Ada saat ketika lidah terasa begitu ringan berbicara tentang orang lain, seolah ada kesenangan kecil yang tersembunyi di balik cerita yang tidak perlu. Kita tidak menyadari bahwa kebiasaan itu perlahan menggerus kejernihan batin, menumpuk kotoran halus yang tak tampak. Dalam kehidupan sosial yang penuh hiruk pikuk, membicarakan orang lain sering dipandang sebagai hal sepele, padahal ia mampu meracuni ruang dalam diri yang paling sunyi. Sebaliknya, mengingat Allah adalah tindakan yang membawa jiwa kembali pada pusatnya, mengembalikan arah setelah tersesat dalam riuhnya dunia. Dua aktivitas ini sama-sama melibatkan lisan dan hati, tetapi membawa akibat yang bertolak belakang.
Ketika seseorang terbiasa memfokuskan diri pada kekurangan orang lain, ia sebenarnya sedang melupakan dirinya sendiri. Ia menutup kemungkinan untuk tumbuh, mempersempit ruang bagi introspeksi, dan menyingkirkan ketenangan yang seharusnya menguatkan langkahnya. Namun saat seseorang mengarahkan lisannya untuk mengingat Allah, ia sedang menyalakan cahaya yang menghangatkan dari dalam. Zikir bukan sekadar ucapan, ia adalah cara untuk menyatukan kembali hati yang tercerai-berai oleh dunia, menghaluskan luka yang tak tampak, dan mengangkat jiwa dari keramaian yang melelahkan.
1. Membicarakan orang lain mengikis kedalaman jiwa
Ketika lisan sibuk membicarakan kekurangan orang lain, jiwa perlahan kehilangan kejernihannya. Pikiran menjadi keruh, hati mudah gelisah, dan kedamaian terasa menjauh. Ini bukan hanya soal perilaku sosial, tetapi penyakit halus yang merusak dari dalam. Semakin sering seseorang mengomentari hidup orang lain, semakin sedikit ruang bagi dirinya untuk melihat siapa ia sebenarnya.
2. Energi batin terbuang pada hal yang tidak memberi pertumbuhan
Perhatian adalah energi, dan energi itu selalu bergerak ke arah yang kita pilih. Jika perhatian diberikan pada hal-hal yang tidak memberi manfaat, maka jiwa akan merasa lelah tanpa hasil. Membicarakan orang lain mencuri waktu yang seharusnya digunakan untuk membangun diri, memperbaiki kualitas hati, atau merawat hubungan dengan Tuhan. Ini adalah pemborosan paling berbahaya, karena sering tidak disadari.
3. Zikir adalah cara merawat ruang terdalam dalam diri
Menghadirkan nama Allah di dalam hati adalah bentuk pemeliharaan diri yang paling halus. Zikir bukan sekadar ritual, tetapi cara untuk menjaga jiwa agar tetap terang. Ia mengingatkan kita pada arah, tujuan, dan makna. Ketika hati sibuk mengingat Allah, tidak ada ruang bagi prasangka, iri, atau kesibukan membicarakan kekurangan orang lain.
4. Mengalihkan fokus dari manusia menuju Tuhan membebaskan dari penyakit hati
Manusia akan selalu memiliki kekurangan, dan jika kita terus menatap kekurangan itu, hati akan dipenuhi bayangan yang melelahkan. Namun ketika fokus dialihkan kepada Allah, cahaya itu mengalir membersihkan pikiran dan menenangkan jiwa. Ini bukan pelarian, tetapi proses kembali ke pusat diri, tempat di mana kedamaian selalu tersedia.
5. Menghindari bala dan meraih rahmat dimulai dari pilihan sederhana
Sering kali, rahmat Tuhan hadir melalui langkah-langkah kecil. Menghindari kebiasaan buruk dan menggantinya dengan amalan sederhana seperti zikir dapat membawa perubahan besar pada kehidupan batin. Pilihan untuk tidak membicarakan orang lain adalah bentuk penjagaan diri, sedangkan pilihan untuk mengingat Allah adalah bentuk penyembuhan yang mendalam. Dua pilihan ini menentukan apakah hidup kita dipenuhi bala atau rahmat.
Jika hari ini lisanmu menciptakan suasana dalam jiwamu, suasana seperti apa yang sedang kamu bangun: bala yang menggelapkan atau rahmat yang menerangkan?
Sumber dari FB

Tiada ulasan:
Catat Ulasan