar biasa dengan Allah.
-Bisa bertemu dengan Rasulullah ﷺ dalam keadaan batin.
-Hati sering tersenyum dan penuh kasih sayang.
• Ketika Madzhahirul Jalal tampak:
-Merasa kecil, hina, dan tidak berdaya di hadapan Allah.
-Hati seperti digenggam dan dicengkeram oleh kekuasaan-Nya.
-Banyak menangis karena merasakan keagungan dan kebesaran Allah.
Seorang murid yang benar-benar mencapai maqam ma’rifatullah harus siap menghadapi Jamal dan Jalal dengan penuh kesadaran dan kepasrahan kepada Allah.
Bagaimana Kita Menyikapi Kedua Sifat Ini?
° Bersyukur ketika berada dalam kelembutan Jamal-Nya.
° Bersabar ketika diuji oleh kebesaran Jalal-Nya.
° Menggunakan keduanya dalam kehidupan, seperti seorang guru Mursyid yang terkadang lembut kepada muridnya (Jamal), namun tetap tegas dalam mendidik (Jalal).
Dengan memahami konsep Jamal dan Jalal, kita bisa lebih bijak dalam menjalani kehidupan bersyukur saat mendapat kelembutan Allah dan bersabar saat menghadapi ujian-Nya. Inilah jalan menuju ma’rifatullah, mengenal Allah dalam keindahan dan keagungan-Nya.
Semoga kita semua dapat memahami sifat Jamal dan Jalal Allah, serta menjadikannya sebagai jembatan menuju ma’rifatullah.
إِلٰهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ أَقِمْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ
"Wahai Tuhanku, Engkaulah tujuan utamaku, dan keridhaan-Mu adalah yang kucari. Tegakkanlah dalam diriku kecintaan dan makrifat kepada-Mu."

Sumber dari KAJIAN TAUHID BUYA SYAKUR

KAJIAN TAUHID BUYA SYAKUR

Isnin, 3 Mac 2025

Puasa Ahli Sufi Di Bulan Ramadhan

 


Puasa Ahli Sufi Di Bulan Ramadhan
Ketika kita berpuasa dengan harapan agar Allah mengurniakan kepada kita pelbagai rahmat dan keberkatan, itu adalah sesuatu yang lebih utama berbanding hanya mengharapkan pahala, ganjaran syurga, dan sebagainya. Ini kerana para sahabat di zaman Mekah dan Madinah juga sentiasa mengamalkan ibadah dengan tujuan utama untuk mencari keredaan Allah. Mereka berpegang kepada prinsip "yuriduna wajha", yakni mereka ingin mencapai Allah dan mendapatkan keredaan-Nya.
Di bulan Ramadan, salah satu pesanan penting daripada Rasulullah SAW yang perlu kita hayati adalah sabda Baginda:
"Man saama Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dhanbih."
Maksudnya: Sesiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ganjaran daripada Allah, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampunkan.
Berdasarkan hadis ini, yang paling penting ketika berpuasa adalah menjaga iman dan niat kita. Rasulullah SAW juga pernah menasihati para sahabat dengan sabdanya:
"Jaddidu imanakum."
Maksudnya: Perbaharuilah iman kamu.
Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana cara kami memperbaharui iman kami?" Rasulullah SAW menjawab, "Perbanyakkanlah menyebut La ilaha illallah."
Oleh itu, salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam bulan Ramadan adalah bertahlil, mengulang-ulang kalimah La ilaha illallah sebanyak mungkin. Mereka yang sentiasa berzikir dengan kalimah ini, dari saat ke saat, hari ke hari sepanjang Ramadan, akan mendapat pemeliharaan dan pengukuhan iman daripada Allah SWT. Seperti yang dinyatakan dalam Surah Ibrahim ayat 27:
"Yuthabbitullahu alladzina aamanu bilqawli ats-tsaabiti fil hayaatid-dunyaa wa fil aakhirah."
Maksudnya: Allah menetapkan hati orang-orang yang beriman dengan kalimah yang teguh, baik di dunia mahupun di akhirat.
Kerana itulah, dalam tradisi umat Islam di Malaysia, selepas solat tarawih, para imam sering mengajak makmum untuk bertahlil. Ada yang melakukannya secara ringkas, ada yang lebih panjang. Ini kerana bertahlil merupakan salah satu amalan yang sangat besar manfaatnya untuk mengukuhkan iman.
Iman yang kuat akan membawa seseorang kepada iman yang sempurna. Dalam Surah Al-Anfal, Allah berfirman:
"Innama al-mu’minuna alladzina idza dzukira Allahu wajilat qulubuhum wa idza tuliat ‘alayhim ayatuhu zadathum imana."
Maksudnya: Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka. Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka.
Rasulullah SAW juga pernah bertanya kepada seorang sahabat, Haritsah bin Malik:
"Kaifa anta ya Haritsah?"
Haritsah menjawab: "Aku beriman kepada Allah dengan sebenar-benar iman, Ya Rasulullah."
Baginda bertanya lagi: "Setiap perkara ada hakikatnya, apakah hakikat imanmu?" Haritsah menjawab: "Aku berjaga malam untuk beribadah, aku berpuasa di siang hari, dan aku seolah-olah melihat ahli neraka yang sedang diseksa serta ahli syurga yang menikmati pelbagai nikmat Allah."
Rasulullah SAW lalu menegaskan: "Benarlah kata-katamu, wahai Haritsah."
Ini menunjukkan betapa pentingnya mencapai iman yang hakiki. Oleh itu, dalam bulan Ramadan, kita perlu berusaha bersungguh-sungguh untuk meneguhkan iman kita serta membetulkan niat kita.
Walaupun ramai ulama telah menguraikan maksud "wahtisaban" sebagai mengharap pahala dan balasan baik dari Allah, kita perlu memahami lebih mendalam apa yang terbaik untuk kita harapkan daripada-Nya. Dalam Surah Yunus ayat 58, Allah berfirman:
"Qul bifadlillahi wa birahmatihi fabidhalika falyafrahu huwa khairun mimma yajma’un."
Maksudnya: Katakanlah, dengan kurniaan Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.
Ayat ini mengajarkan kita bahawa dalam beribadah, termasuk berpuasa, yang paling utama kita harapkan adalah kurniaan dan rahmat Allah, bukan sekadar pahala atau ganjaran syurga.
Para sahabat Rasulullah SAW juga melakukan ibadah dengan tujuan utama untuk mendapatkan Allah dan keredaan-Nya. Dalam Surah Al-Kahfi ayat 28, Allah berfirman:
"Wasbir nafsaka ma’alladzina yad’uuna rabbahum bil-ghadati wal-‘ashiyi yuriduna wajhah."
Maksudnya: Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang dengan mengharapkan wajah-Nya (keredaan-Nya).
Apabila kita berpuasa dengan tujuan utama untuk mendapatkan Allah dan keredaan-Nya, maka tauhid kita akan menjadi lebih lurus. Tauhid Uluhiyyah kita akan benar kerana kita taat kepada Allah semata-mata, dan Tauhid Rububiyyah kita akan benar kerana kita hanya berserah dan bertawakal kepada-Nya.
Seperti yang Allah firmankan dalam Surah At-Talaq ayat 2-3:
"Wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja, wa yarzuqhu min haythu la yahtasib. Wa man yatawakkal ‘ala Allahi fahuwa hasbuh."
Maksudnya: Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar (dari kesulitan) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah sebagai tempat bergantung.
Jelaslah bahawa tujuan asas puasa adalah untuk membina ketakwaan yang sebenar. Apabila kita memperbetulkan tauhid kita, maka ketakwaan kita akan menjadi lebih sempurna, kerana kita taat kepada Allah dengan penuh kesedaran akan keagungan-Nya. Setelah itu, kita serahkan segala urusan kepada-Nya, kerana Allah adalah sebaik-baik tempat bergantung.
Oleh itu, di bulan Ramadan ini, marilah kita meningkatkan iman, memperbanyakkan tahlil, dan memastikan niat kita benar-benar untuk mencari keredaan Allah. Mudah-mudahan dengan rahmat-Nya, iman kita akan diperkukuhkan, ditingkatkan ke tahap iman yang hakiki, dan kita akan termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang diredai.
Aamiin, ya Rabbal ‘alamin.Ketika kita berpuasa dengan harapan agar Allah mengurniakan kepada kita pelbagai rahmat dan keberkatan, itu adalah sesuatu yang lebih utama berbanding hanya mengharapkan pahala, ganjaran syurga, dan sebagainya. Ini kerana para sahabat di zaman Mekah dan Madinah juga sentiasa mengamalkan ibadah dengan tujuan utama untuk mencari keredaan Allah. Mereka berpegang kepada prinsip "yuriduna wajha", yakni mereka ingin mencapai Allah dan mendapatkan keredaan-Nya.
Di bulan Ramadan, salah satu pesanan penting daripada Rasulullah SAW yang perlu kita hayati adalah sabda Baginda:
"Man saama Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dhanbih."
Maksudnya: Sesiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ganjaran daripada Allah, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampunkan.
Berdasarkan hadis ini, yang paling penting ketika berpuasa adalah menjaga iman dan niat kita. Rasulullah SAW juga pernah menasihati para sahabat dengan sabdanya:
"Jaddidu imanakum."
Maksudnya: Perbaharuilah iman kamu.
Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana cara kami memperbaharui iman kami?" Rasulullah SAW menjawab, "Perbanyakkanlah menyebut La ilaha illallah."
Oleh itu, salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam bulan Ramadan adalah bertahlil, mengulang-ulang kalimah La ilaha illallah sebanyak mungkin. Mereka yang sentiasa berzikir dengan kalimah ini, dari saat ke saat, hari ke hari sepanjang Ramadan, akan mendapat pemeliharaan dan pengukuhan iman daripada Allah SWT. Seperti yang dinyatakan dalam Surah Ibrahim ayat 27:
"Yuthabbitullahu alladzina aamanu bilqawli ats-tsaabiti fil hayaatid-dunyaa wa fil aakhirah."
Maksudnya: Allah menetapkan hati orang-orang yang beriman dengan kalimah yang teguh, baik di dunia mahupun di akhirat.
Kerana itulah, dalam tradisi umat Islam di Malaysia, selepas solat tarawih, para imam sering mengajak makmum untuk bertahlil. Ada yang melakukannya secara ringkas, ada yang lebih panjang. Ini kerana bertahlil merupakan salah satu amalan yang sangat besar manfaatnya untuk mengukuhkan iman.
Iman yang kuat akan membawa seseorang kepada iman yang sempurna. Dalam Surah Al-Anfal, Allah berfirman:
"Innama al-mu’minuna alladzina idza dzukira Allahu wajilat qulubuhum wa idza tuliat ‘alayhim ayatuhu zadathum imana."
Maksudnya: Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka. Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka.
Rasulullah SAW juga pernah bertanya kepada seorang sahabat, Haritsah bin Malik:
"Kaifa anta ya Haritsah?"
Haritsah menjawab: "Aku beriman kepada Allah dengan sebenar-benar iman, Ya Rasulullah."
Baginda bertanya lagi: "Setiap perkara ada hakikatnya, apakah hakikat imanmu?" Haritsah menjawab: "Aku berjaga malam untuk beribadah, aku berpuasa di siang hari, dan aku seolah-olah melihat ahli neraka yang sedang diseksa serta ahli syurga yang menikmati pelbagai nikmat Allah."
Rasulullah SAW lalu menegaskan: "Benarlah kata-katamu, wahai Haritsah."
Ini menunjukkan betapa pentingnya mencapai iman yang hakiki. Oleh itu, dalam bulan Ramadan, kita perlu berusaha bersungguh-sungguh untuk meneguhkan iman kita serta membetulkan niat kita.
Walaupun ramai ulama telah menguraikan maksud "wahtisaban" sebagai mengharap pahala dan balasan baik dari Allah, kita perlu memahami lebih mendalam apa yang terbaik untuk kita harapkan daripada-Nya. Dalam Surah Yunus ayat 58, Allah berfirman:
"Qul bifadlillahi wa birahmatihi fabidhalika falyafrahu huwa khairun mimma yajma’un."
Maksudnya: Katakanlah, dengan kurniaan Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.
Ayat ini mengajarkan kita bahawa dalam beribadah, termasuk berpuasa, yang paling utama kita harapkan adalah kurniaan dan rahmat Allah, bukan sekadar pahala atau ganjaran syurga.
Para sahabat Rasulullah SAW juga melakukan ibadah dengan tujuan utama untuk mendapatkan Allah dan keredaan-Nya. Dalam Surah Al-Kahfi ayat 28, Allah berfirman:
"Wasbir nafsaka ma’alladzina yad’uuna rabbahum bil-ghadati wal-‘ashiyi yuriduna wajhah."
Maksudnya: Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang dengan mengharapkan wajah-Nya (keredaan-Nya).
Apabila kita berpuasa dengan tujuan utama untuk mendapatkan Allah dan keredaan-Nya, maka tauhid kita akan menjadi lebih lurus. Tauhid Uluhiyyah kita akan benar kerana kita taat kepada Allah semata-mata, dan Tauhid Rububiyyah kita akan benar kerana kita hanya berserah dan bertawakal kepada-Nya.
Seperti yang Allah firmankan dalam Surah At-Talaq ayat 2-3:
"Wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja, wa yarzuqhu min haythu la yahtasib. Wa man yatawakkal ‘ala Allahi fahuwa hasbuh."
Maksudnya: Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar (dari kesulitan) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah sebagai tempat bergantung.
Jelaslah bahawa tujuan asas puasa adalah untuk membina ketakwaan yang sebenar. Apabila kita memperbetulkan tauhid kita, maka ketakwaan kita akan menjadi lebih sempurna, kerana kita taat kepada Allah dengan penuh kesedaran akan keagungan-Nya. Setelah itu, kita serahkan segala urusan kepada-Nya, kerana Allah adalah sebaik-baik tempat bergantung.
Oleh itu, di bulan Ramadan ini, marilah kita meningkatkan iman, memperbanyakkan tahlil, dan memastikan niat kita benar-benar untuk mencari keredaan Allah. Mudah-mudahan dengan rahmat-Nya, iman kita akan diperkukuhkan, ditingkatkan ke tahap iman yang hakiki, dan kita akan termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang diredai.
Aamiin, ya Rabbal ‘alamin.

Sumber dari Shaikh Dr Jahid Sidek Al-Khalidi

Isnin, 24 Februari 2025

Tarekat

 


Tarekat dalam makna sebenarnya adalah jalan menuju Allah yang luas dan merangkumi seluruh umat Islam. Ia bukan milik eksklusif satu kumpulan sahaja, tetapi satu perjalanan yang merentasi batas geografi, budaya, dan mazhab. Hakikatnya, setiap Muslim yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan ikhlas sudah berada dalam tarekat. Ia bukan hanya soal nama kumpulan, ijazah wirid, atau rantai silsilah, tetapi bagaimana seseorang memperbaiki akhlak, memperhalusi ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan hati yang bersih.
Jika seseorang hanya melihat tarekat dalam kerangka sempit, menganggap hanya kumpulan atau guru tertentu sahaja yang benar, maka dia telah menyimpang daripada maksud asal tasawwuf. Tarekat tidak boleh menjadi alat perpecahan dalam ummah, sebaliknya harus menjadi jambatan penyatuan. Rasulullah ﷺ tidak pernah memecah-belahkan sahabat berdasarkan kelompok, sebaliknya menyatukan mereka dengan cinta dan adab. Jika ada yang fanatik kepada mursyid sehingga menolak mursyid lain atau memandang rendah tarekat lain, ini adalah satu bentuk kesombongan rohani yang bertentangan dengan hakikat tasawwuf.
Setiap jalan yang membawa manusia kepada Allah adalah baik, selagi ia berpaksikan syariat dan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Seperti pelbagai mazhab dalam fikah, tarekat juga mempunyai pelbagai pendekatan tetapi tujuannya tetap satu. Ahli tarekat yang sejati tidak akan sibuk membandingkan atau merendahkan tarekat lain, sebaliknya menghormati dan meraikan perbezaan. Memuliakan guru mursyid adalah adab, tetapi menjadikan guru sebagai satu-satunya jalan kebenaran adalah kesilapan besar. Para mursyid sejati sentiasa menghormati mursyid lain dan tidak akan membiarkan murid mereka bersikap fanatik.
Tasawwuf sejati bukan hanya di tikar sembahyang, tetapi juga dalam kehidupan seharian. Jika seseorang hanya melihat tarekat sebagai amalan zikir dan suluk semata-mata tanpa memahami peranan sosial Islam, dia telah mengurangkan nilai Islam sebagai agama yang menyeluruh. Hakikatnya, seorang pedagang yang jujur, seorang pemimpin yang adil, atau seorang guru yang mendidik dengan ihsan juga sedang berjalan di atas jalan tarekat.
Ahli tarekat yang benar tidak akan membatasi tarekat kepada satu kumpulan tertentu sahaja, tetapi akan menjadi ejen penyatu ummah. Perbezaan dalam tarekat bukan untuk dipertelagahkan tetapi untuk dirai dan dihormati. Jika nama tarekat lebih diutamakan daripada intinya, maka ia sudah lari dari tujuan asal tasawwuf. Tarekat adalah cahaya kasih sayang, perpaduan, dan kebaikan yang seharusnya menghubungkan manusia kepada Allah, bukan kepada dirinya sendiri atau kumpulannya.
Wallahu a‘lam.

Sumber dari Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah 

Rabu, 15 Januari 2025

TAREKAT, PENGERTIAN DAN SEJARAHNYA.

 


TAREKAT, PENGERTIAN DAN SEJARAHNYA.
Dari Abu Hurairah R.A. dan Sayyidina Ali R.A., Sabda Nabi S.A.W.: "Bermula syariat itu beberapa perkataanku dan bermula tarikat itu beberapa perbuatanku (amalanku) dan bermula hakikat itu beberapa hal ku (pendirianku) dan makrifat itu kepala hartaku (hasil perolehanku)"
Sabda Nabi S.A.W. lagi: “Syariat ialah kata-kataku (aqwali), tarekat ialah perbuatanku (a`mali) dan hakikat (haqiqah) ialah keadaan batinku (ahwali), Ketiganya saling terkait dan tergantung
Kata Tarikat berasal dari Bahasa Arab: (طرق), menurut makna bahasa Arab maksudnya: 'jalan' atau 'method', atau 'cara', menurut istilah tasauf dalam Islam maksudnya: "kebenaran sejati cita cita Islam yang mempunyai roh yang ingin dicapai melalui pimpinan mursyid". Melalui praktik rohaniah dan bimbingan seorang pemimpin tarekat, calon penghayat tarekat akan berupaya untuk mencapai hakikat.
Tarekat yang ertinya ‘jalan’. Jalan yang dimaksud di sini adalah jalan untuk menjadi orang bertaqwa, menjadi orang yang diredhai Allah s.w.t. Secara praktisnya tarekat adalah himpunan amalan-amalan taqwa (lahir dan batin) yang bertujuan untuk membawa seseorang untuk menjadi orang bertaqwa.
Daripada dua hadis di atas, jelas dan terang sekali disampaikan pada kita bahawa tarekat itu adalah perbuatan Nabi junjungan S.A.W. Ini bermakna tarekat itu adalah sunnah Nabi S.A.W. Pengertian sunnah itu sendiri adalah percakapan, perbuatan, dan diam Rasulullah S.A.W. Segala amalan-amalan yang dilakukan oleh baginda, adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, untuk menjadi hamba yang sebenar-benar hamba, hamba yang punya rasa kehambaan, hamba yang sedar dan tahu bahawa dirinya adalah seorang hamba Allah, bukan hamba syaitan dan selain itu.
Sejarah juga mengajarkan kepada kita, tarekat itu sendiri menjadi amalan dan kehidupan para sahabat ketika kebangkitan Islam yang pertama. Para sahabat yang fanatik dan terlalu cintakan Nabi S.A.W., meniru dan menyalin peribadi Nabi kita S.A.W. demi menambahkan kecintaan pada Allah, kerana Allah itu sangat mencintai Nabi-Nya. Amalan-amalan tarekat yang diambil langsung dari Nabi S.A.W. itu menjadi kehidupan dan berjalan dengan baik selama 300 tahun, iaitu sepanjang zaman Nabi S.A.W., zaman khulafaur rasyidin, dan zaman salafussoleh. Pada tiga kurun ini, amalan-amalan tarekat tidak asing kerana segenap lapisan masyarakat mengamalkannya.
Namun selepas itu, Islam yang semakin berkembang dengan pesat ke 3/4 dunia dan umumnya amalan-amalan Nabi S.A.W. yang asas sahaja (seperti rukun Islam) yang menjadi amalan masyarakat umum Islam di ketika itu hinggalah sekarang. Amalan-amalan baginda yang tidak melibatkan ibadah asas, hanya diamalkan dan dikekalkan oleh kelompok-kelompok tertentu, yang akhirnya lahirlah kumpulan-kumpulan tarekat yang masih kekal hingga kini.
Diulangi semula di sini, tarekat itu bermula daripada amalan dan perbuatan Nabi S.A.W., samada ianya melibatkan amalan wajib mahupun sunat. Oleh kerana itu, tarekat ini juga terbahagi kepada dua, iaitu tarekat yang wajib dan yang sunat.
1. Tarekat Wajib, iaitu amalan-amalan wajib, baik fardhu ain dan fardhu kifayah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Tarekat Wajib yang utama adalah mengamalkan rukun Islam. Amalan-amalan wajib ini insya Allah akan membuat pengamalnya menjadi orang bertaqwa yang dipelihara oleh Allah. Pakej Tarekat Wajib ini sudah ditentukan oleh Allah s.w.t melalui Al-Quran dan Al-Hadis. Contoh amalan wajib yang utama adalah solat, puasa, zakat, haji. Amalan wajib lain antara lain adalah menutup aurat, makan makanan halal dan lain sebagainya.
2. Tarekat Sunat, iaitu himpunan amalan-amalan sunat dan mubah yang diarahkan sesuai dengan 5 syarat ibadah untuk membuat pengamalnya menjadi orang bertaqwa. Tentu saja orang yang hendak mengamalkan Tarekat Sunnah hendaklah selesai mengamalkan Tarekat Wajib. Jadi Tarekat Sunnah ini adalah tambahan amalan-amalan di atas Tarekat Wajib. Pakej Tarekat Sunat ini disusun oleh seorang guru mursyid untuk diamalkan oleh murid-murid dan pengikutnya. Isi dari pakej Tarekat Sunat ini tidak tetap, tergantung keadaan zaman tarekat tersebut dan juga keadaan si murid atau pengikut. Hal-hal yang dapat menjadi isi Tarekat Sunat ada ribuan jumlahnya, seperti solat sunat, membaca Al Qur’an, puasa sunat, wirid, zikir dan lain sebagainya.
Sejarah Timbulnya Tarikat.
Perkembangan Tarikat dari masa ke semasa semakin meluas, semakin ramai pula yang berhasrat ingin mempelajarinya, demi mendapatkan hati yang selamat. Maka ramailah menemui orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas dalam tarekat yang dapat mendidik roh mereka. Belajar dari seorang guru mursyid dengan method mengajar yang disusun berdasarkan pengalaman dalam suatu ilmu yang bersifat praktik adalah suatu keharusan bagi mereka. Hasilnya melahirkan graduan roh atau mereka yang punya hati yang selamat dibawa pulang ke akhirat.
Ditinjau dari sudut sejarah, bilakah tarekat nama yang mula-mula timbul sebagai suatu kelompok? Menurut Imam Al Ghazali yang menghalalkan tasawuf yang sebelumnya ia dikatakan sesat, tasawuf berkembang dari dunia Islam, tetapi perkembangannya melalui tarekat. Tarekat adalah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar yang bertujuan untuk merealisasikan ajaran-ajaran gurunya. Ia merupakan gabungan antara Iman dan Islam dalam bentuk Ihsan.
Tujuan bertarekat adalah untuk melahirkan seorang muslim yang mukmin, yang bukan sahaja punya prinsip dalam beragama bahkan punya akhlak yang terpuji lagi tinggi, sesuailah dengan akhlak Nabi junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Orang yang bertarekat adalah orang yang ingin menyalin peribadi Nabinya, yang dengannya akan membuatkan dia mendapat pandangan Tuhannya.
Secara amaliyah (praktikal), tarekat timbul dan berkembang semenjak abad-abad pertama hijriah dikenali dengan kelompok ahli sufah yang berdasarkan pada Al Qur’an dan Al Sunnah. Sejak abad 6 dan 7 hijriyah (12 dan 13 M) tarekat-tarekat telah memulai jaringannya di seluruh dunia Islam, taraf organisasinya bermacam-macam. Perbezaannya yang pertama dari semua itu terletak pada disiplin dan zikirnya yang sangat Khusus dan tersusun dan teratur. Ia berkembang dan bersesuaian dengan keadaan di sesebuah tempat atau mengikut keperluan masyarakat di ketika itu.
Antara nama-nama pengasas tarekat :
TAREKAT SANUSIYYAH,
KERAJAAN Sanusiyyah, Kerajaan (1350 H./ 1931 M.) ialah gerakan pembaharuan yang berasaskan tarekat sufi yang suci. Nama kerajaan Sanusiyyah ini diambil bersempena nama pengasas Tarekat Sanusiyyah, iaitu Muhammad ibn Ali al-Sanusi al-Khitabi al-Hasani al-Idrisi.
TAREKAT AHMADIYAH, tarekat yang diasaskan oleh Syekh Ahmad bin Idris al-Hasani (1757-1838). Dia lahir di Fez, Maghribi dan berketurunan daripada Hasan bin Ali bin Abi Talib. Syekh Ahmad menetap di Makkah selama 14 tahun. Semasa di Makkah, dia mendalami berbagai-bagai ilmu pengetahuan terutamanya ilmu tasawuf. Sejak kecil lagi dia berminat mengamalkan tasawuf. Sewaktu remaja dia telah mengikuti beberapa tarekat yang diamalkan oleh gurunya seperti Tarekat al-Syaziliyah dan Tarekat al-Qadiriyah. Dia juga suka mengembara untuk berguru dengan ahli-ahli sufi yang terkenal. Pada tahun 1812, dia berpindah ke Mesir dan mengasaskan Tarekat Ahmadiyah. Setelah lima tahun berada di Mesir, sekali lagi dia ke Makkah untuk menyebarkan ajaran tarekatnya.
TAREKAT QADIRIYAH, tarekat yang diasaskan oleh Syeikh Abdul Qadir al-Jilani (m. 1166 M.) di Baghdad. Beliau lahir dan dibesarkan di kota Gilan, sebuah bandar di Iran. Syeikh Abdul Qadir al-Jilani dikatakan berketurunan Ali bin Abi Talib. Bapanya, Abu Saleh bin Abdullah daripada keturunan Hassan bin Ali, manakala ibunya, Fatimah binti Sayyid Abdullah daripada keturunan Husin bin Ali. Ibu bapa serta nenek moyangnya ialah pengamal tasawuf. Syeikh Abdul Qadir al-Jilani juga pakar dalam bidang fiqah. Beliau seorang faqih dalam mazhab Hambali. Bagaimanapun, ketokohannya lebih menonjol dalam bidang tasawuf. Beliau dianggap Syeikhul Aulia (ketua para wali) dan wali Qutub pada zamannya. Para pengikutnya mempercayai beliau ialah seorang yang `keramat. Semasa hidupnya lagi, beliau telah dikunjungi oleh umat Islam untuk mendapatkan barakah (berkat). Kini, orang ramai berkunjung ke makamnya di Baghdad untuk mendapatkan berkat.
TAREKAT NAQSYABANDIYAH, tarekat yang tersebar di Alam Melayu. Perkataan `Naqsyabandiyah tidak dapat diberikan takrifan yang tepat dan tidak terdapat mana-mana penulisan yang memberikan makna sebenarnya perkataan tersebut.
SYEIKH HAJI MUHAMMAD SAID AL-LINGGI, Syeikh Haji Muhammad Said al-Linggi (18741926), ulama dan pengarang kitab. Dia terkenal sebagai ulama yang mengembangkan Tarekat Ahmadiah yang diasaskan oleh Syeikh Ahmad Idris ad-Dandrawi. Dia mengembara
hingga Kemboja, Thailand dan Singapura, selain Semenanjung Tanah Melayu dalam usaha mengembangkan ilmu dan tarekat.
Tarekat Rifaiyah, NURUDDIN AR-RANIRI (1658) ialah ulama, penulis, mujaddid, dan Syeikh Tarekat Rifaiyah di India. Nuruddin terkenal sebagai ulama yang luas pengetahuannya. Ilmu agama yang dikuasainya ialah fikah, hadith, akidah, dan tasawuf. Dia juga pakar dalam bidang falsafah, sejarah, dan perbandingan agama.
TUAN TABAL (1816 1891), ulama. Nama sebenarnya ialah Syekh Haji Abdul Samad bin Muhammad Salleh al-Kelantani al-Jawi. Tuan Tabal belajar dengan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki dalam bidang ilmu fikah dan telah tamat belajar kitab Tuhfah. Dalam bidang ilmu tasawuf pula dia menerima Tarekat Ahmadiyah. Ada pendapat yang menyatakan Tuan Tabal menerima baiah Tarekat Ahmadiyah daripada Sidi Ahmad Danderawi, dan ada yang meriwayatkan bahawa Tuan Tabal telah berguru langsung kepada Sidi Ibrahim, murid kepada Sidi Syekh Ahmad bin Idris iaitu pengasas Tarekat Ahmadiyah yang berasal dari Afrika Utara. Menurut sejarah, Tuan Tabal merupakan orang yang bertanggungjawab membawa tarekat itu ke Kelantan, dan kemudiannya tersebar ke seluruh Sememnanjung Tanah Melayu, walaupun yang lebih terkenal dalam penyebaran tarekat ini ialah Haji Muhammad Said Linggi.
Tarekat Syatariyah. ABDUR RAUF SINGKEL ABDUR RAUF SINGKEL (1592-1693), ulama dan ahli Tarekat Syatariyah, Indonesia. Nama sebenarnya Syekh Aminuddin Abdur Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri.
Berdasarkan kepada sejarah pengasas tarekat tidak ada di kalangan mereka pengasasnya orang perempuan. Sejarah juga mencatat, seramai 124 000 para Nabi dan 313 orang rasul, yang 25 daripadanya wajib kita ketahui, tidak ada seorang perempuan pun di kalangan mereka. Bahkan dalam hampir kesemua tarekat, perempuan-perempuan mereka hanyala di rumah sahaja, wirid zikir dan baca Quran di rumah, tidak terlibat dengan aktiviti-aktiviti tarekat di luar rumah.
Mengapa perlu bertarekat?
Hidup Menurut Aturan Allah, manusia perlu menjalani Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat.
Syariat adalah peraturan lahir dan batin atau hukum Allah yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an dan dijelaskan oleh hadis Rasulullah SAW. Hukum Syariat terdiri dari lima hukum, yaitu wajib, sunat, haram, makruh dan mubah.
Untuk mudah dipahami, dapat kita kiaskan seperti orang yang hendak berjalan dari Kuala Lumpur menuju Kedah. Peraturan, peta, dan segala ilmu mengenai bagaimana menuju Kedah itu adalah SYARIAT. Kemudian menjalani perjalanan dari Kuala Lumpur ke Kedah itu adalah TAREKAT.
Orang yang hendak ke Kedah dari Kuala Lumpur mesti tahu ilmu mengenai seluk beluk lalu-lintas. Dia mesti tahu jalan yang perlu ditempuh untuk dapat sampai di Kedah. Dengan kata lain, dia mesti tahu dan paham SYARIAT menuju Kedah. Kemudian, setelah dia punya ilmu bagaimana menuju ke Kedah,maka ketika dia mulai berjalan menuju Kedah pmaka dia telah menjalani apa yang disebut TAREKAT.
Tarikat tersebuti ada yang wajib dan ada yang sunat. Yang wajib seperti sholat 5 waktu, puasa ramadhan, membayar zakat bila telah mencapai nisab, berhaji bila mampu. Ilmu tentang itu semua disebut syariat, menjalaninya disebut tarekat.
"Tarekat wajib ini memang semua orang wajib untuk menjalaninya."
Tarekat sunat, seperti tarekat naqsyabandiah, tarekat qadiriah, tarekat aurad muhammadiah, dan lain-lain (orang sekarang menyebutnya dengan istilah tarekat saja). Dalam tarekat sunat, kita mengamalkan disiplin wirid-wirid, selawat-selawat tertentu yang disusun oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung dengan Rasulullah S.A.W. dan dipimpin oleh seorang guru mursyid.
Ya, namanya saja sunat, ertinya ia tidak wajib. Meskipun tidak wajib, tetapi Tarekat Sunat ini membantu seseorang untuk istiqamah dalam beramal. Saya beri satu contoh sederhana. Ada hadis yang menyebut bahwa Rasulullah SAW beristighfar minimal 70 kali sehari.
Dalam Tarekat Sunat, guru mursyid mengajar kita supaya banyakkan bertaubat. Begitulah seorang murid didisiplinkan oleh guru mursyidnya untuk memohon ampun (beristighfar) sekurang-kurangnya 100 kali dalam sehari. Inilah juga yang dibuat oleh mana-mana guru mursyid dalam tarekat mereka, bagi memastikan disiplin murid dalam menghubungkan mereka dengan Nabinya.

@ Sumber dari Rahmat Rahman 

Sabtu, 4 Januari 2025

*Tanda² Sakaratul maut Ahli Hakikat.

 


*Tanda² Sakaratul maut Ahli Hakikat.

100 hari sebelum kematian, lazimnya seluruh tubuh dari hujung rambut sehingga kehujung kaki akan bergetar dan mengigil.
Biasa ianya berlaku selepas waktu asar
Sulbi kita terasa sakit seperti ditusuk dengan jarum, sampai ke ubun-ubun. Sakitnya luar biasa dan dalam masa yang sama, kita mendengar satu das tembakan.
Maka, bersegeralah kita ucapkan kalimah "Hu Allah".
Ianya suatu tanda/isyarat dari Allah Ta'ala memberitahu bahawa umur kita tinggal 40 hari sahaja lagi.
Dan apabila dari mata kita, keluar suatu cahaya berwarna putih, kemudian cahaya tersebut berdiri dihadapan kita. Ianya kemudian berubah bentuk menjadi seorang insan yang berpakaian amat indah (Roh kita sendiri) menghadap kepada kita.
Apabila sudah jelas tanda² ini datang daripada diri kita sendiri, maka bersegeralah mengucapkan kalimah "Allahu Haqqul Haq".
Tanda isyarat ini Allah Ta'ala menyatakan bahawa umur kita tinggal 7 hari sahaja lagi.

Dan apabila telah keluar suatu cahaya yang sangat bersinar daripada mulut kita, kemudian cahaya itu berdiri dihadapan kita, kemudian ianya berubah menjadi wujud kita atau serupa dengan diri kita (Roh Insani) dan bersamaan dengan itu, terciumlah bau yang sangat harum.
Jikalau tanda² isyarat ini jelas datangnya daripada diri kita sendiri, maka ucapkanlah kalimah "Alhamdulillahi Rabbil Alamin".
Tanda² demikian itu, Allah Ta'ala ingin memberitahu bahawasanya umur kita tinggal 3 hari sahaja lagi.
Oleh yang demikian, maka ber-amanatlah kita kepada kaum keluarga dan janganlah kita lalai dengan amalan dzikrullah seharian kita itu.
(Yakni dzikir lisan, dzikir hati dan dzikir nafas kita itu).

{ Sumber dari Zulkarnain Hassan }


ADAB SEORANG SALIK KEPADA ALLAH DAN RASULNYA

  ADAB SEORANG SALIK KEPADA ALLAH DAN RASULNYA Kunci Terbukanya (Futuh dan Ma'rifatullah) Pendahuluan : Perjalanan menuju Allah bukan se...