Khamis, 18 Disember 2025

HAKIKAT TAUBAT

 


HAKIKAT TAUBAT PERSPEKTIF AL-QUR'AN, AL-HADITS, DAN PANDANGAN EMPAT ULAMA' SUFI TERKEMUKA (HASAN AL-BASHRI, RABI'AH AL-ADAWIYYAH, AL-GHAZALI, IBNU ATHAILLAH AS-SAKANDARI)

Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini
ABSTRAK
Taubat merupakan konsep sentral dalam ajaran Islam yang menandai proses kembalinya manusia kepada Allah setelah melakukan kesalahan.
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji makna, syarat, dan kedudukan taubat berdasarkan sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits, serta menelusuri pemaknaannya yang lebih mendalam melalui pandangan empat ulama sufi terkemuka: Hasan Al-Bashri, Rabi'ah Al-Adawiyah, Abu Hamid Al-Ghazali, dan Ibn 'Atha'illah As-Sakandari.
Kajian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Quran dan Al-Hadits menekankan taubat sebagai kewajiban segera, disertai penyesalan, meninggalkan dosa, dan bertekad tidak mengulangi.
Sementara itu, para sufi memperluas pemahaman taubat tidak hanya sekadar meninggalkan dosa, tetapi sebagai perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Allah, yang melibatkan pembersihan hati (tazkiyatun nafs) dan penyaksian keagungan Ilahi.
Kata Kunci:
Taubat, Al-Quran, Hadits, Tasawuf, Spiritualitas Islam.
BAB I - PENDAHULUAN
Dalam struktur ajaran Islam, taubat menempati posisi yang sangat fundamental. Ia bukan sekadar ritual pengampunan, tetapi merupakan poros pertumbuhan spiritual dan etis seorang Muslim.
Taubat memuat dimensi vertikal (hubungan dengan Allah) dan horizontal (konsekuensi sosial).
Pemahaman tentang taubat seringkali dipersempit pada level awam (umum) yang hanya mencakup penyesalan atas dosa besar. Padahal, dalam khazanah pemikiran Islam, khususnya tasawuf, taubat memiliki lapisan makna yang sangat dalam, terkait dengan perjalanan hati menuju hakikat ketundukan.
Tulisan ini akan membedah konsep taubat secara bertahap, dimulai dari landasan teologis-normatif (Al-Quran dan Hadits), kemudian dikembangkan melalui lensa empat maestro sufi yang mewakili fase perkembangan tasawuf yang berbeda.
BAB II - TAUBAT DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN
Al-Quran menyebut kata "taubat" dan derivasinya dalam berbagai bentuk sebanyak lebih dari 80 kali, menunjukkan urgensi dan perhatian besar terhadap konsep ini.
2.1. PERINTAH DAN ANJURAN:
Allah SWT memerintahkan taubat secara langsung,
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31).
Ayat ini menempatkan taubat sebagai prasyarat keberuntungan sejati.
2.2. SIFAT ALLAH SEBAGAI PENERIMA TAUBAT:
Salah satu nama Allah yang agung adalah At-Tawwab (Maha Penerima Taubat), yang disebut berulang kali,
ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
"Kemudian Dia menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. At-Taubah: 118).
Ini memberikan jaminan psikologis dan spiritual bagi hamba yang ingin kembali.
2.3. TAUBAT NASUHA (TAUBAT YANG SEJATI):
Al-Quran memberikan kualifikasi tertinggi bagi taubat, yaitu taubat nasuha.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (nasuha), mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..." (QS. At-Tahrim: 😎.
Menurut para mufasir, taubat nasuha memenuhi tiga syarat utama:
(1) penyesalan mendalam atas dosa,
(2) meninggalkan dosa tersebut secara segera, dan
(3) bertekad bulat untuk tidak mengulanginya di masa depan.
2.4. UNIVERSALITAS DAN KEDEKATAN:
Taubat terbuka untuk semua orang tanpa batas,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar: 53).
BAB III - TAUBAT DALAM PERSPEKTIF AL-HADITS
Rasulullah SAW sebagai penjelas Al-Quran memberikan gambaran praktis dan motivasi tentang taubat.
3.1. KEWAJIBAN DAN KESEGERAAN:
عَنْ الْأَغَرِّ بْنِ يَسَارٍ الْمُزَنِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
Dari Al-Agharr bin Yasar al-Muzani berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali." (HR. Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa taubat bukan hanya untuk pendosa berat, tetapi juga kebutuhan harian bagi setiap Muslim, termasuk Nabi yang ma'shum.
3.2. PENERIMAAN TAUBAT ALLAH:
عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ
Dari Abu Musa al-Asy'ari berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla membuka tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari, dan membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari..." (HR. Muslim).
Ini menggambarkan kemurahan Allah yang tak terbatas.
3.3. TAUBAT MENGHAPUS DOSA:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa." (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh al-Albani).
Taubat memberikan kesempatan untuk memulai lembaran baru tanpa beban masa lalu.
3.4. PENUTUP PINTU TAUBAT:
Hadits juga mengingatkan bahwa taubat memiliki batas waktu.
Rasulullah SAW bersabda tentang tanda-tanda Hari Kiamat:
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
"Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut)." (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan).
BAB IV - TAUBAT DALAM PANDANGAN EMPAT ULAMA' SUFI TERKEMUKA
Para sufi memberikan warna dan kedalaman tersendiri terhadap konsep taubat, menekankan aspek batiniah (inner transformation).
4.1. HASAN AL-BASHRI (w. 110 H/728 M)
Sebagai perintis awal asketisme (zuhud), Hasan Al-Bashri melihat taubat dengan nada serius dan penuh peringatan.
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
"Hai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap hari berlalu, maka berlalu pulalah sebagian dari dirimu." (Hilyatul Auliya’).
Baginya,taubat adalah kesadaran akan kematian dan pertanggungjawaban di akhirat.
Ia menekankan taubat dari kelalaian (taubat al-ghaflah), yaitu bertaubat bukan hanya dari dosa, tetapi dari keadaan lupa akan Allah.
Taubat adalah pintu gerbang menuju kehidupan zuhud dan takut kepada Allah (khauf).
4.2. RABI'AH AL-ADAWIYYAH (w. 185 H/801 M)
Rabi'ah membawa dimensi cinta (mahabbah) dalam taubat.
Baginya, motivasi taubat tertinggi bukanlah rasa takut akan neraka atau ingin masuk surga, tetapi karena malu dan cinta kepada Allah.
Ia mempopulerkan konsep taubat karena cinta. Dalam sebuah doanya yang masyhur, ia berkata:
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ أَعْبُدُكَ خَوْفًا مِنْ نَارِكَ فَاحْرِقْنِي بِهَا، وَإِنْ كُنْتُ أَعْبُدُكَ طَمَعًا فِي جَنَّتِكَ فَاحْرِمْنِي إِيَّاهَا، وَإِنْ كُنْتُ أَعْبُدُكَ لِوَجْهِكَ فَلَا تَحْرِمْنِي جَمَالَ نَظَرِكَ
"Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka-Mu, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu, campakkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu, maka janganlah Engkau halangi aku dari keindahan memandang-Mu." (Siyar A’lamin Nubala’).
Taubat Rabi'ah adalah pemurnian motivasi,dari yang bersifat transaksional menuju yang tulus ikhlas karena Allah semata.
4.3. ABU HAMID AL-GHAZALI (w. 505 H/1111 M)
Dalam magnum opus-nya,Ihya' 'Ulumuddin, Al-Ghazali membahas taubat secara sistematis. Ia membagi taubat menjadi tiga tingkatan dalam kitabnya:
1. Taubat Awam: Meninggalkan dosa besar.
2. Taubat Khawas (Khusus): Meninggalkan segala hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.
3. Taubat Khawas al-Khawas (Elit dari yang Khusus): Bertaubat dari keterlibatan diri (nafs) dalam amal taat.
Al-Ghazali berkata:
أَوَّلُ الْمَقَامَاتِ: التَّوْبَةُ، وَهِيَ مَقَامٌ يَتَضَمَّنُ أَرْبَعَةَ أُمُورٍ: عِلْمًا، وَحَالًا، وَفِعْلًا، وَعَزْمًا
"Pertama dari maqam (spiritual) adalah taubat, dan ia adalah maqam yang mengandung empat hal: ilmu, keadaan (hati), perbuatan, dan tekad." (Ihya’ Ulumiddin, Kitab At-Taubah).
Bagi Al-Ghazali, taubat adalah langkah pertama dan awal dari proses tazkiyatun nafs (pensucian jiwa).
4.4. IBN 'ATHAILLAH AS-SAKANDARI (w. 709 H/1309 M)
Dalam kitabnya yang masyhur, Al-Hikam, Ibn 'Atha'illah memberikan pandangan yang lebih filosofis tentang taubat. Beberapa aforismenya yang terkenal:
تَوْبَةُ الْعَوَامِ مِنَ الذُّنُوبِ، وَتَوْبَةُ الْخَوَاصِ مِنَ الْغَفْلَةِ
"Taubatnya orang awam adalah dari dosa, sedangkan taubatnya orang khusus (al-khawas) adalah dari kelalaian." (Al-Hikam, No. 99).
مَا تَابَ مَنْ لَمْ يُقْلِعْ عَنِ الذَّنْبِ لِقُبْحِهِ، وَمَا تَابَ مَنْ قَصَدَ بِالتَّوْبَةِ الْوُصُولَ إِلَى الثَّوَابِ
"Belumlah bertaubat orang yang tidak meninggalkan dosa karena keburukannya (di sisi Allah), dan belumlah bertaubat orang yang bertaubat dengan tujuan untuk mendapatkan pahala." (Al-Hikam).
مَنْ رَأَى تَوْبَتَهُ فَإِنَّهُ مُحْتَاجٌ إِلَى تَوْبَةٍ مِنْ تَوْبَتِهِ
"Barangsiapa yang melihat (merasa bangga dengan) taubatnya sendiri, maka ia membutuhkan taubat untuk taubatnya."
Baginya, taubat sejati adalah karunia (ma'unah) dari Allah, yang menyoroti aspek fana' (penghancuran diri) dalam taubat, di mana seorang hamba menyadari bahwa segala geraknya adalah atas kehendak Allah.
BAB V - ANALISIS DAN SINTESIS
Dari pembahasan di atas, terlihat sebuah continuum pemahaman. Al-Quran dan Al-Hadits menetapkan kerangka normatif dan etis taubat: wajib, segera, dengan syarat-syarat tertentu, dan dijamin diterima. Keempat sufi kemudian memperdalam dan menginternalisasi kerangka ini:
1. Dari legal-formal menuju spiritual-eksistensial.
2. Dari motivasi takut/pengharapan menuju motivasi cinta dan penyucian diri.
3. Dari berhenti pada dosa menuju berhenti pada segala hal yang melalaikan dari Allah, bahkan pada perasaan bangga akan taubat itu sendiri.
Taubat dalam pandangan sufi tidak pernah berhenti (once and for all), melainkan merupakan keadaan terus-menerus (haal) dalam perjalanan spiritual menuju Allah.
BAB VI - PENUTUP
Taubat adalah konsep yang dinamis dan berlapis dalam Islam. Landasannya yang kokoh dalam Al-Quran dan Al-Hadits memberikan kepastian hukum dan moral. Sementara interpretasi dan pengalaman spiritual para sufi—seperti Hasan Al-Bashri, Rabi'ah Al-Adawiyah, Al-Ghazali, dan Ibn 'Atha'illah—memberikan kedalaman makna, menjadikan taubat sebagai jantung dari kehidupan rohani seorang Muslim. Pemahaman yang integratif antara dimensi syari'ah (hukum) dan hakikah (esensi) ini menjadikan taubat bukan sekadar mekanisme pengampunan, tetapi sebuah proses transformasi diri yang berkelanjutan menuju realisasi tertinggi sebagai hamba Allah yang ikhlas dan dekat dengan-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Al-Qur'an al-Karim dan Terjemahannya.
2. Muslim, Ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ at-Turath al-‘Arabi.
3. Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya' 'Ulumuddin. Beirut: Dar al-Ma'rifah.
4. Ibn 'Atha'illah as-Sakandari. Al-Hikam. (Bersyarah Ibn ‘Abbad). Surabaya: Maktabah wa Matba'ah Ahmad bin Sa'id bin Nabhan.
5. Abu Nu’aim al-Ashbahani. Hilyatul Auliya’ wa Tabaqatul Ashfiya’. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
6. Adz-Dzahabi. Siyar A’lamin Nubala’. Beirut: Muassasah ar-Risalah.
7. Nicholson, Reynold A. The Mystics of Islam. London: Routledge, 2003.
8. Schimmel, Annemarie. Mystical Dimensions of Islam. Chapel Hill: The University of North Carolina Press, 2011.
9. 'Athiyah, Jamal. Al-Tasawwuf al-Islami: Tarikhuhu wa Madarisuhu. Kairo: Dar al-Ma'arif.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

PENYAKIT PENYAKIT BATIN YANG MERUSAK AMAL

  PENYAKIT PENYAKIT BATIN YANG MERUSAK AMAL Penyakit batin merupakan faktor paling berbahaya dalam kehidupan spiritual seorang hamba karena ...