Dalam perjalanan spiritual (suluk), seorang sufi mungkin mengalami keadaan yang disebut Fana'.
Secara lahiriah, orang yang mengalami fana' mungkin tampak tidak sadar akan sekelilingnya, yang sering kali disalahpahami oleh orang awam sebagai gangguan jiwa atau hilang ingatan.
Namun, secara hakikat, ketiganya adalah fenomena yang sangat berbeda.
1. Definisi Fana' dalam Tasawuf Fana' secara etimologi berarti 'sirna' atau 'lenyap'.
Dalam terminologi tasawuf, fana' adalah hilangnya kesadaran seorang hamba terhadap makhluk (termasuk dirinya sendiri) karena ia sedang tenggelam dalam kesadaran akan kehadiran Allah SWT (Musyahadah).
- Fana' anil Khalq- Hilangnya kesadaran terhadap makhluk.
- Fana' anin Nafs- Hilangnya kesadaran terhadap ego atau diri sendiri.
- Baqo'- Kondisi setelah fana', di mana ia kembali sadar akan makhluk namun hatinya tetap bersama Tuhan.
2. Mengapa Fana' Bukan Gila
Fana' (Sufi)- Tarikan spiritual (Jadzbah) dan cinta yang meluap kepada Allah. - Kesadaran
- Kesadaran 'Super' (Transenden). Hilangnya kesadaran rendah menuju kesadaran tinggi.
- Hasil- Menghasilkan hikmah, ketenangan, dan peningkatan akhlak setelah kembali sadar.
- Durasi- Biasanya bersifat sementara (keadaan- hal), meski ada yang menetap.
Gila (Junun)- Kerusakan fungsi otak, gangguan saraf, atau ketidakseimbangan kimiawi.
- Kesadaran- Hilangnya kesadaran rasional. Penurunan fungsi kognitif.
- Hasil- Menghasilkan kekacauan perilaku dan ketidakteraturan berpikir.
- Durasi- Cenderung menetap, atau kambuhan tanpa kendali spiritual.
3. Perbedaan dengan Hilang Ingatan (Amnesia)
- Hilang ingatan adalah hilangnya data memori di otak. Seorang penderita amnesia mungkin lupa siapa namanya, tapi ia masih sadar akan eksistensi dirinya sebagai individu yang terpisah dari Tuhan.
- Sedangkan dalam kondisi Fana'- Seseorang tidak 'lupa' identitasnya secara klinis, melainkan identitasnya 'terserap' ke dalam keagungan Tuhan.
- Sufi tersebut tidak kehilangan memori masa lalu, tapi memori tersebut menjadi tidak relevan saat ia berhadapan dengan cahaya ketuhanan.
4. Pandangan Tokoh Tasawuf
• Al-Ghazali. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa kondisi ini mirip dengan orang yang sangat mencintai sesuatu sehingga ia tidak melihat hal lain kecuali yang dicintainya.
Jika Anda sedang menatap pemandangan yang sangat indah, Anda mungkin tidak mendengar orang memanggil nama Anda. Ini bukan gila, melainkan konsentrasi tingkat tinggi.
• Junaid al-Baghdadi. Beliau menekankan pentingnya kembali ke kesadaran normal (Baqo'). Menurutnya, fana' yang sempurna adalah ketika seseorang bisa tetap sadar akan syariat dan tanggung jawab duniawi meskipun hatinya tetap fana' di hadirat Allah.
Jika seseorang terus-menerus kehilangan akal tanpa ada manfaat spiritual, itu mungkin bukan fana' sejati.
• Jadi, kondisi fana' tidak bisa dikatakan sebagai hilang ingatan atau gila dalam pengertian medis atau sosial.
-Gila adalah kegelapan di atas kegelapan (hilangnya cahaya akal).
- Fana' adalah cahaya di atas cahaya (akal tunduk pada cahaya wahyu-ilham). Seorang sufi yang mengalami fana' sering disebut Majdzub (orang yang ditarik oleh Tuhan). Meskipun perilakunya mungkin tampak aneh, mereka biasanya tetap menjaga kemurnian hati dan tidak melanggar esensi ketauhidan.
Sumber dari Abrori Abrori

Tiada ulasan:
Catat Ulasan