Jumaat, 23 Januari 2026

JANGANLAH ENGKAU KALUNGKAN RANTAI MUTIARA DI LEHER SE EKOR ANJING...

 


JANGANLAH ENGKAU KALUNGKAN RANTAI MUTIARA DI LEHER SE EKOR ANJING...

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan ini.., dan ungkapan ini terdengar sangat kasar. Namun ketahuilah bahwa Ungkapan itu adalah perumpamaan tasawuf yang sangat tajam, bukan hinaan personal, tapi kritik terhadap cara menyampaikan kebenaran tanpa hikmah.
“Janganlah engkau kalungkan rantai mutiara di leher seekor anjing.”
Makna lahiriah Secara zahir:
Mutiara = sesuatu yang sangat berharga
Anjing = makhluk yang tidak memahami nilai mutiara.
Artinya ➡️ Jangan berikan sesuatu yang sangat mulia kepada pihak yang tidak mampu menghargainya.
Makna batin (tasawuf)
Dalam bahasa para sufi:
1. Mutiara = rahasia ma’rifat
- Ilmu tentang tauhid tingkat tinggi
- Hakikat kehadiran Allah
- Rasa fana, baqa, sirr
2. Anjing = nafsu kasar
- Bukan binatang fisik, tapi:
- Jiwa yang masih dikuasai syahwat
- Hati yang belum disucikan
- Akal yang masih suka debat, bukan tunduk
Maksud sebenarnya.
Ungkapan itu bermakna:
Jangan membuka rahasia hakikat kepada orang yang masih hidup di level nafsu dan syariat lahiriah saja.
Karena akibatnya menjadi fatal :
- ilmu suci menjadi bahan ejekan
- Ma’rifat jadi bahan kesesatan
- Kebenaran malah melahirkan fitnah
Dalil syar’inya Rasulullah ﷺ bersabda:
نَحْنُ مَعَاشِرَ الأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا أَنْ نُكَلِّمَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ
Artinya:
“Kami para nabi diperintahkan berbicara kepada manusia sesuai kadar akal mereka.”
Lihatlah para nabi saja menyampaikan sesuatu ilmu sesuai kadar kemampuan akal mereka.
Dan Imam Ali رضي الله عنه berkata:
“Jika aku buka satu rahasia dari ilmu ini, niscaya kalian akan menganggapku gila atau membunuhku.”
Mengapa sufi memakai bahasa yang keras...?
Karena mereka melihat banyak orang:
- belum sholat tapi ingin bicara fana
- belum jujur tapi bicara hakikat
- belum taubat tapi bicara rahasia Allah
Maka perumpamaan itu peringatan pedagogis:
Naikkan adab dulu, baru buka rahasia.
Inti makna paling dalam
Ungkapan itu bukan merendahkan orang, tapi menjaga kemuliaan ilmu.
Artinya:
Ilmu hakikat bukan untuk dipamerkan,
tapi untuk dipelihara sampai hati siap.
💎NASEHAT UNTUK PARA GURU / MURSYID 💎
BAGAIMANA JIKA ADA SESEORANG YANG MEMINTA DIBUKAKAN TENTANG ILMU HAQIQAT, SEMENTARA KITA MELIHAT SYARIAT NYA MASIH LEMAH...?
Ini adalah situasi yang sangat sering terjadi di dunia dakwah tasawuf, dan justru di sinilah kebijaksanaan seorang Mursyid diuji.
Orang yang seperti ini biasanya bukan orang jahat, tapi jiwanya yang lapar akan makna,Ingin cepat sampai, tapi melompati tangga.
Jadi Prinsip emas para mursyid harus berpegang kepada:
“Siapa yang belum kokoh syariatnya, maka maqamatnya hanyalah khayalan.”
Atau ungkapan Imam Malik رحمه الله:
مَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ فَقَدْ تَزَنْدَقَ
وَمَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ فَقَدْ تَفَسَّقَ
وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ
“Siapa yang bertasawuf tanpa fikih, ia bisa tersesat.
Siapa yang berfikih tanpa tasawuf, ia bisa kering.
Siapa yang menggabungkan keduanya, ia sampai pada kebenaran.”
Cara menyikapi (praktis dan tidak melukai)
1. Jangan dipatahkan, tapi dialihkan
Jangan berkata:
“Kamu belum pantas bicara maqam.”
Tapi katakan:
“Bagus sekali kalau tertarik maqamat.
Itu adalah tujuan mulia.
Tapi semua maqam berdiri di atas syariat yang kuat.”
Jika begini ia tetap merasa dihargai.
2. Pakai analogi tangga
“Maqamat itu adalah lantai paling atas.
Kalau pondasi belum kokoh, untuk naik justru akan berbahaya.”
3. Uji dengan amal,
Alihkan ke pertanyaan praktis:
“apakah sholat sudah khusyuk belum..?”
“apakah Masih sering ghibah..?”
“apakah Zikir harian sudah istiqomah?”
Tanpa menyebut “kamu salah”,
dia akan melihat sendiri celahnya.
Kalimat kunci yang sangat halus
Ini kalimat yang dipakai banyak mursyid:
“Maqam itu bukan untuk dibicarakan, tapi untuk dijalani.”
Jika dia tetap memaksa (kondisi keras)
Maka sikap paling selamat:
“Aku khawatir kalau aku jawab, justru akan membahayakan dirimu.
Bukan karena kamu tidak mampu, tapi karena ilmu ini butuh wadah yang siap.”
Ini bukan menolak, tapi melindungi.
💎 Pesan hikmah 💎
Ilmu haqiqat itu adalah umpama makanan bagi jiwa.
Seorang bayi makanan yang terbaik untuk nya adalah ASI.
jika engkau menyuapi seorang bayi dengan nasi , maka sesungguhnya engkau telah berbuat ceroboh , dan tanpa engkau sadari engkau telah mencoba untuk membunuhnya .

Sumber dari Haris Haris

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

PENYAKIT PENYAKIT BATIN YANG MERUSAK AMAL

  PENYAKIT PENYAKIT BATIN YANG MERUSAK AMAL Penyakit batin merupakan faktor paling berbahaya dalam kehidupan spiritual seorang hamba karena ...