MURAQOBAH MUTLAQ
Makalah :
MURAQABAH MUṬLAQ( المراقبة المطلة)
Muraqobah mutlaq ( المراقبة المطلة )adalah salah satu tingkatan zikir dalam ajaran Thoriqat Naqsyabandiyah.
Maqom muraqobah mutlaq ini adalah puncak dari bahagian bahagian Maqom muraqobah.
Baiklah saya akan jelaskan dengan terbib agar salik dapat memahami dengan sebenarnya apa yang dimaksud dengan muraqobah mutlaq ini.
Juga disertai dengan dalil yang mendukung berikut juga latihan cara latihan nya dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. PENGERTIAN MURAQOBAH
Secara bahasa: مراقبة berasal dari kata ( راقبة ) Raqaba yang berarti:
Secara istilah tasawuf: Muraqabah adalah kesadaran hati bahwa Allah senantiasa melihat, mengetahui, dan mengawasi dirinya setiap saat.
2. PENGERTIAN MURAQOBAH MUTLAK
Pengertian Muraqabah Mutlaq
Secara bahasa:
Muraqabah (مراقبة) berasal dari kata raqaba → mengawasi, memperhatikan
Mutlaq (مطلق) → tanpa batas, tanpa terikat keadaan.
Kesadaran total dan terus-menerus bahwa Allah selalu mengawasi hamba-Nya dalam segala keadaan Baik lahir maupun batin, tanpa terputus sedikit pun.
Disebut muṭlaqah (mutlak) karena:
- Tidak terbatas oleh waktu
- Tidak terbatas oleh tempat
- Tidak bergantung dengan keadaan
Jadi hendaklah di rasakan dalam setiap keadaan, baik dalam duduk, sedang berdiri, sedang diam, dan bergerak hati tetap sadar dan merasa bahwa Allah tetap mengawasi keadaan kita.
a. Dalil tentang muraqobah mutlaq:
1. Allah Maha Mengawasi
Allah berfirman dalam Al Qur'an
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah selalu mengawasi. kalian.” (QS. An-Nisa ayat : 1)
(Ini adalah dalil utama muraqabah mutlaq)
Dalil ini adalah salah satu dalil paling kuat tentang muraqobah mutlaq, yaitu kesadaran bahwa Allah tetap mengawasi secara total, tanpa terputus, tanpa batas waktu dan tempat.
Maknanya firman Allah Ta‘ala:
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian.”
(QS. An-Nisā’ ayat : 1)
Makna Kata “رَقِيبًا (Raqīban)”
Ar-Raqīb adalah salah satu nama Allah (Asmaul Husnah)
Artinya:
dzat Yang selalu mengawasi tanpa lengah
Yang mengetahui setiap gerak, niat, bahkan lintasan hati Yang hadir tanpa terhalang oleh ruang dan waktu.
Jadi definisi Hakikat (Muraqobah Mutlaq) adalah:
Kesadaran yang terus menerus bahwa Allah tetap mengawasi kita dalam segala keadaan hal baik zahir maupun batin, yang nyata, maupun yang tersembunyi.
Dan Ini bukan hanya sekadar pemahaman ilmu, akan tetapi juga tentang keadaan hati (ḥāl).
2. Tingkatan Pemahaman dari Ayat Ini :
A. Tingkatan bagi orang Awam
Ia Merasa :
“Allah melihat perbuatanku”
Dampak nya maka :
- ia akan Takut untuk berbuat dosa meskipun dalam keadaan sendiri.
- akan selalu Istiqomah Menjaga amal amal ibadah.
B. Tingkatan orang Khawas
Ia merasa:
“Allah mengetahui isi hatiku”
Dampak nya :
- Selalu Menjaga niat hati dengan benar
- Membersihkan hati dari segala sifat riya, ujub, sombong , Takabbur dll.
C. Tingkatan Khawasul Khawas
Ia Merasa:
“Aku selalu di hadapan Allah”
Bahkan lebih dalam:
“Tidak ada selain pengawasan Allah”
Dampak nya :
- Hati selalu hadir (hudhur)
- Hilang sifat lalai (ghoflah)
- Segala gerak menjadi nilai ibadah.
Muraqobah mutlaq sangat dekat hubungannya dengan Maqom Ihsan. Hal ini berkaitan dengan sabda Rasullullah Saw :
Rasulullah ﷺ bersabda:
الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
Artinya:
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika tidak mampu maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.”
(HR. Muslim)
Ini adalah penjelasan langsung dari muraqobah.
“Dia melihatmu” = muraqobah awal
“Seakan-akan engkau melihat-Nya” = muraqobah tingkat tinggi.
Dalil Pendukung Lain (Memperkuat Muraqobah Mutlaq)
A. Allah dekat dan selalu bersama
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Artinya:
“Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.”
(QS. Al-Hadid ayat : 4)
B. Allah mengetahui isi hati
وَيَعْلَمُ مَا فِي الصُّدُورِ
Artinya: Dia mengetahui apa yang ada di dalam dada.”
C. Allah lebih dekat dari urat leher
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya:
Dan dia lebih dekat dari urat leher mu.
(QS. Qaf ayat : 16)
Para ulama sufi mengatakan:
المراقبة دوام علم العبد بعلم الله فيه
“Muraqobah adalah terus-menerusnya kesadaran seorang hamba bahwa Allah mengetahui dirinya.”
Rahasia terdalam:
Bukan hanya: Allah melihatku”
Tetapi: Aku tidak pernah keluar dari penglihatan Allah”
Bahkan pada tingkat tinggi:
Hamba lupa pada dirinya
Yang tersisa hanya: Kesadaran akan Allah
✦ Menurut Imam Al-Ghazali
Dalam Ihya Ulumuddin:
Muraqabah adalah kesadaran hati bahwa Allah mengetahui segala gerak-geriknya, lahir maupun batin.
Tidak ada satu detik pun hati lalai dari Allah
Hati selalu hadir (hudhur) bersama-Nya.
✦ Menurut Al-Junaid al-Baghdadi
“Muraqabah adalah menjaga hati agar tidak berpaling dari Allah walau sekejap.”
Muraqabah Mutlaq (total, tanpa jeda)
✦ Menurut Bahauddin Naqshband
Dalam Thariqat Naqsyabandiyah:
Wuquf Qalbi (hati selalu hadir kepada Allah)
“Seorang salik harus menjaga hatinya agar selalu bersama Allah dalam setiap nafasnya.”
- CARA MELATIH MURAQABAH MUṬLAQ
Baik, kita masuk ke pembahasan yang lebih dalam dan praktis, khususnya dalam jalur Thariqat Naqsyabandiyah:
1. Latihan Praktis Muraqobah Mutlaq
A. Dasar Latihan:
- Hadirkan Kesadaran
Diambil dari dalil:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Artinya: Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.” (QS. Al-Hadid : ayat : 4)
Latihan:
- Duduk tenang ( duduk tawaruk kiri )
- Pejamkan mata
- Tarik nafas perlahan dan lepaskan perlahan
- Fokus ke dalam hati (qolbu)
- Lalu hadirkan dalam hati:
“Allah bersamaku… Allah melihatku… Allah mengetahui segala isi hatiku…”
Bukan membayangkan bentuk dan wujud Allah.
tetapi menyadari kehadiran-Nya tanpa rupa.
B. Teknik “Wuquf Qalbi” (Berhenti di Hati)
Caranya :
Letakkan perhatian di dada kiri (Latifah qalbi)
Rasakan: “Allah melihat hatiku sekarang”
Jika pikiran lari: Kembalikan lagi ke hati
Inilah: Menjaga hati tetap hadir di hadapan Allah.
C. Latihan Nafas + Dzikir Sirr (Diam)
Dzikir tanpa suara:
Mula mula lazimkan berzikir
“الله ...الله...…” (dalam qolbu)
- Zikir nafas
Latihan untuk zikir nafas ini untuk merasakan kehadiran Allah dalam setiap keadaan.
Caranya:
Tarik nafas →kalimahnya الله ....
Hembuskan →kalimahnya هو....
Tujuan:
- Untuk Menghidupkan hati
- Merasakan kehadiran Allah secara terus menerus dalam setiap keadaan agar tidak lalai walaupun sehembus nafas.
( Namun hendaklah tetap dalam pengawasan dari syekh )
D. Melatih Muraqobah mutlaq dalam Aktivitas Sehari-hari.
Maka takkala melakukan aktivitas sehari hari baik waktu berjalan, berbicara, makan, bekerja maka : Rasakan dalam hati:
“Allah melihat segala perbuatanku sekarang…”
Dan di lazimkan setuap hari sampai akhirnya:
Tidak perlu diingatkan lagi ,MakaHati otomatis sadar akan kehadiran Allah.
- BUAH DARI MURAQOBAH MUTLAQ
Jika seorang salik tetap menjaga Muraqobah mutlaq maka akan menimbulkan hasil yaitu:
- ikhlasnya menjadi sempurna
- Hatinya menjadi hidup (qalbun hayy)
- Dzikir terus berjalan dalam batin.
- Terbuka hijab (kasyaf)
- Masuk ke maqam Ihsan → menuju Ma‘rifat
- Ia akan Malu untuk berbuat dosa dan maksiat walau sedang sendirian dan tidak ada yang melihat.
- Hatinya akan selalu hidup berzikir mengingat Allah dimana saja berada.
- Segala Gerak dan diamnya penuh dengan adab,
Sedikit bicara, banyak muhasabah diri , serta takut kehilangan perhatian dari Allah.
- Hubungan Muraqobah mutlaq dengan Wuquf Qolbi.
Pengertian nya sebagai berikut:
Wuquf Qolbi = adalah sebagai Alat
Muraqobah mutlaq = adalah Keadaan ( hal )
Wuquf Qolbi → latihan menjaga hati
Muraqobah mutlaq → hasil dari latihan itu
Ibarat:
Wuquf Qalbi = menyalakan lampu
Muraqobah = cahaya yang terus menyala
- Hubungan dengan (Laa Maujud Illallah)
Ini masuk wilayah ma‘rifat Tingkat tinggi.
Makna Awal: (Tiada yang wujud hakiki selain Allah)
Tahapan Pemahaman:
A. Tahap Ilmu
Mengetahui secara akal = Semua makhluk bergantung kepada Allah.
B. Tahap Dzauq (Rasa)
Dalam muraqobah: = Dunia terasa kecil dan Allah terasa dekat.
C. Tahap Syuhud
Dalam hati = Yang tampak hanya perbuatan Allah
Dalilnya :
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَى
Artinya:
“Bukan engkau yang melempar, tetapi Allah yang melempar.” (QS. Al-Anfal ayat : 17)
- Tahap Haqiqat (Laa Maujud Illallah)
Wujud makhluk = adalah hanya wujud bayangan
Wujud Allah = adalah wujud yang hakiki
Dalam haqiqat : Yang benar-benar ada hanyalah Allah”
Rahasia Dalam Praktik Saat muraqobah mendalam:
- Hati menjadi diam
- Pikiran mulai hilang
- Ego menjadi melemah
Muncul rasa: “Aku diawasi… bahkan aku tidak ada” Ini awal: ( Fana’ )
- Tanda tanda salik yang Berhasil Latihan :
- Hati cepat kembali ingat Allah
- Tidak nyaman saat lalai
- Dzikir akan berjalan sendiri
- Muncul rasa diawasi Allah terus menerus
- Dunia menjadi terasa ringan dan akhirat lebih utama.
Penutup Hikmah
Awalnya engkau berdzikir kepada Allah…
Lama-lama engkau merasa dilihat oleh Allah…
Lalu engkau merasa bersama Allah…
Hingga akhirnya…
engkau tidak melihat apa pun selain Allah dalam hatimu.
...KESALAHAN KESALAHAN YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM MELAKUKAN MURAQOBAH MUTLAQ...
Berikut ini adalah kesalahan-kesalahan yang harus diperhatikan dalam mengamalkan Muraqabah Mutlaq, agar seorang salik tidak terjatuh dalam penyimpangan, ilusi, atau bahkan bahaya aqidah.
Kesalahan:
Menganggap muraqabah berarti melihat Allah dengan mata kepala, Membayangkan bentuk, rupa, atau arah tertentu
Dalil:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”
(QS. Asy-Syura ayat : 11)
“Melihat” di sini adalah melihat dengan hati (basirah), bukan mata Zahir.
Kesalahan:
Merasa mendapat “penglihatan ghaib”
Mendengar suara yang dikira dari Allah
Menganggap semua lintasan hati sebagai ilham
Penjelasan ulama seperti Imam Al-Ghazali:
Tidak semua “rasa” itu benar
Harus ditimbang dengan syariat
- Tidak bertentangan dengan Al-Qur’an & Sunnah
- Tidak menimbulkan kesombongan.
Kesalahan paling berbahaya:
Merasa sudah sampai (washil)
Lalu meninggalkan sholat, dzikir, atau ibadah
Menurut Al-Junaid al-Baghdadi:
“Jalan kami terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”
Semakin tinggi maqam → semakin kuat syariat.
Kesalahan:
Menganggap Allah masuk ke dalam diri
Atau diri menyatu dengan Allah secara dzat
Kedekatan dalam muraqabah adalah:
kedekatan ilmu dan kesadaran, bukan dzat.
Kesalahan:
Memaksa hati agar “harus khusyuk”
Frustrasi jika tidak merasakan apa-apa.
Muraqabah dilatih dengan:
- sabar
- bertahap
- istiqomah
Kesalahan:
Merasa lebih dekat kepada Allah dari orang lain
Bangga dengan maqam sendiri.
- Berani Merendahkan orang lain.
- ingin dipuji sebagai ahli tasawuf.
Kesalahan:
Belajar sendiri tanpa pembimbing
Menafsirkan pengalaman batin sendiri.
Dalam tradisi Bahauddin Naqshband:
Mursyid diperlukan untuk:
membedakan ilham vs was-was
menjaga keseimbangan.
Kesalahan:
Saat hati lalai, merasa sudah gagal
Putus asa
Lalai adalah bagian dari proses
Yang penting:
kembali lagi kepada Allah.
Kesalahan:
Mengejar “rasa nikmat spiritual”
Bukan mencari ridha Allah
Tujuan:
ridha Allah, bukan rasa.
Renungan (Gaya Tasawuf)
Muraqabah Mutlaq adalah jalan halus,
bukan sekadar rasa, tetapi amanah.
Banyak yang terhenti karena khayalan,
banyak yang tersesat karena merasa sampai.
Maka jagalah dirimu:
dengan syariat, dengan tawadhu, dengan guru.
Karena hakikat muraqabah bukan melihat Allah,
tetapi tidak pernah lepas dari-Nya tanpa menyekutukan-Nya.
....KESIMPULAN...
Muraqabah mutlaq adalah puncak kesadaran ruhani seorang hamba bahwa ia senantiasa berada dalam pengawasan Allah, tanpa terikat ruang, waktu, atau keadaan. Ia bukan sekadar ilmu di lisan, tetapi cahaya hidup dalam hati—yang menjadikan setiap gerak, diam, niat, dan lintasan batin selalu terhubung dengan Allah.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa ayat : 1)
Dari kesadaran inilah lahir hati yang hidup, penuh adab, dan senantiasa merasa dilihat oleh Allah dalam setiap keadaan. Muraqabah mutlaq melahirkan rasa malu kepada Allah (ḥayā’), keikhlasan yang murni, serta ketenangan batin yang dalam.
Seorang salik yang mencapai maqam ini tidak lagi beramal karena ingin dilihat manusia, tetapi karena ia selalu “melihat” Allah dengan mata hatinya. Ia menjaga lahir dan batin, karena baginya tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pandangan-Nya.
Pada akhirnya, muraqabah mutlaq menjadi jembatan menuju maqam yang lebih tinggi—di mana seorang hamba tidak hanya merasa diawasi, tetapi tenggelam dalam kehadiran Ilahi, hingga seluruh hidupnya menjadi ibadah, dan seluruh nafasnya menjadi dzikir.
Penutup hakikatnya:
“Selama engkau merasa sendiri, engkau masih jauh.....
Namun ketika engkau merasa selalu bersama-Nya,itulah awal kedekatan.....
Dan ketika engkau tidak lagi melihat dirimu,
melainkan hanya Dia itulah kesempurnaan muraqabah.
Muraqabah Muṭlaq adalah: pintu untuk menuju untuk ma’rifatullah
Awalnya:
“merasa Aku diawasi Allah”
Lalu:
“merasa Aku bersama Allah”
Akhirnya:
“merasa Aku tenggelam dalam kehadiran Allah”
Sumber dari Haris Haris

Tiada ulasan:
Catat Ulasan