IMAM AL-GHAZALI:
Dalam kegelapan itu, ia meninggalkan jabatan bergengsi, harta kekayaan, dan keluarganya untuk mencari kebenaran yang tak terjangkau oleh akal.
.
Selama 11 tahun dalam pengasingan sufi, Imam Al-Ghazali menemukan bahwa kebenaran sejati datang bukan dari argumentasi, tapi dari pengalaman langsung dengan Tuhan.
"Aku menyaksikan realitas yang tak tertuang dalam buku manapun," tulisnya dalam Al-Munqidh min adh-Dhalal. Ia kembali sebagai manusia baru, tidak lagi mencari Tuhan melalui teori, tapi hidup dalam kehadiran-Nya setiap detik.
.
IBN ARABI
Ibn Arabi di usia 15 mengalami visi transformatif yang mempertanyakan seluruh realitas eksistensi. Bagaimana mungkin ia melihat bahwa Tuhan dan ciptaan bukan dua entitas terpisah? Ajaran Wahdatul Wujud (kesatuan wujud) yang ia perkenalkan memicu kegemparan.
"Bukankah ini menyamakan Tuhan dengan makhluk?" tuduhan syirik pun menghantuinya sepanjang hidup.
.
Perjalanan mistiknya dari Andalusia ke Damaskus membuka mata bahwa kebenaran multiversal. "Tuhan adalah cahaya langit dan bumi. Ciptaan hanyalah bayang-bayang cahaya," katanya.
Dari Fusus al-Hikam hingga Al-Futuhat al-Makkiyyah, ia menulis 800 karya yang membuktikan bahwa spiritualitas bukan tentang meninggalkan dunia, tapi melihat Tuhan dalam setiap atom kehidupan.
.
Ibn Rusyd dokter sekaligus filsufterperangkap antara dua api: akal rasional dan wahyu Tuhan. Ibn Sina mengalami hal serupa; sebagai ilmuwan jenius, ia menyadari bahwa sains punya batas.
"Bagaimana menjelaskan pengalaman spiritual yang tak terjangkau oleh mikroskop atau teleskop?" tanya mereka. Dunia Barat menyebut mereka "komentator Aristoteles," tapi mereka adalah pencari Tuhan dalam laboratorium alam semesta.
.
Keempat tokoh ini mengajarkan bahwa pertentangan antara akal dan iman adalah ilusi. Krisis spiritual mereka yang mempertanyakan segalanya justru menjadi pintu pencerahan. "Barang siapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhan-nya."
Di era di mana kita terjebak antara fundamentalisme dan sekularisme, mereka menawarkan jalan ketiga: spiritualitas yang cerdas, berbasis pengalaman, dan tak takut pada pertanyaan.
Sumber dari Muhammad Salim Akbar

Tiada ulasan:
Catat Ulasan