Khamis, 30 Oktober 2025

KISAH SUFI KAYA DAN SUFI MISKIN."

 



"KISAH SUFI KAYA DAN SUFI MISKIN."
Ada seorang Sufi yang hanya memiliki satu murid. Setiap harinya, si guru dan muridnya tersebut memancing ikan untuk dikonsumsi sebagai makanan. Jika mendapatkan ikan satu, maka dibagi hasil tangkapan satu ikan itu untuk dimakan sang guru dan murid. Mereka hidup sederhana dan fokus pada spiritualitas.
Hari-hari pun berlalu sampai suatu ketika,
si murid ini akan pergi keluar kota, dan guru tersebut memberikan pesan menitipkan salam untuk temannya yang kebetulan di daerah situ. Sang murid tidak tahu apa-apa tentang teman gurunya itu, tapi ia berjanji untuk menyampaikan salam tersebut.
Setelah melewati perjalanan yang sangat panjang, sang murid akhirnya bisa berjumpa dengan teman guru yang dimaksud.
Betapa kagetnya setelah ia mengetahui rumahnya yang mewah bak istana raja.
Ia bertanya kepada para tetangganya, apakah betul bahwa istana itu tempat tinggal sang Sufi teman dari gurunya itu. Semuanya menjawab, "Ya."
Lebih kaget lagi setelah si pemilik istana itu datang dengan pakaian yang mewah dan kendaraan yang luar biasa bagusnya.
Sang murid bertanya-tanya dalam hatinya, apakah benar yang dimaksudkan oleh gurunya.
Akan tetapi, karena telanjur sudah menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan, ia pun menjumpai Sufi yang kaya raya tersebut.
Setelah menyampaikan salam dari gurunya, ia pun menyampaikan maksud dan tujuannya. Betapa kagetnya sang murid setelah mendengar kata-kata yang keluar dari lisan Sufi yang kaya raya itu:
"Tolong sampaikan salam saya kembali kepada gurumu. Aku berpesan agar dia tidak selalu sibuk dengan urusan dunia."
Sang murid merasa heran dan bingung. Bagaimana mungkin orang kaya raya itu memberi nasehat kepada gurunya yang jauh dari kehidupan dunia agar tidak sibuk dengan urusan dunia. Bahkan, untuk makan saja dari hasil memancing ikan itu pun hasilnya dibagi rata, berbanding terbalik dengan teman gurunya. Gumam si murid dalam hatinya.
Ia pamit pulang dengan perasaan marah dan kecewa. Sesampai di padepokan gurunya, sang guru bertanya apa pesan yang disampaikan oleh teman saya.
Si murid diam seribu bahasa tidak menjawab, akhirnya si guru bertanya lagi pesan apa yang disampaikan akan tetapi murid ini tetap tidak mau mengatakan pesan yang diucapkan teman gurunya karena merasa sakit hati.
Dan akhirnya guru itu bertanya lagi:
"Udah sampaikan saja apa yang dikatakan teman saya, pesan ya apa?"
Akhirnya si murid mengatakan:
"Tolong sampaikan salam saya kembali kepada gurumu. Aku berpesan agar dia tidak selalu sibuk dengan urusan dunia."
Sang murid masih merasa tidak puas dan bertanya-tanya mengapa gurunya tidak marah mendengar pesan tersebut.
Sang guru akhirnya menjelaskan bahwa orang kaya raya yang dijumpai oleh muridnya itu memang memiliki istana yang mewah, kendaraan yang bagus, dan selalu berpakaian indah, tanah dan perkebunannya luas. Namun demikian, harta yang melimpah itu tidak menyebabkannya lalai dan lupa kepada Allah Swt. Hartanya tidak mengganggu dzikirnya kepada Allah Swt. Ia tidak sombong karena hartanya dan jika sewaktu-waktu hartanya diambil oleh pemiliknya, Allah Swt, ia pun tidak merasa terhina karenanya. Ia tidak mencari harta, tapi harta yang mencari dia.
Sementara saya, kata sang Guru, biar tidak punya harta yang melimpah, tapi hari-hari masih disibukkan untuk memikirkan harta. Bahkan bisa jadi saya, kata sang guru, lebih sibuk memikirkan urusan harta dari pada si sufi yang kaya raya tersebut.
Sang murid akhirnya memahami pesan gurunya dan menyadari bahwa zuhud bukan berarti harus meninggalkan dunia secara total, tapi lebih kepada tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup. Ia belajar bahwa kekayaan sejati bukanlah dengan memiliki banyak harta, tapi dengan memiliki hati yang bersih dan selalu mengingat Allah Swt.
Wallahu a'lam.
Semoga Bermanfaat

Sumber dari Samudera Cinta 

...TANDA TANDA MURID SEJATI...

 

...TANDA TANDA MURID SEJATI...
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Berikut ini tanda-tanda seorang murid sejati (as-sālik ash-shādiq) menurut para ulama thariqah dan ahli sufi disertai penjelasan batiniah yang mendalam
1️⃣ Niatnya Murni Karena Allah, Bukan Karena Dunia
Imam al-Junaid al-Baghdādī berkata:
“الصادق هو الذي يُطَهِّرُ سَيْرَهُ إِلَى اللهِ مِنْ كُلِّ شَوْبٍ.”
Artinya:
Seorang murid sejati adalah yang menyucikan perjalanannya menuju Allah dari segala campuran (kepentingan selain Allah).
Makna:
Murid sejati tidak mencari karamah, kedudukan, atau kehormatan, tapi semata-mata ingin mengenal Allah (ma‘rifatullah).
2️⃣ Tunduk, Patuh, dan Ridho atas Bimbingan Mursyid
Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam al-Fath ar-Rabbānī menasihatkan:
“من لم يتأدب مع شيخه لا يفلح أبداً.”
Artinya:
Barang siapa tidak beradab kepada gurunya, maka ia tidak akan pernah berhasil (dalam suluknya).
Maknanya :
Ketaatan dan kepasrahan adalah cermin fana’ dalam mursyid, yaitu lenyapnya kehendak pribadi di bawah bimbingan rohani.
3️⃣ Sabar atas Ujian dan Cobaan Jalan Ruhani
Imam Abu Yazid al-Busthami berkata:
“لَوْ نَظَرْتَ إِلَى الْحَقِّ فِي كُلِّ بَلَاءٍ لَرَأَيْتَ نِعْمَةً بَاطِنَةً.”
Artinya:
Jika engkau melihat Allah di balik setiap ujian, engkau akan melihat di dalamnya nikmat tersembunyi.
Maknanya :
Jalan sufi penuh ujian; hanya murid sejati yang bersabar, ridho dan tidak berpaling dari mursyid meski diuji lahir-batin.
4️⃣ Tetap Rendah Hati, Tidak Merasa Sudah Sampai
Imam al-Ghazali (Ihyā’ ‘Ulūmiddīn) menulis:
“علامة الصادق أن لا يرى لنفسه عملاً، ولا يطلب من الله حالاً.”
Artinya:
Tanda murid sejati: ia tidak melihat amalnya sendiri, dan tidak menuntut Allah memberi kedudukan spiritual tertentu.
Maknanya :
Murid sejati selalu merasa kecil di hadapan Allah. Semakin tinggi maqamnya, semakin dalam tawadhu’-nya.
5️⃣ Menjaga Dzikir dan Wirid dengan Istiqamah
Ibnu ‘Athoillah as-Sakandari (Hikam no. 68):
“لا تترك الذكر لعدم حضورك مع الله فيه، فإن غفلتك عن ذكره أشدّ من غفلتك في ذكره.”
Artinya:
Jangan tinggalkan dzikir hanya karena engkau belum hadir bersama Allah di dalamnya; kelalaianmu dalam berdzikir lebih ringan daripada lalai tanpa dzikir.
Maknanya :
Istiqamah lebih utama daripada semangat sesaat. Dzikir terus dilakukan hingga hati terbuka (inbisāth) dan merasakan kehadiran Allah (hudhur).
6️⃣ Cinta dan Adab kepada Mursyid Tidak Berkurang Meski Tidak Dipuji
Syekh Ahmad ar-Rifa‘i berkata:
“المريد الصادق لا يتغيّر حبه لشيخه بمدحٍ أو ذمٍّ، بل يزيد حبّه في الشدّة والرخاء.”
Artinya:
Murid sejati tidak berubah cintanya kepada mursyid karena pujian atau celaan; cintanya justru bertambah dalam suka dan duka.
Maknanya :
Murid yang sejati tidak mencari perhatian guru, tapi mencari ridha Allah melalui keridhaan gurunya.
7️⃣ Selalu Introspeksi Diri (Muhāsabah) dan Merendah di Hadapan Allah
Imam Junaid berkata:
“الطريق إلى الله مَسدودٌ إلا على من اقتفى أثر الرسول ﷺ.”
Artinya:
Jalan menuju Allah tertutup kecuali bagi orang yang mengikuti jejak Rasul ﷺ.
Maknanya :
Murid sejati selalu mengoreksi amalnya, memperbaiki niatnya, dan berusaha meneladani sunnah Nabi dalam segala hal.
8️⃣ Mengasihi Sesama Murid dan Tidak Merasa Lebih Utama
Syekh Ibnu Ajibah menulis dalam Iqāẓ al-Himam:
“مِنْ أَدَبِ الْمُرِيدِ أَنْ يُحِبَّ إِخْوَانَهُ فِي اللهِ، وَلَا يَرَى لِنَفْسِهِ فَضْلًا عَلَيْهِمْ.”
Artinya:
Termasuk adab murid adalah mencintai saudara-saudara sesama pengamal Thoriqat karena Allah, dan tidak merasa lebih tinggi daripada mereka.
Maknanya :
Kecemburuan batin antar murid adalah hijab yang besar. Murid sejati melihat semua ikhwan sebagai cermin dirinya sendiri.
9️⃣ Selalu Bersyukur dan Tidak Mengeluh
Syekh Abdul Qadir al-Jilani berkata:
“اشكروا الله على ما أنعم عليكم من الصحبة الصالحة، فإنها طريق الوصول.”
Artinya:
Bersyukurlah kepada Allah atas nikmat persahabatan dengan guru yang saleh, karena itulah jalan menuju Allah.
Maknanya :
Rasa syukur kepada mursyid menumbuhkan barakah sirriyyah yaitu rahasia karunia ruhani yang mengalir dari qolbu guru ke dalam qolbu murid.
Kalimat penutup dari Imam al-Junaid al-Baghdadi:
“طريقنا هذا مبنيّ على الأدب، فمَن فَقَد الأدب فَقَد الطريق.”
“Jalan kami ini dibangun di atas adab; barang siapa kehilangan adab, maka hilanglah jalan (menuju Allah) darinya.”
...KEDUDUKAN GURU MURSYID...
Guru Mursyid bukan sekadar pengajar ilmu, akan tetapi pembimbing ruhani yang menunjukkan jalan menuju ma'rifat kepada Allah.
Allah berfirman:
فَاتَّبِعْنِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”
(QS. Āli ‘Imrān ayat 31)
Para ulama tasawuf menafsirkan ayat ini bahwa mengikuti bimbingan guru mursyid yang bersanad kepada Rasulullah ﷺ adalah jalan menuju ma'rifat kepada Allah.
👍ADAB BATHIN KEPADA GURU MURSYID
1. Tawadhu‘ (merendahkan diri) di hadapan mursyid.
Jangan memandang beliau sebagai manusia biasa, tapi sebagai perantara cahaya ilahi.
Imam al-Ghazali berkata:
“Barang siapa tidak memuliakan gurunya, maka ia terhalang dari barakah ilmunya.”
2. Husnuzan (berprasangka baik).
Jangan menilai zahir mursyid dengan logika biasa. Segala sikap beliau mengandung hikmah pendidikan ruhani (tarbiyah batiniyah).
3. Pasrah dan yakin pada bimbingannya.
Sebagaimana pasien pasrah kepada dokter, maka salik pasrah kepada mursyidnya dalam urusan jalan ruhani.
Syaikh Abu Yazid al-Busthami berkata:
“Barang siapa tidak menyerahkan urusannya kepada mursyid, maka ia tidak akan sampai.”
👍 ADAB ZAHIR KEPADA GURU MURSYID
1. Ta'at dalam bimbingan — selama tidak bertentangan dengan syariat.
Jika mursyid memerintahkan suatu amal, laksanakan dengan ikhlas.
2. Sopan dalam ucapan dan sikap.
Jangan memotong pembicaraan, jangan membantah, dan jangan meninggikan suara.
Allah berfirman:
لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ
(QS. al-Ḥujurāt ayat : 2)
Ulama tasawuf menafsirkan bahwa ayat ini juga berlaku secara maqāmī kepada guru mursyid yang mewarisi sifat-sifat Nabi ﷺ.
3. Hadir dengan hati khusyuk ketika berjumpa dengan guru ,Jangan berhadapan dengan guru dalam keadaan lalai, marah, atau sombong.
4. Tidak mendahului beliau dalam keputusan atau bicara.
Salik hendaknya menunggu isyarah atau izin dari mursyidnya terutama dalam urusan spiritual.
5. Menjaga nama baik mursyid.
Jangan menceritakan kekurangan atau menafsirkan secara salah perilaku mursyid di hadapan orang lain.
👍 ADAB DALAM ROBITAH DAN ZIKIR
1. Rabithah dengan mursyid berarti menghadirkan gambaran mursyid dalam hati sebelum berdzikir, dengan keyakinan bahwa beliau menjadi wasilah (perantara) untuk menghadapkan hati kepada Allah.
2. Jangan menganggap mursyid sebagai tujuan, tapi jadikan Mursyid sebagai cermin yang memantulkan cahaya Ilahi.
3. Berzikir dengan adab dan kafiyat yang di ajarkan oleh Mursyid, sambil menghadirkan rasa hormat kepada sanad silsilah yang sampai kepada Rasulullah ﷺ melalui mursyid.
👍. ADAB KETIKA JAUH DARI MURSYID
1. Do'akan Mursyid setiap hari.
Dengan doa seperti ini:
اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي عُمْرِ شَيْخِنَا، وَاحْفَظْهُ فِي صِحَّتِهِ وَنُورِه
Allāhumma bārik fī ‘umri syaikhina, wa ḥafazh-hu fī ṣiḥḥatihi wa nūrihi.
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah umur guru kami (syaikh kami),
dan peliharalah beliau dalam kesehatannya serta dalam cahaya (nur) ruhani-Nya.”
Do'a ini biasanya dibaca oleh para murid (salik) setiap selesai dzikir atau sholat, sebagai bentuk mahabbah (cinta), adab, dan permohonan berkah bagi mursyid yang menjadi pembimbing ruhani.
2. Tetap Istiqomah melaksanakan amalan yang telah diajarkan, meski tidak dalam pengawasan beliau.
3. Jaga hubungan hati kepada Mursyid , jangan lalai dalam ber rabithah meskipun jasad sedang berjauhan.
Para arif berkata:
“Barang siapa senantiasa terikat hati dengan mursyidnya, maka rohnya tidak akan terputus dari limpahan rahmat Allah.”
👍 ADAB SAAT MURSYID SUDAH WAFAT
1. Tetap lakukan Berabithah sebagaimana ketika beliau masih hidup, karena yang wafat adalah zahirnya saja sedangkan ruhaniyah mursyid tetap hidup dan tidak terputus dari muridnya.
2. Selalu menziarahi maqam beliau dengan penuh adab, dan khusyuk.
3. Amalkan terus apa apa yang pernah di ajarakan beliau, sebab mursyid yang sejati tetap menjadi pembimbing dari alam barzakh.
Ungkapan Para Arif Billah
Imam al-Junaid al-Baghdadi berkata:
“Tidak akan sampai kepada Allah orang yang tidak dibimbing oleh mursyid yang arif.”
Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i berkata:
“Mursyid adalah rahasia di balik setiap keberhasilan salik. Maka siapa yang tidak beradab kepadanya, terhijablah dari nur Allah.”
Semoga bermanfaat ...

Sumber dari Haris Haris

KENALI PERBEDAAN ANTARA KASYAF ILLAHI DAN KASYAF SYAITONI.

 

KENALI PERBEDAAN ANTARA KASYAF ILLAHI DAN KASYAF SYAITONI.
Dalam literatur tasawuf, istilah al-kasyf (الكشف) berarti “terbukanya hijab batin”,
yaitu kemampuan hati untuk menyaksikan hakikat sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindra.
Namun para sufi menegaskan bahwa tidak setiap kasyaf itu benar dan suci. Ada kasyaf yang bersumber dari Allah (ilahi/rahmani) dan ada pula yang berasal dari tipu daya setan (syaitani).
Karena itu, para guru ruhani selalu menekankan pentingnya tazkiyatun-nafs (penyucian jiwa) dan bimbingan syariat, agar seorang salik tidak tertipu oleh penampakan yang semu dan tidak menganggap setiap keanehan sebagai tanda kewalian.
• Pengertian Kasyaf dalam Kitab Tasawuf
Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi menjelaskan dalam ar-Risalah al-Qusyairiyyah:
وَالكَشْفُ هُوَ مَا يَظْهَرُ عَلَى قُلُوبِ الأَوْلِيَاءِ مِنْ أَنْوَارِ الغُيُوبِ وَفُتُوحِ السُّدُودِ، وَهُوَ مِنْ ثِمَارِ المُجَاهَدَةِ وَصِدْقِ التَّوَجُّهِ.
“Kasyaf adalah tampaknya pada hati para wali cahaya-cahaya dari perkara gaib dan terbukanya penghalang-penghalang batin.
Ia merupakan buah dari kesungguhan dalam mujahadah dan keikhlasan dalam menghadapkan diri kepada Allah.”
(ar-Risalah al-Qusyairiyyah, bab al-Mukasyafah)
Dengan demikian, kasyaf bukanlah tujuan, melainkan buah dari perjalanan panjang penyucian jiwa dan penghambaan kepada Allah. Ia tidak dapat dicapai hanya dengan pengetahuan rasional, tetapi dengan kebeningan hati dan keteguhan dalam mengikuti syariat.
• Kasyaf Ilahi (Rahmani)
Kasyaf ilahi adalah penyingkapan hijab batin sebagai karunia Allah kepada hamba-Nya yang ikhlas dan jujur dalam suluk, hingga ia menyaksikan hakikat ciptaan dan keagungan Sang Pencipta.
Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata:
الكَشْفُ نُورٌ يُقْذَفُ فِي القَلْبِ، يَنْكَشِفُ بِهِ حَقِيقَةُ الأُمُورِ.
“Kasyaf adalah cahaya yang dilemparkan ke dalam hati, dengan cahaya itu tersingkaplah hakikat segala sesuatu.”
(Ihya’ Ulum ad-Din, Juz 3, Kitab al-‘Ilm)
Para sufi menegaskan bahwa kasyaf sejati lahir dari amal dan mujahadah, namun hasil akhirnya tetap merupakan anugerah (mawhibah) dari Allah, bukan semata hasil usaha manusia (kasb).
Sebagaimana Syaikh Abd al-Karim al-Jili menegaskan dalam al-Insan al-Kamil:
وَلَا يُكْشَفُ السِّتْرُ إِلَّا بِنُورِ الْفَضْلِ، لَا بِنُورِ الْعَمَلِ.
“Hijab tidak akan tersingkap kecuali dengan cahaya karunia, bukan semata cahaya amal.”
Artinya, dzikir, riyadah, dan latihan ruhani adalah sarana penyucian hati, namun penyingkapan hanya terjadi bila Allah berkehendak.
• Ciri-ciri kasyaf ilahi:
Menumbuhkan rasa takut dan malu kepada Allah.
Membuat hati semakin tunduk kepada syariat.
Menghasilkan ketenangan, kasih sayang, dan kerendahan hati.
Ibn Atha’illah as-Sakandari dalam al-Hikam menulis:
إِذَا فُتِحَ لَكَ وَجْهٌ مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهُ إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ، فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهُ لَكَ إِلَّا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ.
“Jika Allah membukakan bagimu pintu pengenalan (ma‘rifah), maka jangan khawatir bila amalmu sedikit. Sesungguhnya Dia tidak membukakan pintu itu kecuali karena Dia ingin memperkenalkan Diri-Nya kepadamu.”
“Sebaliknya, tidak semua penyingkapan berasal dari cahaya Ilahi. Ada pula yang muncul dari kegelapan hawa nafsu dan tipu daya setan, sebagaimana diperingatkan oleh para ulama.”
• Kasyaf Syaitoni (atau Khayali)
Selain kasyaf yang datang dari Allah, para ulama juga memperingatkan adanya kasyaf palsu yang berasal dari bisikan jin, hawa nafsu, atau setan.
Syaikh Abu Nashr as-Sarraj menulis dalam al-Luma‘:
وَرُبَّ كَشْفٍ يَكُونُ اسْتِدْرَاجًا وَتَمْوِيهًا مِنَ الشَّيْطَانِ، فَيَغْتَرُّ بِهِ صَاحِبُهُ.
“Terkadang kasyaf hanyalah istidraj (tipuan bertahap) dan penyesatan dari setan, hingga pelakunya tertipu olehnya.”
(al-Luma‘, hlm. 415)
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah juga memperingatkan:
لَوْ كُشِفَ الغِطَاءُ لَوُجِدَ أَكْثَرُ النُّفُوسِ البَشَرِيَّةِ صَرْعَى مَعَ هَذِهِ الأَرْوَاحِ الخَبِيثَةِ، وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ.
“Seandainya tabir dibuka, niscaya akan tampak bahwa kebanyakan jiwa manusia tunduk dan terperdaya oleh makhluk-makhluk halus yang jahat, sedang mereka tidak menyadarinya.”
(Zad al-Ma‘ad, Juz 4, hlm. 64)
“Untuk membedakan antara keduanya, para ulama memberikan tanda-tanda berikut:”
• Kasyaf Illahi.
Sumber: Anugerah dari Allah, lahir melalui penyucian jiwa (tazkiyah) dan kesungguhan spiritual (mujahadah).
Buah spiritual: Menumbuhkan rasa takut kepada Allah, rendah hati, dan tunduk kepada kebenaran.
Isi pengalaman: Ilham atau penyingkapan makna batin yang meneguhkan iman dan memperindah amal.
Kesesuaian syariat: Sepenuhnya selaras dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Sikap penerima: Menyembunyikan nikmat, tidak mengaku-aku, dan menjaga keikhlasan.
Hasil akhir: Ma‘rifah (pengenalan sejati kepada Allah), ketenangan batin, dan limpahan rahmat.
• Kasyaf Syaitoni
Sumber: Bisikan setan dan dorongan hawa nafsu.
Buah spiritual: Menimbulkan rasa bangga, kagum pada diri sendiri, dan merasa istimewa.
Isi pengalaman: Penglihatan atau pengetahuan tentang hal-hal ghaib yang menumbuhkan rasa takjub dan ujub.
Kesesuaian Syariat: Bertentangan dengan ajaran agama dan dapat menyesatkan akidah.
Sikap penerima: Ingin dipuji, mencari pengakuan, dan membanggakan keistimewaan diri.
Hasil akhir: Fitnah, kesesatan, dan kesombongan spiritual.
“Salah satu bentuk paling berbahaya dari kasyaf syaitoni ialah istidraj, yakni pemberian kemampuan luar biasa kepada seorang hamba yang sebenarnya sedang dijauhkan dari Allah.”
• Istidraj
Makna: Pemberian kemampuan, kenikmatan, atau “keajaiban” kepada seseorang, padahal ia berada dalam kemaksiatan, sehingga ia semakin jauh dari Allah tanpa disadari.
Ciri-ciri: Tampak seperti karamah, tetapi membuat hati lalai, merasa hebat, dan meninggalkan ketaatan.
Tujuan Ilahi: Ujian dan bentuk hukuman tersembunyi bagi orang yang tertipu oleh dirinya sendiri. Allah memberi mereka kelapangan dan kemampuan yang tampak luar biasa, padahal hal itu adalah jalan lembut menuju kebinasaan.
Bukan karena Allah menzalimi, tetapi karena manusia menolak peringatan dan terbuai oleh karunia yang seharusnya menjadi ujian.
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
فَإِنَّا نَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka sesungguhnya Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.”
(QS. Al-A‘raf: 182)
Imam Jalaluddin Asy-Suyuthi dalam Tafsir al-Jalalayn menjelaskan makna zahir ayat ini:
أي نُمْهِلُهُم وَنُقَرِّبُهُمْ إِلَى الْهَلَاكِ دَرَجَةً بَعْدَ دَرَجَةٍ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ.
“Yakni Kami beri mereka kelonggaran dan Kami dekati mereka menuju kebinasaan sedikit demi sedikit, dari arah yang tidak mereka rasakan.”
(Tafsir al-Jalalayn, Surah al-A‘raf: 182)
• Nasihat Para Ulama
Imam al-Junayd al-Baghdadi berkata:
الطُّرُقُ كُلُّهَا مُسْدُودَةٌ عَلَى الخَلْقِ إِلَّا مَنْ اقْتَفَى أَثَرَ الرَّسُولِ ﷺ.
“Segala jalan menuju Allah tertutup bagi manusia, kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ.”
(ar-Risalah al-Qusyairiyyah)
Karena itu, siapa pun yang memperoleh kasyaf tetapi tidak tunduk pada syariat, maka kasyafnya tidak sahih, bahkan bisa jadi berasal dari setan yang memperdaya.
Ibn Atha’illah juga berpesan:
فَلَا تُغْتَرَّ بِمَا يُظْهِرُ عَلَيْكَ مِنَ الأَنْوَارِ، فَرُبَّ نُورٍ أُضِيءَ عَلَيْكَ فِي البِدَايَةِ وَكَانَ فِيهِ مَكْرٌ.
“Janganlah tertipu oleh cahaya-cahaya yang tampak padamu, sebab bisa jadi cahaya di permulaan itu justru mengandung tipu daya.”
(al-Hikam al-‘Atha’illah)
• Penutup
Para ulama menegaskan bahwa kasyaf bukan ukuran kewalian.
Kewalian diukur dengan ketakwaan dan ketaatan kepada syariat.
Kasyaf sejati menumbuhkan khauf, khusyuk, dan tawadhu’, sedangkan kasyaf palsu menumbuhkan rasa bangga dan ujub.
Wallahu a'lam bishawab.
• Sumber: Kisah kramat Wali Wali Allah

𝐒𝐀𝐘𝐘𝐈𝐃𝐀𝐇 𝐑𝐀𝐁𝐈'𝐀𝐇 𝐀𝐋-𝐀𝐃𝐀𝐖𝐈𝐘𝐀𝐇❞

  ❝𝐓𝐎𝐊𝐎𝐇 𝐒𝐔𝐅𝐈, 𝐊𝐈𝐒𝐀𝐇 𝐒𝐀𝐘𝐘𝐈𝐃𝐀𝐇 𝐑𝐀𝐁𝐈'𝐀𝐇 𝐀𝐋-𝐀𝐃𝐀𝐖𝐈𝐘𝐀𝐇❞ 𝐓𝐎𝐊𝐎𝐇 𝐖𝐀𝐍𝐈𝐓𝐀 𝐒𝐔𝐅𝐈... 𝐖𝐀𝐋𝐈 ...