Khamis, 30 Oktober 2025

KISAH SUFI KAYA DAN SUFI MISKIN."

 



"KISAH SUFI KAYA DAN SUFI MISKIN."
Ada seorang Sufi yang hanya memiliki satu murid. Setiap harinya, si guru dan muridnya tersebut memancing ikan untuk dikonsumsi sebagai makanan. Jika mendapatkan ikan satu, maka dibagi hasil tangkapan satu ikan itu untuk dimakan sang guru dan murid. Mereka hidup sederhana dan fokus pada spiritualitas.
Hari-hari pun berlalu sampai suatu ketika,
si murid ini akan pergi keluar kota, dan guru tersebut memberikan pesan menitipkan salam untuk temannya yang kebetulan di daerah situ. Sang murid tidak tahu apa-apa tentang teman gurunya itu, tapi ia berjanji untuk menyampaikan salam tersebut.
Setelah melewati perjalanan yang sangat panjang, sang murid akhirnya bisa berjumpa dengan teman guru yang dimaksud.
Betapa kagetnya setelah ia mengetahui rumahnya yang mewah bak istana raja.
Ia bertanya kepada para tetangganya, apakah betul bahwa istana itu tempat tinggal sang Sufi teman dari gurunya itu. Semuanya menjawab, "Ya."
Lebih kaget lagi setelah si pemilik istana itu datang dengan pakaian yang mewah dan kendaraan yang luar biasa bagusnya.
Sang murid bertanya-tanya dalam hatinya, apakah benar yang dimaksudkan oleh gurunya.
Akan tetapi, karena telanjur sudah menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan, ia pun menjumpai Sufi yang kaya raya tersebut.
Setelah menyampaikan salam dari gurunya, ia pun menyampaikan maksud dan tujuannya. Betapa kagetnya sang murid setelah mendengar kata-kata yang keluar dari lisan Sufi yang kaya raya itu:
"Tolong sampaikan salam saya kembali kepada gurumu. Aku berpesan agar dia tidak selalu sibuk dengan urusan dunia."
Sang murid merasa heran dan bingung. Bagaimana mungkin orang kaya raya itu memberi nasehat kepada gurunya yang jauh dari kehidupan dunia agar tidak sibuk dengan urusan dunia. Bahkan, untuk makan saja dari hasil memancing ikan itu pun hasilnya dibagi rata, berbanding terbalik dengan teman gurunya. Gumam si murid dalam hatinya.
Ia pamit pulang dengan perasaan marah dan kecewa. Sesampai di padepokan gurunya, sang guru bertanya apa pesan yang disampaikan oleh teman saya.
Si murid diam seribu bahasa tidak menjawab, akhirnya si guru bertanya lagi pesan apa yang disampaikan akan tetapi murid ini tetap tidak mau mengatakan pesan yang diucapkan teman gurunya karena merasa sakit hati.
Dan akhirnya guru itu bertanya lagi:
"Udah sampaikan saja apa yang dikatakan teman saya, pesan ya apa?"
Akhirnya si murid mengatakan:
"Tolong sampaikan salam saya kembali kepada gurumu. Aku berpesan agar dia tidak selalu sibuk dengan urusan dunia."
Sang murid masih merasa tidak puas dan bertanya-tanya mengapa gurunya tidak marah mendengar pesan tersebut.
Sang guru akhirnya menjelaskan bahwa orang kaya raya yang dijumpai oleh muridnya itu memang memiliki istana yang mewah, kendaraan yang bagus, dan selalu berpakaian indah, tanah dan perkebunannya luas. Namun demikian, harta yang melimpah itu tidak menyebabkannya lalai dan lupa kepada Allah Swt. Hartanya tidak mengganggu dzikirnya kepada Allah Swt. Ia tidak sombong karena hartanya dan jika sewaktu-waktu hartanya diambil oleh pemiliknya, Allah Swt, ia pun tidak merasa terhina karenanya. Ia tidak mencari harta, tapi harta yang mencari dia.
Sementara saya, kata sang Guru, biar tidak punya harta yang melimpah, tapi hari-hari masih disibukkan untuk memikirkan harta. Bahkan bisa jadi saya, kata sang guru, lebih sibuk memikirkan urusan harta dari pada si sufi yang kaya raya tersebut.
Sang murid akhirnya memahami pesan gurunya dan menyadari bahwa zuhud bukan berarti harus meninggalkan dunia secara total, tapi lebih kepada tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup. Ia belajar bahwa kekayaan sejati bukanlah dengan memiliki banyak harta, tapi dengan memiliki hati yang bersih dan selalu mengingat Allah Swt.
Wallahu a'lam.
Semoga Bermanfaat

Sumber dari Samudera Cinta 

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

𝐒𝐀𝐘𝐘𝐈𝐃𝐀𝐇 𝐑𝐀𝐁𝐈'𝐀𝐇 𝐀𝐋-𝐀𝐃𝐀𝐖𝐈𝐘𝐀𝐇❞

  ❝𝐓𝐎𝐊𝐎𝐇 𝐒𝐔𝐅𝐈, 𝐊𝐈𝐒𝐀𝐇 𝐒𝐀𝐘𝐘𝐈𝐃𝐀𝐇 𝐑𝐀𝐁𝐈'𝐀𝐇 𝐀𝐋-𝐀𝐃𝐀𝐖𝐈𝐘𝐀𝐇❞ 𝐓𝐎𝐊𝐎𝐇 𝐖𝐀𝐍𝐈𝐓𝐀 𝐒𝐔𝐅𝐈... 𝐖𝐀𝐋𝐈 ...