Melihat πΌπ‘π‘ππ bukanlah melihat bentuk,
bukan melihat rupa,
Allah tidak serupa apa pun dan tidak terikat ruang.
Maka mata zahir tidak pernah mampu mencapai-Nya, sebagaimana mata tidak bisa melihat dirinya sendiri tanpa cermin.
Tetapi mata makrifat, mata yang tumbuh dari kedalaman tafakur dan kejernihan hati,
dapat menyaksikan sesuatu yang lebih halus dari cahaya,
lebih nyata dari wujud,
lebih dekat daripada urat leher.
Melihat Allah berarti menyadari satu hakikat besar- tidak ada yang bergerak kecuali Dia.
Ketika jantungmu berdetak tanpa engkau memerintahkannya,
ketika darahmu mengalir tanpa engkau sadari jalannya, ketika napasmu keluar masuk tanpa engkau menghitungnya,
itulah Allah yang sedang menampakkan diri-Nya dalam bentuk gerak kehidupan.
Engkau bukan penggerak.
Engkau hanyalah tempat gerak itu tampak.
Engkau bukan pemilik napas.
Engkau hanyalah jendela tempat napas itu bersuara.
Engkau bukan penentu kesadaran.
Engkau hanyalah cermin tempat cahaya itu berpendar.
Jika manusia menyadari ini,
ia tidak akan sombong atas perbuatannya, karena ia tahu gerak itu bukan miliknya.
Ia tidak akan takut menghadapi masa depan,
karena ia tahu yang menggerakkan langkah bukan dirinya.
Ia tidak akan bersedih berlebihan, karena ia tahu pergantian keadaan adalah tarikan lembut dari Kehendak Yang Maha Gaib.
Di sinilah makna syuhud — kesaksian batin yang melihat Allah di balik segala sesuatu.
Bukan melihat dengan mata kepala, tetapi melihat melalui rasa yang paling sunyi.
Syuhud adalah ketika engkau melihat bahwa semua kejadian adalah sisi luar dari kehendak Allah.
Awan bergerak karena Dia.
Pohon tumbuh karena Dia.
Batu tetap diam karena Dia.
Dan manusia hidup karena Dia.
Ketika engkau diam dan seluruh pikiranmu luruh,
ketika dunia tidak lagi masuk ke dalam kesadaranmu,
ketika engkau hadir sepenuhnya tanpa menilai apa pun, maka engkau menyentuh permukaan dari apa yang disebut para arif sebagai- melihat Allah dengan mata batin.
Pada saat itu, engkau menyadari- bahwa diam yang engkau rasakan bukan milikmu— itu adalah diam Allah yang menampakkan diri melalui dirimu.
Bahwa gerak kecil dalam tubuhmu tidak berdiri sendiri— itu adalah tarikan halus dari kehendak-Nya.
Bahwa hadirnya kesadaran dalam dirimu bukan ciptaanmu— itu adalah percikan cahaya dari Nur-Nya.
Melihat Allah dalam diri adalah memahami bahwa engkau bukan pusat semesta,
melainkan cermin yang memantulkan kehendak-Nya.
Apa yang engkau sebut “ππ πͺ” hanyalah bayangan yang muncul di permukaan cahaya.
Dan ketika kesadaranmu benar-benar jernih,
ketika ego telah padam,
ketika keinginan telah luruh,
engkau akan melihat bahwa- Gerakmu adalah gerak-Nya.
Heningmu adalah hening-Nya.
Hidupmu adalah hidup-Nya.
Dan seluruh dirimu hanyalah layar tempat Allah menulis rahasia-Nya.
Maka para arif berkata- “Siapa melihat dirinya, ia melihat Allah dalam setiap detak.
” Karena yang dilihat bukan rupa, tetapi gerak Ilahi yang menghidupkan segala sesuatu.
# Sumber dari Abrori Abrori

Tiada ulasan:
Catat Ulasan