Khamis, 30 Oktober 2025

...TANDA TANDA MURID SEJATI...

 

...TANDA TANDA MURID SEJATI...
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Berikut ini tanda-tanda seorang murid sejati (as-sālik ash-shādiq) menurut para ulama thariqah dan ahli sufi disertai penjelasan batiniah yang mendalam
1️⃣ Niatnya Murni Karena Allah, Bukan Karena Dunia
Imam al-Junaid al-Baghdādī berkata:
“الصادق هو الذي يُطَهِّرُ سَيْرَهُ إِلَى اللهِ مِنْ كُلِّ شَوْبٍ.”
Artinya:
Seorang murid sejati adalah yang menyucikan perjalanannya menuju Allah dari segala campuran (kepentingan selain Allah).
Makna:
Murid sejati tidak mencari karamah, kedudukan, atau kehormatan, tapi semata-mata ingin mengenal Allah (ma‘rifatullah).
2️⃣ Tunduk, Patuh, dan Ridho atas Bimbingan Mursyid
Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam al-Fath ar-Rabbānī menasihatkan:
“من لم يتأدب مع شيخه لا يفلح أبداً.”
Artinya:
Barang siapa tidak beradab kepada gurunya, maka ia tidak akan pernah berhasil (dalam suluknya).
Maknanya :
Ketaatan dan kepasrahan adalah cermin fana’ dalam mursyid, yaitu lenyapnya kehendak pribadi di bawah bimbingan rohani.
3️⃣ Sabar atas Ujian dan Cobaan Jalan Ruhani
Imam Abu Yazid al-Busthami berkata:
“لَوْ نَظَرْتَ إِلَى الْحَقِّ فِي كُلِّ بَلَاءٍ لَرَأَيْتَ نِعْمَةً بَاطِنَةً.”
Artinya:
Jika engkau melihat Allah di balik setiap ujian, engkau akan melihat di dalamnya nikmat tersembunyi.
Maknanya :
Jalan sufi penuh ujian; hanya murid sejati yang bersabar, ridho dan tidak berpaling dari mursyid meski diuji lahir-batin.
4️⃣ Tetap Rendah Hati, Tidak Merasa Sudah Sampai
Imam al-Ghazali (Ihyā’ ‘Ulūmiddīn) menulis:
“علامة الصادق أن لا يرى لنفسه عملاً، ولا يطلب من الله حالاً.”
Artinya:
Tanda murid sejati: ia tidak melihat amalnya sendiri, dan tidak menuntut Allah memberi kedudukan spiritual tertentu.
Maknanya :
Murid sejati selalu merasa kecil di hadapan Allah. Semakin tinggi maqamnya, semakin dalam tawadhu’-nya.
5️⃣ Menjaga Dzikir dan Wirid dengan Istiqamah
Ibnu ‘Athoillah as-Sakandari (Hikam no. 68):
“لا تترك الذكر لعدم حضورك مع الله فيه، فإن غفلتك عن ذكره أشدّ من غفلتك في ذكره.”
Artinya:
Jangan tinggalkan dzikir hanya karena engkau belum hadir bersama Allah di dalamnya; kelalaianmu dalam berdzikir lebih ringan daripada lalai tanpa dzikir.
Maknanya :
Istiqamah lebih utama daripada semangat sesaat. Dzikir terus dilakukan hingga hati terbuka (inbisāth) dan merasakan kehadiran Allah (hudhur).
6️⃣ Cinta dan Adab kepada Mursyid Tidak Berkurang Meski Tidak Dipuji
Syekh Ahmad ar-Rifa‘i berkata:
“المريد الصادق لا يتغيّر حبه لشيخه بمدحٍ أو ذمٍّ، بل يزيد حبّه في الشدّة والرخاء.”
Artinya:
Murid sejati tidak berubah cintanya kepada mursyid karena pujian atau celaan; cintanya justru bertambah dalam suka dan duka.
Maknanya :
Murid yang sejati tidak mencari perhatian guru, tapi mencari ridha Allah melalui keridhaan gurunya.
7️⃣ Selalu Introspeksi Diri (Muhāsabah) dan Merendah di Hadapan Allah
Imam Junaid berkata:
“الطريق إلى الله مَسدودٌ إلا على من اقتفى أثر الرسول ﷺ.”
Artinya:
Jalan menuju Allah tertutup kecuali bagi orang yang mengikuti jejak Rasul ﷺ.
Maknanya :
Murid sejati selalu mengoreksi amalnya, memperbaiki niatnya, dan berusaha meneladani sunnah Nabi dalam segala hal.
8️⃣ Mengasihi Sesama Murid dan Tidak Merasa Lebih Utama
Syekh Ibnu Ajibah menulis dalam Iqāẓ al-Himam:
“مِنْ أَدَبِ الْمُرِيدِ أَنْ يُحِبَّ إِخْوَانَهُ فِي اللهِ، وَلَا يَرَى لِنَفْسِهِ فَضْلًا عَلَيْهِمْ.”
Artinya:
Termasuk adab murid adalah mencintai saudara-saudara sesama pengamal Thoriqat karena Allah, dan tidak merasa lebih tinggi daripada mereka.
Maknanya :
Kecemburuan batin antar murid adalah hijab yang besar. Murid sejati melihat semua ikhwan sebagai cermin dirinya sendiri.
9️⃣ Selalu Bersyukur dan Tidak Mengeluh
Syekh Abdul Qadir al-Jilani berkata:
“اشكروا الله على ما أنعم عليكم من الصحبة الصالحة، فإنها طريق الوصول.”
Artinya:
Bersyukurlah kepada Allah atas nikmat persahabatan dengan guru yang saleh, karena itulah jalan menuju Allah.
Maknanya :
Rasa syukur kepada mursyid menumbuhkan barakah sirriyyah yaitu rahasia karunia ruhani yang mengalir dari qolbu guru ke dalam qolbu murid.
Kalimat penutup dari Imam al-Junaid al-Baghdadi:
“طريقنا هذا مبنيّ على الأدب، فمَن فَقَد الأدب فَقَد الطريق.”
“Jalan kami ini dibangun di atas adab; barang siapa kehilangan adab, maka hilanglah jalan (menuju Allah) darinya.”
...KEDUDUKAN GURU MURSYID...
Guru Mursyid bukan sekadar pengajar ilmu, akan tetapi pembimbing ruhani yang menunjukkan jalan menuju ma'rifat kepada Allah.
Allah berfirman:
فَاتَّبِعْنِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”
(QS. Āli ‘Imrān ayat 31)
Para ulama tasawuf menafsirkan ayat ini bahwa mengikuti bimbingan guru mursyid yang bersanad kepada Rasulullah ﷺ adalah jalan menuju ma'rifat kepada Allah.
👍ADAB BATHIN KEPADA GURU MURSYID
1. Tawadhu‘ (merendahkan diri) di hadapan mursyid.
Jangan memandang beliau sebagai manusia biasa, tapi sebagai perantara cahaya ilahi.
Imam al-Ghazali berkata:
“Barang siapa tidak memuliakan gurunya, maka ia terhalang dari barakah ilmunya.”
2. Husnuzan (berprasangka baik).
Jangan menilai zahir mursyid dengan logika biasa. Segala sikap beliau mengandung hikmah pendidikan ruhani (tarbiyah batiniyah).
3. Pasrah dan yakin pada bimbingannya.
Sebagaimana pasien pasrah kepada dokter, maka salik pasrah kepada mursyidnya dalam urusan jalan ruhani.
Syaikh Abu Yazid al-Busthami berkata:
“Barang siapa tidak menyerahkan urusannya kepada mursyid, maka ia tidak akan sampai.”
👍 ADAB ZAHIR KEPADA GURU MURSYID
1. Ta'at dalam bimbingan — selama tidak bertentangan dengan syariat.
Jika mursyid memerintahkan suatu amal, laksanakan dengan ikhlas.
2. Sopan dalam ucapan dan sikap.
Jangan memotong pembicaraan, jangan membantah, dan jangan meninggikan suara.
Allah berfirman:
لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ
(QS. al-Ḥujurāt ayat : 2)
Ulama tasawuf menafsirkan bahwa ayat ini juga berlaku secara maqāmī kepada guru mursyid yang mewarisi sifat-sifat Nabi ﷺ.
3. Hadir dengan hati khusyuk ketika berjumpa dengan guru ,Jangan berhadapan dengan guru dalam keadaan lalai, marah, atau sombong.
4. Tidak mendahului beliau dalam keputusan atau bicara.
Salik hendaknya menunggu isyarah atau izin dari mursyidnya terutama dalam urusan spiritual.
5. Menjaga nama baik mursyid.
Jangan menceritakan kekurangan atau menafsirkan secara salah perilaku mursyid di hadapan orang lain.
👍 ADAB DALAM ROBITAH DAN ZIKIR
1. Rabithah dengan mursyid berarti menghadirkan gambaran mursyid dalam hati sebelum berdzikir, dengan keyakinan bahwa beliau menjadi wasilah (perantara) untuk menghadapkan hati kepada Allah.
2. Jangan menganggap mursyid sebagai tujuan, tapi jadikan Mursyid sebagai cermin yang memantulkan cahaya Ilahi.
3. Berzikir dengan adab dan kafiyat yang di ajarkan oleh Mursyid, sambil menghadirkan rasa hormat kepada sanad silsilah yang sampai kepada Rasulullah ﷺ melalui mursyid.
👍. ADAB KETIKA JAUH DARI MURSYID
1. Do'akan Mursyid setiap hari.
Dengan doa seperti ini:
اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي عُمْرِ شَيْخِنَا، وَاحْفَظْهُ فِي صِحَّتِهِ وَنُورِه
Allāhumma bārik fī ‘umri syaikhina, wa ḥafazh-hu fī ṣiḥḥatihi wa nūrihi.
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah umur guru kami (syaikh kami),
dan peliharalah beliau dalam kesehatannya serta dalam cahaya (nur) ruhani-Nya.”
Do'a ini biasanya dibaca oleh para murid (salik) setiap selesai dzikir atau sholat, sebagai bentuk mahabbah (cinta), adab, dan permohonan berkah bagi mursyid yang menjadi pembimbing ruhani.
2. Tetap Istiqomah melaksanakan amalan yang telah diajarkan, meski tidak dalam pengawasan beliau.
3. Jaga hubungan hati kepada Mursyid , jangan lalai dalam ber rabithah meskipun jasad sedang berjauhan.
Para arif berkata:
“Barang siapa senantiasa terikat hati dengan mursyidnya, maka rohnya tidak akan terputus dari limpahan rahmat Allah.”
👍 ADAB SAAT MURSYID SUDAH WAFAT
1. Tetap lakukan Berabithah sebagaimana ketika beliau masih hidup, karena yang wafat adalah zahirnya saja sedangkan ruhaniyah mursyid tetap hidup dan tidak terputus dari muridnya.
2. Selalu menziarahi maqam beliau dengan penuh adab, dan khusyuk.
3. Amalkan terus apa apa yang pernah di ajarakan beliau, sebab mursyid yang sejati tetap menjadi pembimbing dari alam barzakh.
Ungkapan Para Arif Billah
Imam al-Junaid al-Baghdadi berkata:
“Tidak akan sampai kepada Allah orang yang tidak dibimbing oleh mursyid yang arif.”
Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i berkata:
“Mursyid adalah rahasia di balik setiap keberhasilan salik. Maka siapa yang tidak beradab kepadanya, terhijablah dari nur Allah.”
Semoga bermanfaat ...

Sumber dari Haris Haris

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

𝐒𝐀𝐘𝐘𝐈𝐃𝐀𝐇 𝐑𝐀𝐁𝐈'𝐀𝐇 𝐀𝐋-𝐀𝐃𝐀𝐖𝐈𝐘𝐀𝐇❞

  ❝𝐓𝐎𝐊𝐎𝐇 𝐒𝐔𝐅𝐈, 𝐊𝐈𝐒𝐀𝐇 𝐒𝐀𝐘𝐘𝐈𝐃𝐀𝐇 𝐑𝐀𝐁𝐈'𝐀𝐇 𝐀𝐋-𝐀𝐃𝐀𝐖𝐈𝐘𝐀𝐇❞ 𝐓𝐎𝐊𝐎𝐇 𝐖𝐀𝐍𝐈𝐓𝐀 𝐒𝐔𝐅𝐈... 𝐖𝐀𝐋𝐈 ...