Siapa sebenarnya yang berkata ‘aku’
--- 𝙈𝙪𝙧𝙞𝙙-
Guru… aku sering mendengar 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙪𝙡𝙖𝙢𝙖'- “Barangsiapa mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”
Tapi aku tak paham, bagaimana mungkin dengan mengenal diri, seseorang bisa mengenal Tuhan
𝙂𝙪𝙧𝙪- Anakku… karena kebanyakan manusia hidup tanpa pernah benar-benar mengenal siapa yang sedang hidup di dalam dirinya.
Mereka tahu nama, pekerjaan, bahkan cita-citanya…
tapi tidak tahu siapa yang berkata “aku” setiap kali mereka bicara.
𝙈𝙪𝙧𝙞𝙙- Maksud Guru… “aku” yang mana Bukankah aku ini aku sendiri
𝙂𝙪𝙧𝙪- Itulah hijab terbesar manusia.
Mereka mengira “aku” adalah tubuh ini, pikiran ini, atau perasaan ini.
Padahal tubuh akan hancur, pikiran berubah, perasaan datang dan pergi. Namun tetap ada satu yang menyaksikan semuanya — yang tidak lahir dan tidak mati. Itulah nafs, pusat kesadaranmu.
𝙈𝙪𝙧𝙞𝙙- Jadi, mengenal diri berarti mengenal nafs-ku
𝙂𝙪𝙧𝙪- Benar. Tapi bukan hanya mengenalnya… engkau harus menembusinya.
Nafs itu seperti cermin- bila penuh debu ego dan keinginan, kau hanya melihat bayangan dunia, bukan cahaya yang sejati.
Namun bila engkau bersihkan dengan zikir, sabar, dan diam, perlahan cermin itu memantulkan wajah asalmu — dan wajah itu bukan milikmu, tapi milik Dia.
𝙈𝙪𝙧𝙞𝙙- Apakah itu berarti… di dalam diriku ada Tuhan
𝙂𝙪𝙧𝙪- Bukan “ada” seperti sesuatu di dalam wadah, wahai anakku. Tetapi dirimu hanyalah pantulan dari-Nya.
Bayangan tidak bisa lepas dari sumber cahaya. Maka ketika engkau melihat dengan hati yang bersih, yang kau lihat bukan lagi bayangan, melainkan Cahaya itu sendiri.
𝙈𝙪𝙧𝙞𝙙- Tapi mengapa aku tak merasakannya, Guru Mengapa aku masih merasa jauh dari-Nya Guru- Karena hatimu sibuk dengan dunia. Engkau mencari Tuhan di luar dirimu — di langit, di kitab, di tempat-tempat suci — padahal Ia berbisik lembut dari dalam dadamu-
'Aku lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu.”
Dia tidak pernah pergi, anakku. Yang pergi hanyalah kesadaranmu.
𝙈𝙪𝙧𝙞𝙙- Lalu bagaimana aku bisa mengenal-Nya, Guru
𝙂𝙪𝙧𝙪- Dengan mengenal siapa yang berkata “aku”. Setiap kali kau berkata “aku sedih”, “aku marah”, “aku ingin”… tanyakan dalam hatimu- siapakah “aku” itu Dan bila pencarian itu terus kaulakukan, kau akan menemukan bahwa yang hidup di dalam dirimu — yang menyadari, yang mencinta, yang bergetar dalam doa — semuanya adalah Dia yang bersembunyi di balik nama
“aku”.
𝙈𝙪𝙧𝙞𝙙- Jadi… mengenal diri sejati adalah mengenal Tuhan
𝙂𝙪𝙧𝙪- Ya. Sebab saat tabir “aku” tersingkap, yang tersisa hanyalah Dia.
Inilah rahasia tertinggi yang disembunyikan dalam diri setiap insan- Tuhan tidak jauh, Dia tidak asing — Dia adalah Kesadaran yang sedang membaca, mendengar, dan mencintai melalui dirimu.
𝙂𝙪𝙧𝙪- 'Barangsiapa mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.” Sebab yang mengenal dan yang dikenal… pada akhirnya, adalah satu dalam Cinta. ---
Sumber dari FB

Tiada ulasan:
Catat Ulasan